Coffee, Wine, Cotton, & Bread

Danang Pramudya’s journey – It is life indeed

Posts Tagged ‘Pusan’

benar-benar FIKSI dalam FIKSI

Posted by Danang Pramudya on June 23, 2008

[INTERMEZO: Okey, ini bukan karena teman saya Arta mendorong saya untuk terus memperbanyak review film di blog saya, tapi memang karena saya berkewajiban mereview film Indonesia well made yang satu ini. Tapi karena teman saya yang satu itu kebetulan menyemangati saya untuk menulis, saya malah tambah semangat nih...]

Well, seperti biasa, saya nonton film ini dengan my partner in crime, Ajeng (karna dia memaksa saya menonton film-nya ini). Pertama kali diajak Ajeng nonton film ini (btw kita janjian nonton film ini dah lama bo! Dah dari 2 minggu sebelum puter di bioskop), saya sebenarnya oke-oke aja, meski agak pesimis dengan film-film Indonesia. Tapi ketika saya melihat mini poster-nya di 21 cineplex dot com, mata saya langsung tertuju pada lambang festival yang menempel di posternya. Wah, kok tulisannya seperti terbaca PUSAN??? Akhirnya dengan rasa penasaran yang menggebu saya langsung mencari poster dengan size yang lebih besar lewat Om Google.

And, that’s right!! PUSAN Official Selection! Ouch!! This must be a great movie, since it is selected in PUSAN. Perlu diketahui, PUSAN International Film Festival adalah Festival Film terbesar se-Asia (bahkan salah satu terelit di dunia). Kata orang ini Cannes Film Festival-nya Asia. Film-film yang masuk pasti yang kualitas dunia lah.

Janjian nonton di Citos sama Ajeng. Ketemuan pukul 17.00. Tapi dia membuat saya menunggu sampai pukul 17.50. Dengan tidak mengesampingkan perjuangan dia sampai Citos, well, dasar cewek! Namun di Citos udah nggak main lagi ternyata nih film. Pindahlah kami berdua ke PIM.

Tema Psikopat

Di tengah ramainya film horor dan film bertema seks di Indonesia akhir-akhir ini, film Fiksi saya anggap berhasil menggabungkan 2 tema tersebut ke dalamnya. Tapi kalo untuk horor, yaaah, nggak terlalu horor-horor banget sih. Untuk seks, oke laaah! Well, it’s all about a psycho girl actually. Menyeramkan! Akting Ladya Cheryl benar-benar nampol. Saking nampolnya, sampe hapal saya, gaya bicaranya (tadi sudah sempat dipraktekkan di perjalanan pulang bareng Ajeng, tapi kata dia gaya saya kayak kuntilanak).

Ceritanya adalah perjalanan hidup seorang anak jenderal yang punya masa lalu yang kelam karena melihat dengan mata kepala sendiri ibunya mati bunuh diri. Si anak jenderal yang bernama Alisa ini akhirnya tumbuh menjadi anak yang skeptis dan aneh. Bahkan bayangan akan ibunya selalu muncul setiap saat. Dalam perjalanannya ia kabur dari rumah untuk hidup sendiri di rumah susun, tempat lelaki yang dia sukai (diperankan oleh Donny Alamsyah), bernama Bari, seorang penulis, tinggal bersama pasangan kumpul kebonya, Renta (Kinaryosih).

Saat hidup di rumah susun itu, Alisa diperkenalkan oleh Bari pada karakter-karakter penghuni rumah susun itu, dari lantai 1 sampai lantai 9 (yang dihuni oleh hantu). Nah, ada beberapa karakter yang dipilih oleh Bari untuk menjadi bahan cerita yang ia tulis. Intinya ada 3 karakter. Yang pertama adalah karakter Dani, seorang anak muda, namun gay, yang sering dikunjungi pasangannya, yang ternyata adalah Ayah tirinya. Yang kedua adalah karakter Bu Dirah, seorang wanita baya yang hidup bersama kucing-kucingnya dan tidak pernah keluar kamar, kecuali pas buang sampah. Karakter yang terakhir adalah karakter seorang tua renta yang sudah lima tahun tinggal di koridor rumah susun, dan tidak akan pernah mau masuk ke rumahnya karena masalah gengsi.

Masalah utama yang dihadapi Bari, adalah bahwa dia bingung untuk membuat akhir cerita-ceritanya. Kedatangan Alisa membuat semua itu berubah dengan memberikan akhir dari ketiga kisah tadi. Kontan saja saya teringat film American Beauty yang fenomenal, ketika Alisa membantu merancang akhir kisah pasangan gay. Ibu kandung Dani datang ke rumah susun dan menembak Rudi (suaminya, sekaligus ayah tiri Dani, sekaligus pasangan Dani) sampai mati di depan Dani. Dan kisah-kisah tragis pada kedua karakter yang lain membuat batasan samar antara fiksi dan realita pada kisah-kisah yang ditulis Bari.

Cerita Cerdas, Penyutradaraan Oke, Artistik Beautiful, Sound Dahsyat!

Bukan Joko Anwar namanya kalau cerita pada film yang ia garap hanya sekadar kacangan. Jalan cerita yang mengalir (yang membuat penonton terhanyut dari mata air di gunung sampai muara Bengawan Solo), sampai dialog-dialog puitis nan cerdas dan idealis. He is absolutely the best scriptwriter in Indonesia. Dan bukan Joko Anwar juga kalau pada cerita-cerita yang ia buat tidak ada satu aja karakter gay, atau tema tentang gay. He is absolutely gay! Wakakakak (just kidding).

Ada satu dialog dalam film ini yang saya sangat ingat sampai saat ini.

Alisa: Kamu gay?

Gay person: Oh, no, I’m not! But my penis is!

That’s so terribly funny! Well, cerdas juga sih saya akui. Selain dalam dialog, Joko juga bisa mendeskripsikan dalam aksi. Misalnya saat Alisa sedang dipeluk Bari, tiba-tiba tangan Alisa merambah-rambah ke penis Bari. Ouchh!!! Sangat mengena. Tapi, emang dasar lelaki! Dapet rangsangan dikit gitu aja ga bisa nahan!

Tidak lengkap juga kalau belum memuji sang sutradara. Mouly Surya, belum pernah dengar saya nama itu di rimba perfilman Indonesia. Tampaknya seorang pendatang baru. Tapi, karyanya yang satu ini brilian abis. Artistiknya perfect, wardrobe buat tokoh Alisa itu lho. Lucu! Menggambarkan kontradiksi karakter. Bikin tokoh itu jadi punya gereget. Gambarnya juga beautiful. Sayang dibuat pake HDV. Coba kalo pake seluloid, ah, pasti perfect!

Mungkin saya jaraaaaannng banget nonton film Indonesia dengan penataan suara yang sangat apik. Even Ayat-Ayat Cinta sekalipun. But, this is perfect! Dahsyat! Nampol banget kayak film Hollywood. 4 thumbs up buat Satrio Budiono dan Yusuf A. P., bersama penata musiknya Zeke Khaseli (pentolannya Zeke and the Popo). The music is brilliant.

A Silver Medal Dedication

Overall, ini adalah film yang sangat bagus dan rapi. Dan nggak berlebihan lah kalo nilainya adalah perak. And this is the best Indonesia movie in this year (temporary).

Posted in Film | Tagged: , , , , , , | 3 Comments »