Misalnya, di dompet kamu, kamu sangat yakin memiliki uang Rp 500.000,00. Lalu tiba-tiba kamu mendapati uang di dompet kamu tinggal Rp 100.500,00. Kamu pasti berfikir, uang kamu ada yang mengambil bukan? Memang sangat menyakitkan kehilangan uang sebanyak itu. Atau selain uang, barang kesayangan kita misalnya. Namun, bener nggak sih, akan lebih menyakitkan lagi kalau kita tahu siapa yang mengambil uang kita dan kita kenal orang itu. Apalagi kalau orang itu sangat dekat dengan kita. Read the rest of this entry »
Archive for the ‘Pemikiran’ Category
Kalau Kamu Kehilangan Barang
Posted by Danang Pramudya on July 4, 2009
Posted in Pemikiran | 3 Comments »
Lubang Waktu, Lubang Supranatural, atau Lubang Hitam (Blackhole)
Posted by Danang Pramudya on May 29, 2009
Pagi ini saya mengalami suatu peristiwa aneh. Suatu peristiwa yang sensasinya tidak dapat saya jelaskan dengan kata-kata. Namun saya akan jabarkan kronolgisnya. Mungkin teman-teman dapat memberikan komentar terhadap peristiwa yang tadi saya alami ini.
Sekitar pukul 08.30 WIB saya berangkat dari rumah menuju kampus UI Depok dengan menggunakan angkutan umum (angkot). Angkot yang saya naiki adalah KWK T15. Di perjalanan sampai depan Ramayana Cibubur, saya mendengar suara seorang ibu dan anak batita (berusia sekitar 2-3 tahunan) sedang berbicara. Saya melihat ke sekeliling dan seisi angkot, mengidentifikasi siapa anak dan ibu tersebut. Namun anehnya, saya nggak nemuin satu orangpun yang berciri-ciri sebagai seorang ibu dan anaknya. Beneran! Saya bingung, dari mana suara itu berasal? Sangat jelas di telinga seperti duduk di hadapan atau di samping saya. Seraya angkotnya jalan pun saya menoleh ke luar jendela. Tidak ada satupun objek yang mencirikan sumber suara tersebut.
Posted in Jurnal Hari Ini, Pemikiran | Tagged: blackhole, deja vu, indera keenam, lubang hitam, lubang waktu, supranatural | 3 Comments »
Lagu Kampanye Partai Golkar
Posted by Danang Pramudya on March 31, 2009
Kalau teman-teman baca judul artikel saya, lalu menelusuri isinya, jangan salah mengartikan bahwa saya sedang berkampanye atau pendukung partai ini. Golkar hanyalah kandidat pilihan saya pada pemilu 9 April 2009 nanti. Jujur saat ini saya masih bimbang harus memilih GOLKAR atau DEMOKRAT, karena keduanya saat ini adalah pilihan yang menarik. Apalagi sebentar lagi Pemilu. Waduh, makin bingung aja. Tapi yang jelas, untuk Presiden saya akan tetap memilih SBY. Hahahaha… Please laugh out loud with me or you just laugh at my choice.
Posted in Pemikiran | Tagged: Golkar, India.Arie, Lagu, Musik, Yellow | 2 Comments »
Taking A Chance
Posted by Danang Pramudya on October 6, 2008
Sebenarnya ada hal yang dapat kita pelajari saat kita menyebrang jalan. Bayangkan saat kita berada di pinggir jalan raya yang padat dengan kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Kita hendak menuju seberang jalan. Mungkin ada zebra cross atau mungkin juga tidak ada. Satu hal yang pasti adalah kendaraan bermotor cukup padat melaju dengan kecepatan yang lumayan kencang.

Nah, dengan kendaraan yang melaju dengan kencang itu Read the rest of this entry »
Posted in Pemikiran | Tagged: hidup, inisiatif, menyebrang jalan, pelajaran hidup, peragu, ragu-ragu, tekun | 5 Comments »
Women: “We Are Different With The Human”
Posted by Danang Pramudya on September 30, 2008
Baru saja saya debat kusir sama sohib via YM tentang perbedaan pria dan wanita. Memang ini topik yang sangat sensitif, namun intinya adalah bagaimana kita melihat kesamaan dari perbedaan pria dan wanita tersebut. Kesamaan sebagai manusia inilah yang sebenarnya merupakan dasar dari emansipasi.
Ini adalah salah satu tulisan terbaik saya Read the rest of this entry »
Posted in Pemikiran | Tagged: emansipasi, hak asasi, perempuan, pria, women | 2 Comments »
Cinta dan Hidup
Posted by Danang Pramudya on September 28, 2008
Kadangkala kalau kita sedang jatuh cinta, kita akan dapati diri kita sedikit berbeda. Kadang kita sering tersenyum-senyum sendiri, jadi suka melamun, atau bahkan depresi. Tapi apakah anda tahu, “jatuh cinta” itu apa sih? Apakah hanya sekedar permainan biologis hormon-hormon oksitosin dalam tubuh kita, atau suatu bentuk keterikatan batiniah?
