Saya adalah salah satu orang yang merusak sinetron Indonesia saat ini, karena menulis sinetron-sinetron bodoh.
Jadi ceritanya, baru saja saya duduk ngobrol-ngobrol sama beberapa teman (kali ini angkatan 03 semua) di kantin. Ada salah satu topik hot yang kita bicarain tadi. Yakni tentang dunia sinetron Indonesia saat ini yang makin nggak karuan aja. Makin nggak karuan karena apa? Mari kita lihat apa yang terjadi sebenarnya.
Rantai Rating
Lagi-lagi masalahnya hanyalah rating. Bicara tentang rating TV, berarti bicara juga tentang pasar. Siapa pasar penonton televisi? Lebih tepatnya sinteron? Jawabannya adalah ibu-ibu dan pembantu yang udah nggak produktif dan nggak punya acara banyak. Jadi mereka di rumah, ya hiburannya cuma TV. Since they can’t afford to rent cable, terrestrial is the only choice. And since terrestrial TVs live only from the advertising, the TV rating is the money for the Advertiser company.
Jadi sebenarnya ini semua hanya sebuah rantai. Kayak gini nih bentuknya:
Ceritanya gini. Penonton kan nonton TV. Dari TV mereka bisa dapat hiburan. Hiburan adalah salah satu kebutuhan manusia. Bener kan? Btw, sampai sini masih nyambung ya.
Lalu stasiun TV menyediakan hiburan untuk penonton. Sinetron nih ceritanya yang paling laris. Ratingnya paling tinggi. Nah rating menentukan iklan. Jadi iklan biasanya memberikan syarat rating minimum buat stasiun TV pada program-program yang disponsori. Kalo nggak nyampe syarat minimum, biaya iklan dipenalti. Kerugian buat stasiun TV. Sekaligus tekanan juga buat stasiun TV.
Stasiun TV beli sinetron dari Production House (PH). Kalo rating bagus (at least memenuhi syarat minimum pengiklan), sinetron terus produksi. In case rating jeblok, stasiun TV menekan PH dengan ancaman cut episode. Tekanan buat PH.
PH merasa tertekan, mereka membalas menekan script writer sebagai pelampiasan. Mereka mengontrol jalan cerita. Script writer tambah kelabakan karena banyak revisi. Mau nggak mau karena tuntunan profesionalitas, mereka harus mengikuti tren pasaran dengan menulis adegan-adegan menjijikkan ala sinetron yang anehnya, penonton Indonesia suka. Masalahnya adalah tuntutan profesionalitas.
Jadi begitu saudara-saudara. Kalo kita lihat fakta di atas, ada 2 pihak yang paling bersalah menyebabkan bobroknya dunia serial TV di Indonesia. Pertama, PENONTON. Kedua, STASIUN TV.
Kenapa penonton? Karena mereka sangat bodoh menyukai tayangan-tayangan ala sinetron. Lalu kenapa Stasiun TV? Karena mereka memanjakan penonton dengan tayangan bodoh ala sinetron yang memperbodoh tanah air dan bangsa. PH dan script writer juga bersalah. Namun mereka hanya mengikuti tuntunan kemauan pasar. Meraka tidak berada dalam grade tertinggi terhadap kualitas sinetron jaman sekarang. Lalu solusinya bagaimana?
Solusi Gampang
Menurut hemat saya, harus ada reformasi pada stasiun-stasiun TV. Mereka harus merubah sistem dengan membeli serial full bundled, seperti gaya Amerika, Jepang, atau Amerika, dimana setiap judul sudah diproduksi sampai episode terakhir, sebelum judul tersebut ditayangkan di stasiun TV. Tidak seperti sistem kejar tayang kayak sekarang ini.
Kalo sistemnya seperti itu, saya yakin semua pasti sama-sama untung lah. Stasiun TV untung karena meskipun mereka membeli judul sinetron yang ratingnya tidak terlalu bagus, tapi mereka bisa tetap mendapat iklan sampai judul tersebut habis tayang (minimal untuk mengganti biaya membeli judul dari PH). PH juga dapet untung fix, mereka buat sinetron yang bagus, yang bisa diterima oleh semua lapisan. Script writer pun juga untung. Kerja mereka lebih santai, mood dapet, karya lebih bagus.
Begitu juga dengan penonton. Kalau sinetron-sinetron bagus nan cerdas yang terus dicekokin ke para penonton, mau nggak mau penonton pasti nerima lah. Dan yang lebih bagus lagi, penonton Indonesia bisa bakal lebih cerdas!!!!
Kenalkan, Saya Danang Pramudya. Di masa mendatang, saya akan memproduksi sinetron-sinetron berkualitas yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa.
HIDUP SINETRON INDONESIA DI MASA MENDATANG!!!


















