Coffee, Wine, Cotton, & Bread

Danang Pramudya’s journey – It is life indeed

Posts Tagged ‘iklan’

Kenalkan, Saya Danang Pramudya

Posted by Danang Pramudya on July 18, 2008

Saya adalah salah satu orang yang merusak sinetron Indonesia saat ini, karena menulis sinetron-sinetron bodoh.

Jadi ceritanya, baru saja saya duduk ngobrol-ngobrol sama beberapa teman (kali ini angkatan 03 semua) di kantin. Ada salah satu topik hot yang kita bicarain tadi. Yakni tentang dunia sinetron Indonesia saat ini yang makin nggak karuan aja. Makin nggak karuan karena apa? Mari kita lihat apa yang terjadi sebenarnya.

Rantai Rating

Lagi-lagi masalahnya hanyalah rating. Bicara tentang rating TV, berarti bicara juga tentang pasar. Siapa pasar penonton televisi? Lebih tepatnya sinteron? Jawabannya adalah ibu-ibu dan pembantu yang udah nggak produktif dan nggak punya acara banyak. Jadi mereka di rumah, ya hiburannya cuma TV. Since they can’t afford to rent cable, terrestrial is the only choice. And since terrestrial TVs live only from the advertising, the TV rating is the money for the Advertiser company.

Jadi sebenarnya ini semua hanya sebuah rantai. Kayak gini nih bentuknya:

Ceritanya gini. Penonton kan nonton TV. Dari TV mereka bisa dapat hiburan. Hiburan adalah salah satu kebutuhan manusia. Bener kan? Btw, sampai sini masih nyambung ya.

Lalu stasiun TV menyediakan hiburan untuk penonton. Sinetron nih ceritanya yang paling laris. Ratingnya paling tinggi. Nah rating menentukan iklan. Jadi iklan biasanya memberikan syarat rating minimum buat stasiun TV pada program-program yang disponsori. Kalo nggak nyampe syarat minimum, biaya iklan dipenalti. Kerugian buat stasiun TV. Sekaligus tekanan juga buat stasiun TV.

Stasiun TV beli sinetron dari Production House (PH). Kalo rating bagus (at least memenuhi syarat minimum pengiklan), sinetron terus produksi. In case rating jeblok, stasiun TV menekan PH dengan ancaman cut episode. Tekanan buat PH.

PH merasa tertekan, mereka membalas menekan script writer sebagai pelampiasan. Mereka mengontrol jalan cerita. Script writer tambah kelabakan karena banyak revisi. Mau nggak mau karena tuntunan profesionalitas, mereka harus mengikuti tren pasaran dengan menulis adegan-adegan menjijikkan ala sinetron yang anehnya, penonton Indonesia suka. Masalahnya adalah tuntutan profesionalitas.

Jadi begitu saudara-saudara. Kalo kita lihat fakta di atas, ada 2 pihak yang paling bersalah menyebabkan bobroknya dunia serial TV di Indonesia. Pertama, PENONTON. Kedua, STASIUN TV.

Kenapa penonton? Karena mereka sangat bodoh menyukai tayangan-tayangan ala sinetron. Lalu kenapa Stasiun TV? Karena mereka memanjakan penonton dengan tayangan bodoh ala sinetron yang memperbodoh tanah air dan bangsa. PH dan script writer juga bersalah. Namun mereka hanya mengikuti tuntunan kemauan pasar. Meraka tidak berada dalam grade tertinggi terhadap kualitas sinetron jaman sekarang. Lalu solusinya bagaimana?

Solusi Gampang

Menurut hemat saya, harus ada reformasi pada stasiun-stasiun TV. Mereka harus merubah sistem dengan membeli serial full bundled, seperti gaya Amerika, Jepang, atau Amerika, dimana setiap judul sudah diproduksi sampai episode terakhir, sebelum judul tersebut ditayangkan di stasiun TV. Tidak seperti sistem kejar tayang kayak sekarang ini.

