Archive for the ‘Jurnal Hari Ini’ Category
Posted by Danang Pramudya on May 29, 2009
Pagi ini saya mengalami suatu peristiwa aneh. Suatu peristiwa yang sensasinya tidak dapat saya jelaskan dengan kata-kata. Namun saya akan jabarkan kronolgisnya. Mungkin teman-teman dapat memberikan komentar terhadap peristiwa yang tadi saya alami ini.
Sekitar pukul 08.30 WIB saya berangkat dari rumah menuju kampus UI Depok dengan menggunakan angkutan umum (angkot). Angkot yang saya naiki adalah KWK T15. Di perjalanan sampai depan Ramayana Cibubur, saya mendengar suara seorang ibu dan anak batita (berusia sekitar 2-3 tahunan) sedang berbicara. Saya melihat ke sekeliling dan seisi angkot, mengidentifikasi siapa anak dan ibu tersebut. Namun anehnya, saya nggak nemuin satu orangpun yang berciri-ciri sebagai seorang ibu dan anaknya. Beneran! Saya bingung, dari mana suara itu berasal? Sangat jelas di telinga seperti duduk di hadapan atau di samping saya. Seraya angkotnya jalan pun saya menoleh ke luar jendela. Tidak ada satupun objek yang mencirikan sumber suara tersebut.
Read the rest of this entry »
Posted in Jurnal Hari Ini, Pemikiran | Tagged: blackhole, deja vu, indera keenam, lubang hitam, lubang waktu, supranatural | 3 Comments »
Posted by Danang Pramudya on May 15, 2009

“For utmost absurd, illogical reasons, and for every unreasonable thought, I’ve tagged several part of my heart with Your Name. I’ve removed the tags several times, and for those several times, I always had it back to its place.”
Posted in Curhat, Jurnal Hari Ini | Tagged: facebook, heart, love, tag | Leave a Comment »
Posted by Danang Pramudya on October 21, 2008
Sebenarnya saya sudah mendengar kabar ini sejak lama dari milis Fans Fiorentina Indonesia. Sejak pertengahan tahun ini tepatnya. Bahwa klub sepak bola favorit saya, Fiorentina, berencana akan membangun sebuah stadium baru yang dimiliki sendiri. Namun sampai tepatnya hari ini, saya menganggap kabar itu hanyalah sebatas gosip, angan-angan fans atau maksimal hanyalah wacana klub. Tapi hari ini saya menjadi cukup excited karena tepatnya sebulan yang lalu, petinggi klub telah melakukan konferensi pers tentang rencana mereka.

Read the rest of this entry »
Posted in Jurnal Hari Ini | Tagged: della valle, fiorentina, florence, new stadium, sepakbola, viola | Leave a Comment »
Posted by Danang Pramudya on October 21, 2008
Well, sebenarnya sejak saya membuat blog ini pertama kali, saya sudah merencanakan untuk tidak mengisi blog ini dengan terlalu banyak keluh kesah apalagi mencaci-maki orang tertentu. Namun apa yang saya alami tadi malam sungguh menyakitkan hati. Atau mungkin saya sedang sedikit sensitif dengan beberapa hal-hal awkward yang terjadi pada hidup saya akhir-akhir ini (termasuk tugas Blocpuzz yang sangat menyita perhatian), sehingga saya menjadi bereaksi cukup berlebihan. Read the rest of this entry »
Posted in Curhat, Jurnal Hari Ini | Tagged: sahabat | 13 Comments »
Posted by Danang Pramudya on October 1, 2008
Jadi hari ini adalah hari raya Idul Fitri 1429 H. Semua orang bersuka cita. Saling memaafkan, sungkeman dengan orang tua, kembali fitrah. Yang namanya hari raya, pasti harus meriah dan yang jelas, harus ada makanannya. Sembari meluangkan waktu dan menurunkan isi perut yang udah penuh dengan makanan-makanan yang dari tadi udah dilahap, saya mencoba meluangkan sedikit waktu untuk menuliskan apa-apa saja yang sudah saya makan dari menu makanan yang sudah disajikan oleh Ibu saya (Head Chef of my family kitchen :p).
Mulai dari appetizer, Read the rest of this entry »
Posted in Jurnal Hari Ini, Kuliner | Tagged: idul fitri, kastengel, kue, lebaran, masubah, nastar, tiramisu | 2 Comments »
Posted by Danang Pramudya on August 14, 2008
Well, udah lama saya nggak buka-buka blog. Bukan gara-gara Ibu saya berhasil menemukan blog ini di internet, terus meminta pertanggungjawaban atas semua hal yang saya tulis, tapi karena emang saya lagi males aja. Bukannya nggak ada topik-topik menarik untuk ditulis, tapi ngebuka facebook dan memainkan sejumlah aplikasinya jauh lebih menyenangkan daripada menulis blog. Hehehe..
