Coffee, Wine, Cotton, & Bread

Danang Pramudya’s journey – It is life indeed

Posts Tagged ‘Film’

The Warmhearted Laskar Pelangi The Movie

Posted by Danang Pramudya on September 30, 2008

Kalau tadi pagi saya sudah mereview film Suami-Suami Takut Istri The Movie kali ini saya akan mereview satu film yang saya tonton minggu lalu. Bah, nggak usah disebutkan judulnya secara eksplisit, ngeliat posternya aja pasti udah familiar. Siapa sih yang belum nonton Laskar Pelangi. Hehe (apalagi judulnya jelas banget di gambar sebelah)..

Jujur, saya belum baca buku novel-nya, jadi sebenarnya saya agak takut-takut untuk mereview filmnya. Takut dibilang nggak nyambung. Tapi nggak apalah. Saya akan mencoba memandangnya murni dari sudut film saja. Asumsinya, ini adalah film non adaptasi.

Cerita Mendidik Tentang Pendidikan

Laskar Pelangi mengisahkan 10 orang anak yang bersekolah di sekolah yang hampir runtuh dan hanya memiliki Read the rest of this entry »

Posted in Film | Tagged: , , , , | 4 Comments »

Suami-Suami Binal The Movie

Posted by Danang Pramudya on September 30, 2008

Jadi ceritanya, adalah adik saya yang mengajak saya nonton film ini. Awalnya saya sempat “haaahhh”?? Why do you prefer this sucks movie rather than The Warmhearted Laskar Pelangi?. Tapi akhirnya saya mengerti ketika mengetahui bahwa dia adalah fans berat serial Suami-Suami Takut Istri.

Dan satu hal yang membuat saya ingin mereview film ini, bukan karena film ini terasa begitu spesial, namun ini adalah satu-satunya film yang pernah saya tonton yang membuat saya mengimpikan adegan-adegannya dalam tidur saya. Lalu, seberapa spesial-kah adegan-adegan dalam film ini, sampai saya termimpi-mimpi setelah nonton film ini? Read the rest of this entry »

Posted in Film | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

A Story to Be Adapted

Posted by Danang Pramudya on August 14, 2008

Well, udah lama saya nggak buka-buka blog. Bukan gara-gara Ibu saya berhasil menemukan blog ini di internet, terus meminta pertanggungjawaban atas semua hal yang saya tulis, tapi karena emang saya lagi males aja. Bukannya nggak ada topik-topik menarik untuk ditulis, tapi ngebuka facebook dan memainkan sejumlah aplikasinya jauh lebih menyenangkan daripada menulis blog. Hehehe..

Oke, setelah sekian lama, topik yang akan saya tulis di sini nggak akan jauh-jauh dari pekerjaan yang sedang saya lakukan. Saat ini, menit ini, detik ini, saya sedang berada di tengah-tengah waktu jenuh dalam mengembangkan sebuah novel ke dalam skenario FTV. Kebetulan PH dan Indosiar bekerja sama untuk mengadaptasi beberapa novel islami dari penerbit Hikmah (grup penerbit Mizan Publishing) dan ditayangkan selama bulan suci Ramadhan.

Dan novel yang saat ini sedang saya garap adalah buah karya penulis Sony Ade berjudul Cahaya-Cahaya Cintamu. Menurut saya novel ini adalah novel yang lumayan bagus. Yang bikin saya tertarik adalah ceritanya yang begitu personal buat saya. Pengalaman batin yang dialami si tokoh utama yang bernama Tony kerasa menyentuh. Saya bisa larut dalam empati tokoh ini karena mungkin pengalamannya mirip seperti yang sedang saya alami saat ini.

Novel ini bercerita tentang seorang mahasiswa tingkat akhir bernama Tony dengan prestasi akademis dan non akademis yang gemilang. Pada suatu kesempatan, ia berkenalan dengan mahasiswa baru bernama Adelia. Pertama kali melihat Adelia membuat Tony gelisah, karena ia mengingat mantan pacarnya bernama Ines, yang telah menyakiti hatinya dengan bertunangan dengan pria lain.

Bayang-bayang Ines kembali hadir di hati ketika Tony berharap dia sudah sembuh dari lukanya. Tony takut, ketertarikannya pada Adelia semata-mata karena dia mirip Ines. Tetapi tanya yang dulu belum terjawab kembali mengganggu Tony. Lalu, siapa sebenarnya pasangan sejati yang dipilihkan Allah untuk Tony?

That’s all… Saya berencana untuk menulis skenario dari novel ini dengan sepenuh hati. Mudah-mudahan jadinya tidak terlalu melankolik. Namun kok jadi pesimis sendiri ya? Rencananya sih saya ingin mengadopsi secara penuh sistem pembabakan (episode) yang ada di novelnya. Kalo divisualisasikan jadi mirip Kill Bill. Tapi bos nggak setuju. Lebih baik pake sistem flashback daripada pembabakan. Ya sudahlah, saya maklum. Kan untuk tontonan televisi….

Posted in Film, Jurnal Hari Ini | Tagged: , , , , , , | 3 Comments »

The Dark Knight: Who is The Real Hero?