Belum ada satupun orang di dunia ini yang mampu memberikan penjelasan Read the rest of this entry »
Posted in Curhat, Pemikiran | Tagged: cinta, hidup | 1 Comment »
Tupai Hidup
Posted by Danang Pramudya on July 22, 2008
Posted in Pemikiran | Tagged: motto, tupai | 1 Comment »
Marketing ala Counter VI Balgebun
Posted by Danang Pramudya on July 9, 2008
Kedua gambar di atas diambil di Balgebun, Balik Gedung Bundar, nama kantin kebanggaan warga Fasilkom. Saya mau membahas sedikit tentang permainan marketing yang diterapkan para penjaja makanan dan minuman yang berdomisili di Balgebun ini.
Kalo teman-teman pernah dengar istilah TQC, TQM, atau TQS, dalam postingan saya kali ini akan sedikit banyak membahas tentang penerapan strategi TQS pada gaya berjualan di Balgebun. Seperti teman-teman ketahui, TQS (Total Quality Service) adalah layanan yang berorientasi pada kualitas. Kualitas yang dimaksud adalah kualitas pelayanan itu sendiri. Kualitas produk mungkin bisa dijadikan nomor dua atau kesekian. Karena pada prinsipnya, memang customer lah yang pada akhirnya akan menilai kualitas dari sebuah produk (perceive quality).
Di kantin Balgebun ini ada sekitar 13 counter. Ada 9 counter yang menjual makanan, 3 counter menjual minuman, dan 1 counter menjual snack dan barang kebutuhan rutin, dari tisu sampai pembalut. Nah, masing-masing counter punya gaya berjualan tersendiri, dari yang teriak-teriak ala pedagang Mangga Dua, sampe yang adem ayem. Makanan yang dijajakan pun juga cukup variatif, mulai dari nasi rames sampai Japanese Food tersedia di sini.
Namun pada akhirnya, counter yang paling kreatif lah yang menang (baca: paling laris). Saya nyebut nama aja ya. Counter VI milik Ibu Dini sudah menjadi pengetahuan publik, adalah yang paling laris. Mari kita selidiki strategi yang digunakannya dalam membuat counternya menjadi paling terkenal sampai ke negeri seberang (fakultas lain maksudnya). Kita bicara tentang 6P (Product, Price, Place, Promotion, People, Public Relation) di sini.
Pertama produk. Apa sih yang dijajakan Bu Dini di sini? Nasi Rames. Lengkap dengan lauk pauknya yang beraneka ragam dan rasa. Mau yang pedas ada, yang gurih ada, bahkan sampai yang ala lidah orang Jawa, alias yang manis-manis gurih, ada juga lho. Mulai dari Ayam Bakar bumbu balado, sampai tempe bacem, nasi kuning sampai soto ayam dan gado-gado, komplit. Rasanya lumayan lah. Cukup bisa memuaskan lidah kok. Selain rasa, kemasan mungkin juga menjadi pertimbangan. Dibanding counter yang lain, cara penyajian makanan yang dijual di counter Bu Dini cukup menarik. Ini menjadi comparative advantage yang lain dari counter ini.
Yang kedua adalah harga. Semua orang tahu, counter Bu Dini menjual makanan yang relatif lebih murah dibanding counter yang lain. Selain murah meriah, strategi social approaching juga menjadi kekuatan. Misalnya untuk mahasiswa-mahasiswa yang lagi kesulitan ekonomi, kerap kali Bu Dini memberikan diskon harga ataupun gratis sama sekali. Investasi yang hebat bukan?
Berbicara tentang tempat, kayaknya yang satu ini bisa menjadi bahasan yang menarik. Counter Bu Dini terletak di paling ujung counter, sehingga tersedia space yang cukup lebar untuk menempatkan tambahan meja untuk menaruh lauk pauk lain yang dijajakan. Selain itu, di counter ini juga telah tersedia space yang lumayan besar untuk lalu lalang orang dan tempat mengantri makanan. Apakah memang Bu Dini yang jenius dalam memilih tempat atau memang dia sangat hoki mendapatkan tempat yang paling strategis ini? Kita tanya ahli Feng Shui aja kapan-kapan.
Keempat adalah mengenai promotion. Nah, ini mungkin adalah strategi paling menonjol yang diterapkan Bu Dini. Saya sebutkan beberapa event yang seringkali dilakukan Bu Dini dalam mempromosikan jualannya. Yang pertama adalah bagi-bagi buah gratis. Kerap kali pembeli makanan dihadiahi semangkok kecil buah gratis untuk pencuci mulut. Tentu ini memberi kesan dan nilai positif bagi pembeli. Yang kedua adalah strategi “cuci gudang”. Dulu, (nggak tahu ya sekarang masih apa enggak) saya seringkali berkunjung ke dekat-dekat counter Bu Dini menjelang jam tutup kantin. Maklum aja, pada jam-jam segitu, Bu Dini lagi cuci gudang, alias memberi makanan secara gratis. Hmm.. Asik banget tuh.