Kalo sistemnya seperti itu, saya yakin semua pasti sama-sama untung lah. Stasiun TV untung karena meskipun mereka membeli judul sinetron yang ratingnya tidak terlalu bagus, tapi mereka bisa tetap mendapat iklan sampai judul tersebut habis tayang (minimal untuk mengganti biaya membeli judul dari PH). PH juga dapet untung fix, mereka buat sinetron yang bagus, yang bisa diterima oleh semua lapisan. Script writer pun juga untung. Kerja mereka lebih santai, mood dapet, karya lebih bagus.

Begitu juga dengan penonton. Kalau sinetron-sinetron bagus nan cerdas yang terus dicekokin ke para penonton, mau nggak mau penonton pasti nerima lah. Dan yang lebih bagus lagi, penonton Indonesia bisa bakal lebih cerdas!!!!

Kenalkan, Saya Danang Pramudya. Di masa mendatang, saya akan memproduksi sinetron-sinetron berkualitas yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa.

HIDUP SINETRON INDONESIA DI MASA MENDATANG!!!

Posted in Pemikiran | Tagged: , , , , , , , , , | 6 Comments »

Pari-Pari yang Bikin Capek!

Posted by Danang Pramudya on June 7, 2008

[INTERMEZO: Ok, saya akan berusaha belajar menulis dengan bahasa yang tidak terlalu formal. Latihan biar sinopsis-sinopsis yang saya buat tidak membuat mata lelah bagi yang membacanya]

Apa itu Pari-Pari?

Bagi yang baru denger, emang bukan salah kalian karena publikasi Pari-Pari belumlah seluas iklan-iklan di televisi. Bahkan jumlah orang yang udah nonton nih motion art bisa diitung pake jari tangan di tambah jari kaki.

Tapi apa itu Pari-Pari sebenarnya? Bikin penasaran nggak sih? Kayaknya nggak juga kali ya? Oke deh, saya langsung aja. Kalau pembaca yang budiman di seluruh tanah air berpikir ini ada kaitannya dengan ikan pari, atau ini adalah video dokumenter tentang kehidupan ikan pari di laut lepas, teman-teman salah besar! Video ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ikan Pari dan sahabat-sahabat setianya seperti ikan hiu, paus, apalagi ikan piranha, saudara tirinya yang tinggal di Amazon.

Pari-Pari adalah judul proyek video yang baru saja saya (dan tim saya tercinta) rampungkan untuk UAS mata kuliah Teknik Multimedia. Kata ini sendiri merupakan kependekan dari Parodi Pariwara Dalam Negeri. Dari judulnya udah jelas dong, apa konten dari video ini. Yap, tebakan anda tepat sekali! Isinya adalah jokes iklan yang kita pilih sendiri.

Berikut cuplikan screenshots-nya:

Proses Kreativitas Instan

Sebenernya, saya secara pribadi cukup menyayangkan karena proses pembuatan video ini masih jauh dari kata ideal. Kenapa? Karena pertama proses pembuatan naskah hanya dalam waktu kurang dari 3 jam. Naskah yang jadi langsung di-lock tanpa kong kalikong dengan anggota tim lebih dulu. Bahkan naskah yang sudah jadi langsung diberikan kepada casts tanpa proses casting yang ideal dan script conference yang harus dilakukan. Pemain-pemain langsung main tunjuk aja. Dan herannya, cukup sekali tunjuk. Kelima pemeran utamanya nggak ada satupun yang nolak. Waduh… Padahal saya sudah memperkirakan penolakan. Berhubung juga udah mau UAS. Salut-salut. Ternyata anak-anak Fasilkom saat ini sudah mulai banyak berubah.

[INTERMEZO: duh, bahasa gue mulai formal lagi nih. Gimana dunk???]

Namun ketika hasilnya sudah jadi, saya cukup puas karena nggak sejelek seperti yang saya banyangkan. Padahal saya sudah cukup pesimis. Apalagi 2 jam menjelang deadline, kita masih ngambil suara narator. Pokoknya serba instan deh. The utmost thanks to My God Almighty.