Posted by Danang Pramudya on July 25, 2008

Mendengar review dari beberapa teman, termasuk juga melihat data The Numbers, The Dark Knight tiba-tiba berubah menjadi “a must see movie” saya bulan ini. Padahal sejak melihat trailer film ini beberapa bulan yang lalu, saya sangat optimis bahwa film ini bakal saya skip, karena alasan tidak mampunya saya menikmati prequel-nya, Batman Begins.

Beberapa teman bilang, “Nang, lo harus nonton nih film! Sumpah keren abis. Heath Ledger (alm), luarrr biasa.” Terus saya buka The Numbers dan menemukan fakta bahwa dalam 3 hari diputar di bioskop Amerika Utara, film ini meraup USD 158 M. Wow! Spectacular income!

Akhirnya muncul rasa penasaran saya yang sensasinya persis kayak orang yang mau buang air besar. Tiba-tiba dan harus segera dikeluarkan. Sama kayak rasa penasaran saya, tiba-tiba, dan harus segera dipuaskan. Well, akhirnya saya memaksa diri (meski dengan kondisi yang setengah fit), nonton film ini di Citos 21 Studio 1 (Studio favorit saya di Jakarta).

Datang dengan ekspektasi yang luar biasa pada film ini, adegan-adegan teaser The Dark Knight memunculkan decak kagum saya. Betapa licik, jenius, serakah, dan jahatnya tokoh Joker. Gosh, saya berfikir, bagaimana ya nanti cara Batman mengalahkan orang gila ini?

The Dark Knight bercerita tentang kelanjutan aksi musuh besar Batman, who is Joker, dalam tujuannya mencapai keadaan dunia yang chaos. Apapun ia lakukan demi kepuasan dirinya sendiri. Joker pun dalam tujuaannya ini melibatkan banyak pihak, yang satu demi satu mempreteli kebobrokan sosial kota Gotham, seperti sindikat mafia, polisi korup, pebisnis kotor melawan para penegak hukum kota Gotham. Dalam hal ini muncul tokoh bernama Harvey Dent, seorang jaksa wilayah yang dikenal sebagai hero of the city karena telah menjebloskan banyak koruptor dan mafia busuk ke dalam penjara.

Namun Joker muncul sebagai bukan hanya tokoh di balik layar, namun juga di depan layar. Ia merekayasa semua skenario pengkondisian yang membuat keadaan chaos terpenuhi. Dan sayangnya (a lil’ spoiler), ia berhasil menciptakan keadaan ini dengan begitu hebatnya, sampai semua orang di dalam studio mengangakan mulutnya lebar-lebar, saking kagumnya dengan situasi dan kejahatan yang diciptakan oleh Joker. Batman pun dibuat jungkir balik nggak karuan karena fokusnya terpecah either itu menghabisi Joker atau membebaskan wanita yang dicintainya, atau menyelematkan ratusan nyawa lain yang tidak bersalah.

Spectacular “ala Hollywood”

Kejahatan, kesadisan, kelicikan, dan ketidak manusiawian tokoh Joker dalam film ini tidak lepas dari kejeniusan kuartet penulis yang terdiri dari Nolan bersaudara (Christopher dan Jonathan), Bob Kane, dan David S. Goyer meramu alur cerita yang dahsyat yang mungkin bagi kebanyakan orang mampu membuat cinematic orgasmo. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya baru mendapat info dari IMDb, film ini berhasil menduduki peringkat pertama IMDB top 250 Movies, yang setelah puluhan tahun diduduki oleh The Godfather (1972). Well, well, congratulations.

Christopher Nolan (Memento (2000), Batman Begins, Insomnia) yang juga selaku sutradara ternyata mampu menghadirkan permainan sinematografi yang spektakuler yang mampu mebuat penonton tak berkedip. Grafik ketegangan yang naik turun memang sangat cocok diimplementasikan pada film ini mengingat durasinya yang cukup panjang (hampir 2,5 jam). Seolah-olah penderitaan empati yang dialami penonton benar-benar dipermainkan terus menerus tanpa henti seperti umunya di sinetron-sinetron Indonesia, kayak Cinta Fitri, dkk. Sampai-sampai saya nanya terus ke Adhe, teman saya, “belom abis, Dhe?” pada setiap film ini mencapai anti klimaks. Setiap kali ada kejadian klimaks dan diselesaikan pasti ada terus kelanjutannya. Saya lantas berfikir, “Nggak mati-mati nih si Batman, kan kalo dia mati, filmnya abis.” But overall, how spectacular the script is… How could they make the plot like this? I wish I could write in the same level.

Pesan Moral Tentang Kepahlawanan

Satu pertanyaan saya dalam film ini. Siapakah pahlawan sejati kota Gotham? Sosok manusia kelelawar yang aslinya adalah seorang milyuner ego sentris maniak wanita, atau Harvey Dent sang Jaksa wilayah, atau bisa juga dimasukkan Letnan Gordon yang total mati-matian berusaha menyelamatkan kota Gotham dari segala sepak terjang kriminal.