Mengenai Persona, Bu Dini memanglah orang yang sangat ramah, lugu, keibuan, sekaligus karismatik. Ini merupakan daya tarik tersendiri bagi mahasiswa-mahasiswa di Fasilkom. Menyenangkan mengobrol sama orang ini. Dari cerita-cerita yang pernah ia berikan, tampak sekali kebijaksanaan yang menyelimuti pribadi Bu Dini ini. Ikatan emosional antara penjual dan pembeli pun terbentuk. Hubungan dekat yang bukan hanya sekadar pembeli dengan penjual terimprove menjadi loyalty consumer relationship. That’s what called service.
Yang terakhir adalah Public Relation. PR marketing adalah salah satu strategi marketing terampuh yang banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan multi billion dollar pada jaman sekarang ini. Bahkan Counter Bu Dini pun juga menerapkan strategi ini. Misalnya dari penyediaan jasa catering nasi kotak pada event-event lokal maupun yang lebih besar. Otomatis nama Bu Dini semakin kuat sebagai brand.
Yang ingin saya komentari adalah betapa hebatnya Ibu Dini ini. Saya rasa dia sudah melalap semua buku marketing karena beliau mampu menerapkan marketing mix yang efektif pada usaha kecilnya ini. Dibandingkan dengan counter lain, jelas marketing ala Bu Dini juah lebih advanced dan terstruktur. Saya benar-benar takjub lho. Perlu beberapa tahun bagi saya untuk mempelajari seluk beluk marketing mix, namun hanya beberapa menit buat saya untuk menyadari implementasi TQS dan marketing mix yang efisien dan efektif pada counter VI Balgebun.
Posted in Pemikiran | Tagged: balgebun, bu dini, counter VI, fasilkom, kantin, marketing | 2 Comments »
Status??? Hare Gene???
Posted by Danang Pramudya on July 8, 2008
Emmm… Gimana ya? saya agak geli aja denger orang ngomongin tentang status. Status? Hari gini masih ngomongin status? Temen-temen pasti udah nebak “status” macam apa yang saya maksudkan dalam tulisan saya. Bukan status [single, in a relationship, married, etc] ya, yang saya maksud. Maksud saya adalah status ekonomi dan kehormatan.
Emangnya kita hidup di kerajaan? Kita ini hidup di Republik. Nggak seharusnya tuh hari gini kita masih saling membeda-bedakan antar sesama manusia hanya berdasarkan status ekonomi dan kedudukan dalam masyarakat. Jujur aja, walaupun agak geli ngedenger orang-orang pada ngeributin tentang status, saya juga sekaligus pengen marah. Serius lho.
Nggak sekali atau dua kali ini aja, tapi udah cukup sering. Saya pernah “bercerai” dari kelompok teman-teman saya karena mereka sangat “status sensitive”. Yang diomongin nggak jauh-jauh dari hal-hal seputar material things. Geli tau nggak sih. Mending ya kalo mereka punya those material things dari hasil jerih payah mereka sendiri. Ini dapet duit dari orang tuanya aja udah belagu. Cape degh!!!
Ada lagi oknum ngomongin tentang tetangganya. Jadi ceritanya nih oknum emang hidup di kawasan komplek yang cukup elit, yah menengah ke atas lah. Oknum X (sebut aja kayak gitu), punya tetangga. Nah tetangganya ini punya anak cowok, sekitar hampir kepala 3 lah umurnya. Nah, ni anak cowok udah nikah sama pembantunya si oknum X ini. Terus yang terjadi adalah si oknum X ini memecat sang pembantu. Gara-gara orang tua si anak cowok nggak setuju anak cowoknya nikah ama pembantu. Karena si oknum X nggak enakan sama tetangganya, makanya dia mecat pembantunya. Emmh! Jadi melanglang buana-lah pasangan muda yang baru menjalani hidup baru ini. Kata ortu si anak cowok, “pokoknya, papa sama mama akan tetep ngebuka pintu rumah papa mama lebar-lebar buat kamu. Tapi nggak buat istri kamu! Kalo kamu mau balik ke rumah ini, silahkan. Anak kamu boleh ikut, tapi istri kamu, NO WAY!!” Such a bittersweet…
Hmmh.. Saya sendiri bingung ama orang-orang jaman sekarang. Anaknya kawin sama pembantu kayaknya malunya udah kayak kronis banget gimana gitu.. Tapi kalo anaknya kawin sama anak koruptor, waduh, bangganya malah menjadi-jadi. Heran saya!
Lalu saya diskusikan hal ini sama eyang saya. Kata eyang, ibu bapakku mungkin akan bertindak hal yang sama seperti tetangganya si oknum X itu. Tapi saya dengan yakin menyanggah. Nggak mungkin! Saya kenal ibu bapak saya!
Posted in Curhat, Pemikiran | Tagged: status, ekonomi, pembantu, nikah | 3 Comments »













