My Favorite Movie of This Year (Temporary)
Kenapa? Karena saya nonton film ini 3 kali di bioskop. Terus nggak adil kalau saya nggak mereview film ini barang satu atau dua kata. Emmmh, at least pengalaman nonton yang ketiga pun masih begitu terasa menggigit. meskipun sudah 8 hari yang lalu terakhir kali saya nonton, namun baru sekarang saya sempat menulis sesuatu tentang The Narnia.
Terebutnya Tahta Sang Pangeran
Sequel Narnia kedua ini (meski di bukunya ini adalah buku ke-4), bercerita tentang Narnia 1300 tahun berlalu setelah kembalinya Raja-Raja dan Ratu-Ratu Narnia Lama (The Kings and The Queens of Old), which is Pevensie bersaudara (Peter, Susan, Edmund, Lucy), ke dunia asal mereka. Di Narnia kekuasaan mereka terguling oleh orang-orang Telmarine yang akhirnya melahirkan Raja Caspian. Saat ini, Pangeran Caspian sedang menunggu untuk di-mahkotai, karena ayahnya (Raja Caspian IX) telah meninggal dibunuh oleh pamannya, Lord Agung Sang Pelindung, Miraz. Namun kelahiran putra pamannya, membuat Lord Miraz juga merencanakan untuk membunuh Sang Pangeran. Sayang sekali, tidak berhasil.
Dengan bantuan gurunya, Caspian membunyikan terompet ajaib milik Ratu Susan. Serta merta terpanggillah kembali Pevensie bersaudara ke Narnia untuk membantu menyerahkan tahta Narnia kepada pewaris yang sah, Raja Caspian X (Sang Pangeran). Di sinilah awal mula petualangan Pangeran Caspian dan Pevensie bersaudara bersama The Narnians (para Centaurs, Dwarves, Minotaurs, Faun, Satyr, Hewan-hewan yang bisa berbicara) untuk merebut kembali tahta sebagai Raja Narnia, termasuk pula petualangan Lucy mencari Aslan yang ia harapkan bisa membantu mereka.
Romantisme ala The Lord of The Ring
Mungkin ada yang kangen film The LOTR? Menurut saya, film ini sedikit berimprovisasi ala LOTR dibandingkan film pertama, dengan permainan warna film dan tempo serta gaya bercerita. Saya yakin, teman-teman yang fans berat LOTR bakal terlepas rasa kerinduannya dengan film ini. Apalagi ada di bagian perang film ini yang menampilkan pohon-pohon besar yang hidup datang sebagai bala bantuan. Yang berbeda dengan LOTR adalah gaya penokohannya yang tergolong ringan, segar, dan tidak terlalu melankolis, beda dengan LOTR yang berat dan agak melankolis.
Shrek?
Ada yang ingat film Shrek? Kalau kita memperhatikan dengan jelas karakter tokoh Repicheep, seekor Tikus berbicara yang sekaligus sebagai Ksatria, pasti akan mengingatkan kita dengan karakter Puss In Boots di film Shrek. Kekonyolan dan sikap menjunjung kehormatan diri si Tikus benar-benar mirip sama Puss. Terang saja, Andrew Adamson yang menutradarai film ini juga terlibat sebagai produser dan sutradara Shrek 1&2. Andrew Adamson juga dikenal memiliki sebuah studio khusus untuk penciptaan efek visual yang cukup populer di Hollywood, yang di antaranya telah melahirkan efek visual film Shrek, Gladiator, War of The World, etc. Pengerjaan efek visual 2 sekuel Narnia juga dilakukan di studio miliknya ini.
Penyutradaraan dan Sinematografi yang Lebih Hidup dan Dewasa
Kalau ada yang merasa Narnia sebagai film anak-anak, saya sangat setuju. Setidaknya memang buku asli Narnia sendiri merupakan buku bacaan anak-anak. Dan juga film pertama sangat bergaya sebagai film keluarga. Tidak terlepas juga sekuel kedua ini. Namun Adamson sangat cerdik dengan tidak memakai lagi gaya penyutradaraan dan Sinematografi yang cenderung khusus untuk film keluarga seperti pada prequel-nya. Pada film ini, Adamson lebih menerapkan totalitas akting, komplikasi tempo, dan Sinematografi yang lebih dahsyat. Ditambah dengan usia pemerannya yang sudah tidak terlalu kanak-kanak (kecuali Lucy), menjadikan film ini terlihat lebih dewasa. Namun, dengan dialog-dialog yang ringan, renyah dan juga candaan segar, membuat film ini justru tidak menjadi berat dan masih mampu dinikmati anak-anak. Salah satu bukti kedewasaan filmografi adalah berubahnya rating dari PG pada sekuel pertama menjadi PG-13 di film ini.
Bagian yang paling berkesan buat saya adalah ketika di awal cerita, Pangeran Caspian mengendarai kuda dikejar oleh para prajurit Miraz. Saat itu angle yang diambil adalah melebar (wide), dengan pergerakan cepat kamera mendekati objek. Pengadeganan tersebut menjadi sempurna ketika didukung unsur pemandangan alam yang exciting dan score arrangement berjudul “Prince Caspian Flees” buah karya Harry-Gregson Williams yang melatari film ini. Adegan tersebut menjadi terlihat sangat megah dan penuh pesona. Selain itu, score pada film ini juga terdengar lebih dewasa dan membangun kualitas visualnya.
Visual Effect yang Makin Mulus
Tidak salah jika Andrew Adamson dikenal sebagai “New Spielberg” di kalangan Hollywood. Bukan hanya karena kapabilitasnya dalam mengembangkan dan menggunakan CGI, namun juga kualitasnya sebagai sorang sutradara secara utuh. Terbukti di film ini, efek visual yang dihadirkan semakin mulus dan mengagumkan. Misalnya pada bagian bangkitnya Dewa Air, karakter hewan-hewan yang bisa bicara, dan bagian perangnya. Namun ada satu kekurangan. Karakter Aslan kok semakin terlihat tidak natural ya seperti yang di prekuelnya? Apa karena tubuhnya yang semakin besar?
Medali Emas
Yap, pada akhirnya, keputusan saya memberikan medali emas pada film ini tidaklah dinilai berlebihan. Selain eksekusinya yang luar biasa, semua aspek pada film ini saya rasa telah memberikan yang terbaik. Sedikit sekali cacat yang saya temui pada film ini. Namun toh, ini pun hanya penilaian saya seorang. Yang belum nonton, ayo dong ditonton. Dijamin nggak bakal nyesel!