Oke, setelah sekian lama, topik yang akan saya tulis di sini nggak akan jauh-jauh dari pekerjaan yang sedang saya lakukan. Saat ini, menit ini, detik ini, saya sedang berada di tengah-tengah waktu jenuh dalam mengembangkan sebuah novel ke dalam skenario FTV. Kebetulan PH dan Indosiar bekerja sama untuk mengadaptasi beberapa novel islami dari penerbit Hikmah (grup penerbit Mizan Publishing) dan ditayangkan selama bulan suci Ramadhan.
Dan novel yang saat ini sedang saya garap adalah buah karya penulis Sony Ade berjudul Cahaya-Cahaya Cintamu. Menurut saya novel ini adalah novel yang lumayan bagus. Yang bikin saya tertarik adalah ceritanya yang begitu personal buat saya. Pengalaman batin yang dialami si tokoh utama yang bernama Tony kerasa menyentuh. Saya bisa larut dalam empati tokoh ini karena mungkin pengalamannya mirip seperti yang sedang saya alami saat ini.

Novel ini bercerita tentang seorang mahasiswa tingkat akhir bernama Tony dengan prestasi akademis dan non akademis yang gemilang. Pada suatu kesempatan, ia berkenalan dengan mahasiswa baru bernama Adelia. Pertama kali melihat Adelia membuat Tony gelisah, karena ia mengingat mantan pacarnya bernama Ines, yang telah menyakiti hatinya dengan bertunangan dengan pria lain.
Bayang-bayang Ines kembali hadir di hati ketika Tony berharap dia sudah sembuh dari lukanya. Tony takut, ketertarikannya pada Adelia semata-mata karena dia mirip Ines. Tetapi tanya yang dulu belum terjawab kembali mengganggu Tony. Lalu, siapa sebenarnya pasangan sejati yang dipilihkan Allah untuk Tony?
That’s all… Saya berencana untuk menulis skenario dari novel ini dengan sepenuh hati. Mudah-mudahan jadinya tidak terlalu melankolik. Namun kok jadi pesimis sendiri ya? Rencananya sih saya ingin mengadopsi secara penuh sistem pembabakan (episode) yang ada di novelnya. Kalo divisualisasikan jadi mirip Kill Bill. Tapi bos nggak setuju. Lebih baik pake sistem flashback daripada pembabakan. Ya sudahlah, saya maklum. Kan untuk tontonan televisi….
Posted in Film, Jurnal Hari Ini | Tagged: cahaya-cahaya cinta-Mu, Film, Hikmah, Mizan, novel, skenario, Sony Ade | 3 Comments »
Posted by Danang Pramudya on July 22, 2008
I know a girl.. I met her in a fancy hospital in Jakarta. She is not pretty but attractive. Her face is hispanic looked, with her long heave hair. She is tall and make her own grace when he walk. When she speaks Spanish, it’s heard so sexy. When she speaks English, heard so smart. And when she speaks Indonesian, spontaneously I fall in love to her damned beautiful voice.
This girl have been falling in love to someone. For several years, actually. She loves this someone so much. She has sacrificed so many things to show her love existences to this someone. But this someone is such a fool. He loves her also. But he didn’t do anything to struggle their love. They’ve never been lovers for all this time. This someone is really fool. He thought that their love is such an unavailing matter.
They both know that they are loving each others. But that foolish someone know that their difference made them are unable to be united. “It’s so vain, and I’m so vain, indeed”, he thought. Yet, the time is running. This girl is dying now. She is struggling for her Leukemia in hospital. Her time is no longer yet. But, where is the guy?
He is really so vain. He is instead spending his time in the night world, when her girl’s laying for her illness. And time is still running. The girl is dying more. His guy isn’t coming yet. But this girl isn’t stop hoping and wishing for his coming. Salute for her, her love. I imagine if her love is mine… I will be there for her every night and day, accompany her, encourage her, until the time comes for her.
Posted in Jurnal Hari Ini | Leave a Comment »
Posted by Danang Pramudya on July 17, 2008
At Last, hari ini saya mengakhiri menulis episode terakhir “Janji Cinta” yang tayang setiap hari di RCTI jam setengah 10 malam. Tadi jam 4 saya mengirim scene-scene terakhir ke email produser Rapi Films. Abis itu saya langsung cabut ke PIM. Refreshing setelah mengalami 4 hari yang penuh perjuangan di kantor RAPI Films di Cikini. Ceritanya Fynda ulang tahun hari ini. Jadi tadi saya dan beberapa teman (yang semuanya anak 06), nonton “Meet Dave” yang super kocak dan makan Pizza Hut di PIM. Thanks Fyn… Happy Birthday. May God always love and bless you forever more…
Tapi entah kenapa saya mengalami suasana emosi yang kayak gini nih.