Dukungan Tim Produksi yang Solid dan Pantang Menyerah

Bayangkan jika di tim saya nggak ada orang yang bernama Roma Romansyah. Gila, saya salut banget sama orang ini. Bener-bener pantang menyerah. Ketika saya mengalami yang namanya titik kulminasi jenuh, di mana mood saya yang benar-benar jelek, kemudian timbul rasa pengen menunda pekerjaan, Roma dengan semangatnya terus mengajukan alternatif-alternatif solusi. And that’s it. Saya langsung bangkit lagi dan mengikuti saran-saran Roma. Akhirnya, target selesai syuting seperti yang telah direncanakan sebelumnya menjadi benar-benar terlaksana. Greating for him and us. Satu lagi anggota tim kami yang bernama Ivo Bahar Nugroho. Nih anak selalu muncul saat kami lagi bener-bener membutuhkan orang. Dan hasil kerjanya dengan flash bagus bener lho.

Selain Roma dan Ivo yang gokil banget semangatnya, ada juga Irene yang sangat tulus membantu, Iwit dan Linda yang nggak kecil juga perannya dalam membuat karya instan ini, dan yang paling nggak bisa dilupakan adalah Fynda, si serba bisa yang bantuannya di proyek ini nggak kehitung besarnya. Thanks ya Fyn!

Nah, mungkin ini keberuntungan. Tapi saya appreciate banget sama temen-temen pemain yang bener-bener udah rela mengorbankan waktunya syuting dari pagi sampe sore sampe jatah waktunya untuk belajar juga rela dikorbanin. Gokil nggak tuh? Anak Fasilkom ada yang kayak mereka???? Wah, salut! Thanks a bunch to Arta, si pria yang rajin pake body lotion, Mamaz (mudah-mudahan nggak ada di kehidupan nyata yang bakal mukul muka lo sampe kayak gitu), Obet (Maaf ya Bet, udah bikin lo sengsara lahir batin. Tapi please banget jangan kapok!!!), Hamjah, yang sok cool tapi keteknya basket dan bauket gara-gara pake Raxuna (hehehehe), dan Febrian, yang kisah cintanya sangat mengharukan. This 5 guys are so extraordinary gentlemen. Keep staying like this yah, guys!

Thanks a bunch juga buat para teman-teman yang tanpa ragu-ragu menerima ketika ditunjuk dan diminta jadi figuran. Asa, yang suaranya serak-serak oke, Lia yang goyangannya bikin Inul nggak pengen goyang ngebor lagi (hehehe), Zahra yang udah minjemin mobil sampe nunda waktu kepulangannya, Ating (tega lu ye mukul Mamaz sampe ungu kayak begono), Rizky yang mobilnya diubek-ubek sama Mamaz, Nur juga, Alfi (jangan salahkan saya ya, kalo orientasimu jadi berubah, kekekekek), Chita, si gadis yang luar biasa cantiknya, Si Mas Ganteng Ishak, dan yang terakhir Maleo yang luar biasa nervouz-nya. Semoga amal ibadah kalian di terima di sisinya (waduhhhh!!!). Bagi yang namanya belum disebut, thanks a bunch juga ya…

Akhir kata, proyek ini adalah proyek yang sangat menyenangkan dan menantang, sekaligus proyek pertama saya yang berhasil membuat seseorang (yang sangat kritis dengan karya-karya saya dan juga nggak pernah tertawa ketika saya berusaha nge-joke) menjadi tertawa terbahak-bahak. Thanks God! Ternyata saya salah duga kalau sense of humor saya nggak terlalu bagus. Karya ini mungkin bisa menjadi buktinya. Proyek yang bikin capek, tapi saya sangat puas! :)

Posted in Film, Jurnal Hari Ini | Tagged: , , , , , | 4 Comments »