Atau bahkan karakter Joker bisa disebut sebagai pahlawan karena telah memporak-porandakan aktivitas mafia busuk dan menunjukkan kebobrokan politik kota Gotham yang tercermin dari banyaknya polisi yang korup, pebisnis dan politisi kotor. Tapi saya tidak setuju kalau dia disebut pahlawan, karena tujuannya adalah menciptakan situasi yang chaos dengan semua unsur baik hitam atau putih termasuk di dalamnya. Tapi di atas segalanya, tampaknya film ini seperti lebih tentang Joker daripada Batman. Bahkan saya sempat mengira bahwa The Dark Knight itu Joker lho. Hmm..

Lagi-lagi penonton diarahkan untuk cenderung memilih Batman sebagai pahlawan buat mereka (bukan buat kota Gotham), karena banyaknya pengorbanan yang ia lakukan (termasuk membuat dirinya sendiri terasa seperti pecundang ketimbang pahlawan).

Patut Mendapat Banyak Award

Tentu film ini sangat patut mendapat banyak award, dengan kualitas di dalamnya yang hampir seluruhnya mempesona. Penonton pertama kali yang memberi award karena dengan gegap gempita membuat PH untung puluhan juta dollar sejak 3 hari pertama film ini rilis. Lalu selanjutnya saya setuju dengan pendapat teman saya yang mengatakan bahwa (alm) Heath Ledger panats mendapatkan Oscar atas penampilan briliannya.

Golden Award from me to this movie.

Posted in Film | Tagged: , , , , , , | 2 Comments »

Film Silat ala Asia Timur

Posted by Danang Pramudya on July 21, 2008

Entah kenapa saya doyan banget nonton film-film silat kolosal dari Asia Timur, entah itu dari Jepang, Cina, Taiwan, Hongkong, Korea. Pokoknya film-film itu selalu berkesan buat saya.

Inget dulu pas masih kecil (sekitar 8-10 tahun), kalo ke bioskop, pasti yang dicari film silat Cina. Entah apa judulnya Holly Sowrds, Swordsman, Three Swordsmen, Drunken Master, Fong Sai Yuk, Once Upon A Time in China, etc. Dari situ saya kenal sama Andy Lau, Jet Li, Brigette Lins, dll. Kalo pas nonton film itu, dalam hati saya selalu berdecak kagum dan membatin, “Gila, keren banget! Aku juga mau bisa terbang kayak begitu!”

Sampai sekarang pun saya masih senang nonton film silat kolosal ala Asia Timur. Sekarang Cina udah bisa bikin film yang super duper keren dibanding keluaran Hongkong yang dari hari ke hari makin cupu aja produksinya (eg: Kungfu Dunk!). Korea belum lama ini ngeluarin The Restless. Baru sempat saya tonton kemaren DVD-nya, setelah sejak 3 bulan yang lalu saya menaruh DVD tersebut di kotak “Watch ASAP!” milik saya.

Ciri khas film silat kolosal ala Asia Timur, melankolik, namun menegangkan kalo udah beradu pedang. Nggak ada satupun film Hollywood yang bisa nandingin the art of duel dari film-film Asia Timur. Apalagi kalo dibandingin ama Wiro Sableng atau Legenda Gunung Merapi produksi dalam negeri. Ya ampuuuunnn… Males banget!

Terus judul lain yang cukup berkesan buat saya adalah “The Curse of Golden Flower” arahan sutradara Cina legendaris, Zhang Yimou. Arghh… Saya mengalami cinematic orgasm pas nonton film ini. Meski saya juga tidak meremehkan karya fenomenal Ang Lee, “Crouching Tiger, Hidden Dragon”.

Lagi-lagi pertanyaan klasik buat bangsa kita, mampukah kita memproduksi film silat kolosal dengan kualitas yang nggak kalah keren dengan film-film Cina? Lha wong, Korsel aja udah sukses buat The Restless yang nggak kalah keren dengan ciri khas Korea yang sama sekali nggak luntur. Indonesia bisa nggak? Materi kita kan banyak sebenernya… Hmmm. Think about it!!

Posted in Film | Tagged: , , , , , , | 3 Comments »

Waiting For HELLBOY II: The Golden Army

Posted by Danang Pramudya on July 11, 2008

Hah! Hari ini nih film udah main di Amrik. Wish it good luck! Tapi kapan ya di Indonesia? Duh, mudah-mudahan besok udah midnight. Saya pengen nonton ah besok kalo beneran dah midnight. Oh ya, tapi kan besok rencananya mau ke closing PRJ. Waduh, so much agenda tomorrow.

Anyway, I love HellBoy. Apalagi sama sutradaranya. Siapa sih yang nggak kenal Guillermo Del Toro (Hell Boy, Blade II, Pan’s Labyrinth, The Orphanage (Producer))? Dia membuat film fiksi superhero dan fantasi menjadi sangat artistik. Ditambah duet mautnya dengan DOP top Guillermo Navarro (Stuart Little, From Dusk Til Down, Hell Boy, Spy Kids, Pan’s Labyrinth), pasangan ini selalu menghadirkan film dengan gambar-gambar yang luar biasa. Selain itu Del Toro juga mampu membuat superhero genre Hollywood crap menjadi film dengan artistik yang cukup menjanjikan.