Kadang naik, kadang turun. Kadang seru, kadang boring. Kadang marah, kadang riang. Dan itu terjadi dalam jangka waktu yang bersamaan. Don’t know why? Is there anything wrong with my body? My mind maybe.
Agak ngiri juga bisa ngeliat teman-teman pada riang gembira, sementara saya hampa banget. Sumpah! Hampa banget. Mungkin saya tahu penyebabnya.
Mungkin ini karena rutinitas yang telah 4 hari ini saya kerjakan. Pagi ke kampus, sore kerja sampai jam 2 malam. But the problem is, i really didn’t ever care with any routines in myself. Emang sih. Saya ngerasa ada beberapa momen, short term moment actually, saya jadi sedikit linglung. Tapi seharusnya ini nggak menjadi penyebab kehampaan saya.
My best friend said, “you are too busy, buddy! you should enjoy your youth moment before it disappear”. But I don’t think so. Justru masa muda adalah masa dimana kita harus kerja keras dan menikmati berbagai macam penderitaan. Untuk dinikmati nanti di masa yang akan datang. Dalam kamus hidup saya, saya tidak akan pernah mengeluh kalau saya terlalu sibuk selama semua kesibukan yang saya lakukan bermanfaat besar buat saya, dan yang terutama, saya suka melakukannya semua.
Anyway, I thanks God atas apa yang telah saya kerjakan dalam minggu ini. Dapet pengalaman kerja yang asik banget, cape sih, tapi saya akui, gokil dan asik berat! Bahkan sempet drop hari selasa dan rabu kemaren. Biasa common cold. Atau bahasa medis yang kerennya, masuk angin. Dapet temen-temen baru yang gokil dan asik abis. Dapet traktiran nonton dan makan gratis hari ini. Dapet apa lagi ya? Tapi satu nih yang belum dapet. Belum dapet gaji. Hahahaha… Insya Allah kalo besok jadi meeting lagi, gaji sudah bisa turun. Doakan yo!
Somehow, someway, people could be confuse about their own self-concept. A little bit gift, a little bit try should able to make them really know their own self. Who they really are, and the reasons of their extinction.
At last…
At last, Se que es tal clase de trata de tenerle en mi vida. Se que yo nunca le podria salir de mi mente, pero un milagro pequeno le haria mina. Yo siempre lo deseo.
ps: btw, itu gambar grafik saya yang buat lho. Bagus khan? hahaha…
Posted in Curhat, Jurnal Hari Ini | Leave a Comment »
Posted by Danang Pramudya on June 26, 2008
Lagu ini orisinilnya dinyanyikan oleh Sade. Ditulis sendiri oleh penyanyi bernama lengkap Sade Adu. Ceritanya tentang ungkapan rasa sayang yang kepada kekasih yang dimanifestasikan dengan kesetiaan yang luar biasa. Kalo baca lirik-nya dalem banget. Tadi pagi sebelum berangkat ke kampus, saya puter lagu ini di iTunes sampe berkali-kali. Entah mungkin apa lagu ini lagi masuk dalam jiwa saya atau memang kebetulan saja saya lagi dalam mood yang melankolik jadi catchy sama lagu ini.

Nah, ceritanya habis muter-muter nyari parfum, saya putusin untuk makan di Blok M Plaza. Karena nggak mau makan sendirian, saya jadinya manggil si Tita, buat nemenin saya makan. Sembari nunggu Tita nyampe, kebetulan ada performance dari Band yang jazzy abis. Ugh, saya suka banget dengerin jazz live music. Tapi ironinya, selama 5 tahun hidup di UI, saya belum pernah lho dateng ke JGTC.
Anyway, nih band punya vokalis cewek bersuara jenis Alto yang keren banget. Sayang saya nggak tahu apa nama band atau siapa nama vokalisnya. Perhatian saya mulai tertuju pada performance band ini ketika mereka membawakan lagu “Good Times”-nya Edie Brickell.