Apa yang saya suka dari HellBoy? Berikut list-nya:

  • Sutradaranya, Guillermo Del Torro.
  • Karakter si Red (HellBoy). Dia paling sering ngomong, “Owh! Crap!” It feels cool when he said it. Selain itu nih karakter saya banget! Cuek abis! Namun a very good and loyal lover, hahaha!
  • Konflik identitas si Red. Dia ini sebenernya adalah setan/iblis jahanam yang kalo gambaran ala Amrik-nya seluruh badannya berwarna merah, punya tanduk dan buntut. Namun dia tidak memilih kejahanaman sebagai jalan hidupnya. Otherwise, dia memilih untuk menjadi superhero.
  • Karakter si Abe. Emh, cool dan asik banget. I wish I have his ability.
  • Story-nya. Dramatic, intense, thrilling, and exciting.
  • Artistiknya. Amazing!
  • Cinematography? Boleh lah!

That’s all! Pengen nonton, pengen nonton, pengen nonton!!!

Berikut adalah kutipan dari KapanLagi.com:

KapanLagi.com – Pemain: Ron Perlman, Selma Blair, Doug Jones, James Dodd, John Alexander, Luke Goss, Thomas Kretschmann

Pintu gerbang neraka telah dibuka dan mahluk-mahluk penghuninya yang lama tertidur pun siap keluar untuk menguasai bumi. Kehancuran tak lagi dapat dihindarkan.

Satu-satunya harapan bagi keselamatan bumi hanyalah Hellboy. Hellboy sebenarnya adalah penghuni ’sisi lain’ yang terdampar di bumi dan akhirnya menjadi bagian dari BPRD (Bureau for Paranormal Research and Defense). Biro ini secara rahasia menjadi satu sektor pertahanan Amerika dari sisi paranormal. Namun dengan adanya serangan ini, FBI terpaksa harus mengakui keberadaan BPRD.

Mampukah Hellboy dan BPRD mengalahkan Sang Pangeran yang berusaha membangkitkan Pasukan Emas milik ayahnya untuk menguasai bumi?

Film besutan sutradara Guillermo del Toro yang mengambil lokasi pengambilan gambar di berbagai tempat di Eropa ini akan dirilis Universal Pictures Juli mendatang. (kpl/roc)

Posted in Film | Tagged: , , , , , , , , | Leave a Comment »

About John Hancock

Posted by Danang Pramudya on July 7, 2008

[INTERMEZZO ON]

[11:36] Dirga: boy nonton hancock yuk bareng anak2
[11:36] danang.pramudya: anak2 siapa?
[11:37] danang.pramudya: anak2 siapa????????
[11:37] Dirga: 2003 lah
[11:37] Dirga: itu loh yang di milis
[11:37] danang.pramudya: ah
[11:37] danang.pramudya: males
[11:37] Dirga: knp bro?
[11:37] danang.pramudya: gw dah 2 kali ntn
[11:37] Dirga: halaaaah pantesan
[11:37] danang.pramudya: dalam 2 hari beruntun
[11:38] Dirga: pasti deh kalo uda gk nonton
[11:38] Dirga: pasti uda nonton :)
[11:38] Dirga: gak lucu loh
[11:38] danang.pramudya: bagus lho
[11:38] Dirga: iya tau
[11:38] danang.pramudya: ntn aja gih sono
[11:38] danang.pramudya: bagus banget
[11:38] Dirga: makannya pengen nonton
[11:38] danang.pramudya: maka-nya
[11:38] danang.pramudya: bukan makan-nya
[11:38] Dirga: harapannya tugas anum beres 2 hari ini
[11:38] Dirga: KP tinggal sidang
[11:38] danang.pramudya: emg kpn ntnnya???
[11:38] Dirga: jadi mo have fun
[11:39] Dirga: blum tau tuh
[11:39] Dirga: waktunya belum jelas

[INTERMEZZO OFF]

Pada setuju nggak kalo Hancock saya sebut sebagai film bergenre superhero paling well made yang pernah dibuat Hollywood? Kalo menurut saya sih sangat setuju. Saya aja sampai rela nonton 2 kali gitu lho. What a perfect movie after all…

Setidaknya, denger dari orang-orang yang udah nonton nih film semuanya bilang bagus kecuali si Gembrot. Heran nih orang selalu berkebalikan ma saya. Kalo saya bilang film bagus, dia bilang jelek. Kalo saya bilang jelek, dia bilang bagus. Bodo ah!

The Very Fresh Superhero Story

Hancock jauh lebih segar dari film-film bergenre serupa. Karena banyak unsur fresh comedy-nya di dalam skenarionya. Ceritanya adalah tentang seorang berkekuatan super bernama John Hancock yang tidak tahu apapun mengenai identitas dirinya, menjalani hidup sebagai either superhero dan sampah masyarakat sekaligus. Dia memang menyelamatkan orang, tapi di satu sisi Hancock juga mempunyai kegemaran unik, menghancurkan benda-benda, mulai dari jalan aspal, tempat duduk, gedung-gedung bertingkat, papan tanda penunjuk jalan, kereta api, dan segala macam benda publik lainnya.

Selain kehidupannya sehari-hari sebagai gembel dan pemabuk, lengkaplah atribut Hancock sebagai sampah masyarakat dan dibenci semua orang. Keadaan yang kontras memang, selain profesi utamanya sebagai pahlawan kota Los Angeles.

Suatu hari dia menyelamatkan nyawa seorang agen PR terkenal di kota Los Angeles. Sebagai balas budi, Ray, nama pria ini, menjadi terobsesi untuk memperbaiki citra John Hancock sebagai sampah masyarakat. Well, dari sini sudah dapat diketahui kemana cerita ini akan berlanjut.

Namun konflik utama Hancock bukannya pada pertikaian dengan musuh besarnya, seperti pada film-film superhero lainnya, namun pertikaian dengan jati dirinya dan orang-orang tersayang yang pernah berada pada masa lalunya. Hal ini yang membuat Hancock menjadi film superhero paling dramatik, mengharukan, sekaligus paling segar yang pernah dibuat Hollywood.

The Very Humble Filming and Scenario

Bukan karakter Hancock-nya yang humble, tapi justru pada pengfilmannya. Dengan unsur komedi (tapi nggak slapstick) yang kental, ditambah alunan musik ala French humble drama movies, film ini jadi punya greget dan keistimewaan pada kesan yang dimunculkan. Peter Berg sebagai sutradara, saya nilai cukup jenius dalam menentukan style yang dipakai pada filming-nya. Ditambah juga dengan style fotografi ala shaking cam-nya.

Dengan tidak menepis atribut-atribut generik pada film-film superhero lainnya, okay, saya akui, banyak sekali pengadeganan ala superman, spiderman, or even x-men. Tapi tampaknya skenario film ini membungkusnya dengan nuansa keluguan dan ke-naifan dari Hancock sendiri. Seperti ketika Hancock harus mengucapkan kata “good job” kepada polisi-polisi yang bekerja sama dengannya. Jadi, hal-hal ala superhero yang menurut saya agak menggelikan pada film-film superhero lainnya, menjadi tidak berefek apa-apa pada film ini. What a good scenario, actually!

I Think It Should Be Gold Film

Overall, film ini oke punya lah. Skenario mantap, gambar boleh lah, musik asyik, akting amazing, dan pantes banget kalo film ini diganjar dengan medali emas…

Nice, Hancock, nice!

Posted in Film | Tagged: , , , , , , | 1 Comment »

benar-benar FIKSI dalam FIKSI

Posted by Danang Pramudya on June 23, 2008

[INTERMEZO: Okey, ini bukan karena teman saya Arta mendorong saya untuk terus memperbanyak review film di blog saya, tapi memang karena saya berkewajiban mereview film Indonesia well made yang satu ini. Tapi karena teman saya yang satu itu kebetulan menyemangati saya untuk menulis, saya malah tambah semangat nih...]

Well, seperti biasa, saya nonton film ini dengan my partner in crime, Ajeng (karna dia memaksa saya menonton film-nya ini). Pertama kali diajak Ajeng nonton film ini (btw kita janjian nonton film ini dah lama bo! Dah dari 2 minggu sebelum puter di bioskop), saya sebenarnya oke-oke aja, meski agak pesimis dengan film-film Indonesia. Tapi ketika saya melihat mini poster-nya di 21 cineplex dot com, mata saya langsung tertuju pada lambang festival yang menempel di posternya. Wah, kok tulisannya seperti terbaca PUSAN??? Akhirnya dengan rasa penasaran yang menggebu saya langsung mencari poster dengan size yang lebih besar lewat Om Google.

And, that’s right!! PUSAN Official Selection! Ouch!! This must be a great movie, since it is selected in PUSAN. Perlu diketahui, PUSAN International Film Festival adalah Festival Film terbesar se-Asia (bahkan salah satu terelit di dunia). Kata orang ini Cannes Film Festival-nya Asia. Film-film yang masuk pasti yang kualitas dunia lah.

Janjian nonton di Citos sama Ajeng. Ketemuan pukul 17.00. Tapi dia membuat saya menunggu sampai pukul 17.50. Dengan tidak mengesampingkan perjuangan dia sampai Citos, well, dasar cewek! Namun di Citos udah nggak main lagi ternyata nih film. Pindahlah kami berdua ke PIM.

Tema Psikopat

Di tengah ramainya film horor dan film bertema seks di Indonesia akhir-akhir ini, film Fiksi saya anggap berhasil menggabungkan 2 tema tersebut ke dalamnya. Tapi kalo untuk horor, yaaah, nggak terlalu horor-horor banget sih. Untuk seks, oke laaah! Well, it’s all about a psycho girl actually. Menyeramkan! Akting Ladya Cheryl benar-benar nampol. Saking nampolnya, sampe hapal saya, gaya bicaranya (tadi sudah sempat dipraktekkan di perjalanan pulang bareng Ajeng, tapi kata dia gaya saya kayak kuntilanak).