Setelah saya selesai makan, mereka membawakan lagu ini nih. Saya bilang ke Tita, “Ta, sumpah, gue suka banged lagu ini. Bentar ya. Gue mau ngeliat dia nyanyi.” Mulailah saya terlarut dalam alunan melodinya yang indah (btw, saya lebih suka arrangement mereka daripada orisinilnya). suara si vokalis juga dahsyat. Buat saya merinding. Liriknya itu lho, bener-bener dalem. Nih baca aja kalo nggak percaya.
you think i’d leave your side baby
you know me better than that
you think i’d leave you down when you’re down on your knees
i wouldn’t do that
i’ll tell you you’re right when you want
and if only you could see into me
oh when you’re cold
i’ll be there
hold you tight to me
when you’re on the outside baby and you can`t get in
i will show you you’re so much better than you know
when you’re lost and you’re alone and you cant get back again
i will find you darling and i will bring you home
and if you want to cry
i am here to dry your eyes
and in no time
you’ll be fine
you think i’d leave your side baby
you know me better than that
you think id leave you down when you’re down on your knees
i wouldn’t do that
i’ll tell you you’re right when you wrong
and if only you could see into me
oh when you’re cold
i’ll be there
hold you tight to me
when you’re low
i’ll be there
by your side baby
Dari dulu kalo saya punya pacar, saya belom pernah ngasih lagu yang isinya bener-bener ngungkapin rasa sayang dengan manifestasi kesetiaan buat pacar saya. Saya pengen ngasih lagu ini buat kekasih saya berikutnya.
Posted in Jurnal Hari Ini | Tagged: blok m plaza, by your side, music, sade | 2 Comments »
Posted by Danang Pramudya on June 13, 2008
Jadi ceritanya kamis kemaren, saya sama si Hendrik pergi ke Plaza Indonesia dan EX buat nonton film M. Night Shyamalan yang baru, judulnya The Happening (Nanti saya buat reviewnya). Nah sebelum filmnya muter masih ada waktu tuh sejam-an. Terus kita ke ak.sa.ra aja ngeliat-liat CD, books, and others imported stuffs.
Sebelumnya saya sama Hendrik pernah ngeliat buku ini di ak.sa.ra Citos. Tapi sayangnya di Citos, bukunya kebungkus ama plastik. Jadinya baru kemaren saya ngeliat isinya. Begitu ngeliat isinya yang full colors saya langsung jatuh cinta sama nih buku. Judulnya “Cinema Now”. Sumpah keren banged.

Hehe, ada gambar Mami saya di cover-nya. Itu pasti diambil dari film Volver. Ada apa sih di dalemnya sampe ngebuat saya pengen banget memiliki buku ini. Sebenarnya isinya bukan buku panduan praktis bagaimana membuat film sih. Lebih seperti ensiklopedia tentang film-film yang pernah diputar di seluruh dunia, termasuk para pembuat filmnya. Bahkan Christine Hakim dan Tjoet Njak Dien-nya, serta Garin Nugroho dapet halaman sendiri.
Selain itu ada banyak ulasan (serta screenshot dalam angle terbaik) film-film paling keren yang pernah dibuat di seluruh dunia. Pas baca nih buku saya langsung horny (bukan karena melihat gambar-gambar vulgar pada film Perancis yang menampilkan adegan bersenggama dll), tapi saya horny untuk membuat karya yang nggak kalah spektakulernya dengan film-film yang diulas di buku ini. Saya mimpi suatu saat gambar saya dan film-film yang saya buat akan masuk di buku ini pada edisi ke berapaaa gitu.
Film-film dari Asia juga mendapat sorotan tertentu di buku ini, karena menurut buku ini sebenarnya banyak sekali sineas-sineas dari Asia yang memiliki kekuatan dan kapabilitas yang luar biasa (bahkan bisa dibilang terbaik di seluruh dunia) dari karya-karya yang mereka hasilkan. Sebut saja Ang Lee, Wong Kar Wai, dan Zhang Yimou. Belum lagi 2 sutradara asal Korea yang pernah menggemparkan dunia lewat film Gwoemul (The Host, 2006) oleh Joon-Ho Bong, dan Kim Ki Duk yang buat film Bin Jip (3-Iron, 2004). Tapi di antara para sineas tersebut, tetap Ang Lee dan Wong Kar Wai lah yang punya kelas bintang 6.
Aduh, saya benar-benar mengidam-idamkan buku ini. Bahkan sampe ngerengek ke Hendrik segala buat beliin saya buku ini kalau saya ulang tahun. Yaaah, tapi anda tahu sendiri lah gimana reaksi si Hendrik. Apalagi setelah melihat harga buku ini yang nilainya sama seperti uang makan dia satu bulan (600 rebu). Tapi siapapun yang berbaik hati berniat membelikan buku ini buat saya, akan saya terima dengan tangan terbuka (bukunya ya, bukan orangnya). Hehehe! Ah, pengen! Tapi nggak pengen beli sendiri.
Udah ah! Kebanyakan yang ditulis ntar malah tergoda buat beli sendiri!
Posted in Film, Jurnal Hari Ini | Tagged: 3-Iron, Ang Lee, buku, Cinema Now, Film, Gwoemul, Penelope Cruz, sinema, Wong Kar Wai, Zhang Yimou | 2 Comments »