Ceritanya adalah perjalanan hidup seorang anak jenderal yang punya masa lalu yang kelam karena melihat dengan mata kepala sendiri ibunya mati bunuh diri. Si anak jenderal yang bernama Alisa ini akhirnya tumbuh menjadi anak yang skeptis dan aneh. Bahkan bayangan akan ibunya selalu muncul setiap saat. Dalam perjalanannya ia kabur dari rumah untuk hidup sendiri di rumah susun, tempat lelaki yang dia sukai (diperankan oleh Donny Alamsyah), bernama Bari, seorang penulis, tinggal bersama pasangan kumpul kebonya, Renta (Kinaryosih).

Saat hidup di rumah susun itu, Alisa diperkenalkan oleh Bari pada karakter-karakter penghuni rumah susun itu, dari lantai 1 sampai lantai 9 (yang dihuni oleh hantu). Nah, ada beberapa karakter yang dipilih oleh Bari untuk menjadi bahan cerita yang ia tulis. Intinya ada 3 karakter. Yang pertama adalah karakter Dani, seorang anak muda, namun gay, yang sering dikunjungi pasangannya, yang ternyata adalah Ayah tirinya. Yang kedua adalah karakter Bu Dirah, seorang wanita baya yang hidup bersama kucing-kucingnya dan tidak pernah keluar kamar, kecuali pas buang sampah. Karakter yang terakhir adalah karakter seorang tua renta yang sudah lima tahun tinggal di koridor rumah susun, dan tidak akan pernah mau masuk ke rumahnya karena masalah gengsi.

Masalah utama yang dihadapi Bari, adalah bahwa dia bingung untuk membuat akhir cerita-ceritanya. Kedatangan Alisa membuat semua itu berubah dengan memberikan akhir dari ketiga kisah tadi. Kontan saja saya teringat film American Beauty yang fenomenal, ketika Alisa membantu merancang akhir kisah pasangan gay. Ibu kandung Dani datang ke rumah susun dan menembak Rudi (suaminya, sekaligus ayah tiri Dani, sekaligus pasangan Dani) sampai mati di depan Dani. Dan kisah-kisah tragis pada kedua karakter yang lain membuat batasan samar antara fiksi dan realita pada kisah-kisah yang ditulis Bari.

Cerita Cerdas, Penyutradaraan Oke, Artistik Beautiful, Sound Dahsyat!

Bukan Joko Anwar namanya kalau cerita pada film yang ia garap hanya sekadar kacangan. Jalan cerita yang mengalir (yang membuat penonton terhanyut dari mata air di gunung sampai muara Bengawan Solo), sampai dialog-dialog puitis nan cerdas dan idealis. He is absolutely the best scriptwriter in Indonesia. Dan bukan Joko Anwar juga kalau pada cerita-cerita yang ia buat tidak ada satu aja karakter gay, atau tema tentang gay. He is absolutely gay! Wakakakak (just kidding).

Ada satu dialog dalam film ini yang saya sangat ingat sampai saat ini.

Alisa: Kamu gay?

Gay person: Oh, no, I’m not! But my penis is!

That’s so terribly funny! Well, cerdas juga sih saya akui. Selain dalam dialog, Joko juga bisa mendeskripsikan dalam aksi. Misalnya saat Alisa sedang dipeluk Bari, tiba-tiba tangan Alisa merambah-rambah ke penis Bari. Ouchh!!! Sangat mengena. Tapi, emang dasar lelaki! Dapet rangsangan dikit gitu aja ga bisa nahan!

Tidak lengkap juga kalau belum memuji sang sutradara. Mouly Surya, belum pernah dengar saya nama itu di rimba perfilman Indonesia. Tampaknya seorang pendatang baru. Tapi, karyanya yang satu ini brilian abis. Artistiknya perfect, wardrobe buat tokoh Alisa itu lho. Lucu! Menggambarkan kontradiksi karakter. Bikin tokoh itu jadi punya gereget. Gambarnya juga beautiful. Sayang dibuat pake HDV. Coba kalo pake seluloid, ah, pasti perfect!

Mungkin saya jaraaaaannng banget nonton film Indonesia dengan penataan suara yang sangat apik. Even Ayat-Ayat Cinta sekalipun. But, this is perfect! Dahsyat! Nampol banget kayak film Hollywood. 4 thumbs up buat Satrio Budiono dan Yusuf A. P., bersama penata musiknya Zeke Khaseli (pentolannya Zeke and the Popo). The music is brilliant.

A Silver Medal Dedication

Overall, ini adalah film yang sangat bagus dan rapi. Dan nggak berlebihan lah kalo nilainya adalah perak. And this is the best Indonesia movie in this year (temporary).

Posted in Film | Tagged: , , , , , , | 3 Comments »

Another Entertaining Movie from DreamWorks Animation SKG

Posted by Danang Pramudya on June 16, 2008

[INTERMEZO's started]

“Pintu teater satu telah dibuka. Bagi penonton yang telah memiliki tiket pertunjukan teater satu dipersilahakan memasuki pintu teater satu.”

Pukul setengah delapan kurang lima menit, saya bersama teman saya, Ajeng yang membawa keponakannya lagi mengantri memasuki pintu teater yang memang pada saat jam pertunjukan ini sangat penuh. Sebelum tiba-tiba Aldo, keponakan Ajeng yang masih berusia 4 tahun nyeletuk, “Buk Lik (baca: bule’), di dalem ada kamar mandinya ngga?”

Dengan penuh cinta kasih dan polosnya Ajeng menjawab, “Nggak ada sayang, tapi nanti kamu kalo mau pipis keluar lagi. Kamar mandinya di situ tuh (sambil menunjuk ke arah WC pria di lobby Hollywood KC yang klasik). Emang kenapa, Do?”

“Aldo pengen pup!”

Lagi-lagi Ajeng dengan polos bertanya balik, “kapan?”

Gubraakk!!! Ajeng, emang orang mau pup ada jadwalnya kayak jadwal pelm? Ck, ck, ck! Untung Aldo nggak ngejawab “Udah di ujung, buk lik”

Intinya, kita telat sekitar 10 menitan nonton Kungfu Panda karena mendadak naluri keibuan Ajeng muncul, dan dengan semangat menggebu-gebu Ajeng segera menyeret Aldo ke WC wanita untuk ditemani pup (Ajeng lupa bahwa dia membawa baby sitter Aldo). Since tiket dipegang Ajeng, saya juga terpaksa tidak menikmati film ini dari awal.

[INTERMEZO's ended]

Masuk ke studio diiringi dengan gelak tawa penonton yang udah duluan berada di dalam. Ajeng memang sengaja mengatur posisi duduk Ajeng-Danang-Aldo-Babysitter karena dia nggak mau duduk di sebelah Aldo pas nonton. Dan akhirnya saya tahu alasannya. Apa lagi kalau bukan gara-gara Aldo yang kenakalan dan kebawelannya mengingatkan saya sama sepupu saya bernama Diva yang pernah saya juluki “The Demon inside an Angel”

Ceritanya, Kungfu Panda ini mengisahkan karakter utama berbentuk Panda (walau ayahnya adalah sesosok burung bangau). Atau mungkin Po, Si Panda aslinya adalah burung bangau yang karena terlalu hobi makan sampai mengalami obesitas dan berubah menjadi seperti panda? Whatever.. Si Po ini adalah anak seorang pembuat mie yang bercita-cita menjadi ahli kungfu (baca: kangfu) terkenal. Tapi kayak biasalah, Hollywood craps, dari awal emang udah diset ada karakter yang pada awalnya skeptis menjadi tidak skeptis lagi, dan bahkan memberi petunjuk kepada tokoh utama.

Obsesi Po yang berniat menjadi ahli kungfu secara kebetulan terwujud ketika Oogway Master, menunjuk Po menjadi pendekar naga instead of jago-jago kungfu seperti tiger, crank, monkey, snake, atau mantis. Pendekar naga ini yang akan mengalahkan tokoh antagonis yang memiliki kekuatan kungfu sangat dahsyat. Bahkan gurunya sendiri, Master Shifu (murid Master Oogway, guru dari 5 pendekar) Hal tersebut hanya karena Po yang sudah dengan desperate pengen nonton penunjukan pendekar naga tidak bisa masuk ke dalam arena karena telat. Namun dengan berbagai daya upaya, dia berhasil masuk ke dalam arena bersamaan ketika Oogway Master hendak menunjuk Tiger sebagai pendekar naga. Jadi si Po ini muncul aja gitu ke depan muka Master Oogway.

Dari awal, Oogway sudah mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini. Semua memiliki jalan masing-masing. Dari sini kita udah tahu cerita ini bakal dibawa kemana. Ada satu quote yang berkesan buat saya, ketika Master Oogway berkata kepada Po, “Yesterday was history, tomorrow is mistery, but today is a gift. That’s why it’s called present (hadiah)”. Kemudian cerita berlanjut dengan petualangan Po mempelajari ilmu kungfu bersama guru Shifu dengan cemilan-cemilan ringan seperti momen-momen krisis kepercayaan diri, lalu akhirnya bisa kungfu, dan putus asa yang disusul seketika dengan momentum menemukan jawaban.

Made by Perfection

Sudah menjadi tabiat Dreamworks SKG (Spielberg, Katzenberg, Geffen) yang selalu menanamkan unsur perfection di dalam setiap karya mereka. Film ini pun juga dibuat dengan perfection of technical stuff yang bisa membuat siapapun amazed. Kualitas grafik yang menakjubkan, animasi 3D yang luar biasa mulusnya, bahkan penyutradaraan yang tidak setengah-setengah. That’s why produksi film animasi 3D selalu menghabiskan bujet minimal 150 juta USD.

Susah untuk Dicela

Tidak mudah memang mencari kelemahan dari pembuatan film-film Hollywood yang berasal dari dapur-dapur film beken. Apalagi Dreamworks yang sudah menghasilkan banyak karkater seperti Shrek misalnya. Yang jelas film ini menghibur, meski bukan untuk konsumsi balita, karena Aldo pun memaksakan dirinya untuk tertawa ketika seluruh penonton (termasuk saya), tertawa tergelak-gelak.

“Aduh, kocak banget ya filmnya” Aldo berseru dengan tone yang dipaksakan seperti anak kecil lagi dipalak preman yang baru keluar dari penjara Cipinang.

Ataukah memang film-film seperti ini sasaran pasarnya adalah remaja? Karena bahkan anak kecil pun merasakan kebosanan pas nonton ini. Yap, Dreamworks punya PR yang harus diselesaikan yakni bagaimana caranya menarik minat anak-anak untuk menikmati film-film kartunnya, dalam artian bagaimana caranya agar film ini dinikmati ceritanya, bukan hanya gambarnya oleh anak-anak kecil.

And it’s Bronze Quality

Karena film ini sudah berhasil menghibur saya, dan juga menanamkan petuah-petuah maut dari salah satu karakternya (Master Oogway), tidak adil kalau saya bilang film ini jelek. Tapi juga menurut saya nggak bagus-bagus amat. Ya sudah, medali perunggu kalau begitu. Congratulations!!!!

[INTERMEZO: Hati-hati jika mengajak anak kecil menonton film ini. Pastikan mereka sudah pup sebelum pergi ke bioskop. Selain berpotensi telat masuk studio, juga membuat kenikmatan anda menonton berkurang gara-gara anak kecil yang anda bawa, kentut dengan membabi buta di dalam studio]

Posted in Film | Tagged: , , , , , , , | 2 Comments »

Pengen Nih Buku! (Cinema Now)

Posted by Danang Pramudya on June 13, 2008

Jadi ceritanya kamis kemaren, saya sama si Hendrik pergi ke Plaza Indonesia dan EX buat nonton film M. Night Shyamalan yang baru, judulnya The Happening (Nanti saya buat reviewnya). Nah sebelum filmnya muter masih ada waktu tuh sejam-an. Terus kita ke ak.sa.ra aja ngeliat-liat CD, books, and others imported stuffs.

Sebelumnya saya sama Hendrik pernah ngeliat buku ini di ak.sa.ra Citos. Tapi sayangnya di Citos, bukunya kebungkus ama plastik. Jadinya baru kemaren saya ngeliat isinya. Begitu ngeliat isinya yang full colors saya langsung jatuh cinta sama nih buku. Judulnya “Cinema Now”. Sumpah keren banged.

Hehe, ada gambar Mami saya di cover-nya. Itu pasti diambil dari film Volver. Ada apa sih di dalemnya sampe ngebuat saya pengen banget memiliki buku ini. Sebenarnya isinya bukan buku panduan praktis bagaimana membuat film sih. Lebih seperti ensiklopedia tentang film-film yang pernah diputar di seluruh dunia, termasuk para pembuat filmnya. Bahkan Christine Hakim dan Tjoet Njak Dien-nya, serta Garin Nugroho dapet halaman sendiri.

Selain itu ada banyak ulasan (serta screenshot dalam angle terbaik) film-film paling keren yang pernah dibuat di seluruh dunia. Pas baca nih buku saya langsung horny (bukan karena melihat gambar-gambar vulgar pada film Perancis yang menampilkan adegan bersenggama dll), tapi saya horny untuk membuat karya yang nggak kalah spektakulernya dengan film-film yang diulas di buku ini. Saya mimpi suatu saat gambar saya dan film-film yang saya buat akan masuk di buku ini pada edisi ke berapaaa gitu.

Film-film dari Asia juga mendapat sorotan tertentu di buku ini, karena menurut buku ini sebenarnya banyak sekali sineas-sineas dari Asia yang memiliki kekuatan dan kapabilitas yang luar biasa (bahkan bisa dibilang terbaik di seluruh dunia) dari karya-karya yang mereka hasilkan. Sebut saja Ang Lee, Wong Kar Wai, dan Zhang Yimou. Belum lagi 2 sutradara asal Korea yang pernah menggemparkan dunia lewat film Gwoemul (The Host, 2006) oleh Joon-Ho Bong, dan Kim Ki Duk yang buat film Bin Jip (3-Iron, 2004). Tapi di antara para sineas tersebut, tetap Ang Lee dan Wong Kar Wai lah yang punya kelas bintang 6.

Aduh, saya benar-benar mengidam-idamkan buku ini. Bahkan sampe ngerengek ke Hendrik segala buat beliin saya buku ini kalau saya ulang tahun. Yaaah, tapi anda tahu sendiri lah gimana reaksi si Hendrik. Apalagi setelah melihat harga buku ini yang nilainya sama seperti uang makan dia satu bulan (600 rebu). Tapi siapapun yang berbaik hati berniat membelikan buku ini buat saya, akan saya terima dengan tangan terbuka (bukunya ya, bukan orangnya). Hehehe! Ah, pengen! Tapi nggak pengen beli sendiri.

Udah ah! Kebanyakan yang ditulis ntar malah tergoda buat beli sendiri!

Posted in Film, Jurnal Hari Ini | Tagged: , , , , , , , , , | 2 Comments »