Coffee, Wine, Cotton, & Bread

Danang Pramudya’s journey – It is life indeed

Relung Senyum Rindu Burung Camar

Posted by Danang Pramudya on September 4, 2009

camarSuara aliran air dari keran wastafel adalah satu-satunya bunyi yang terdengar. Jon masih terpaku di depan kaca wastafel membiarkan air tetap mengalir, cukup deras. Bunyinya yang teratur dan konstan seolah membuat Jon terhipnotis memandangi wajahnya sendiri di depan kaca. Satu, dua, tiga, lamunannya buyar. Ia memandang jam tangannya, seperti tergesa, ia menutup keran wastafel lalu bergegas meninggalkan kamar mandi hotel tempat ia menginap.

Jon berjalan dengan langkah cepat meninggalkan lobi hotel keluar menuju pantai. Hotel yang ia inapi bukanlah hotel dengan tarif mahal yang memiliki private beach sendiri. Namun untuk menuju ke pantai, ia hanya membutuhkan langkah kaki sebanyak 93 langkah. Keluar lobi hotel, melewati areal parkir, menyebrang jalan, lalu menelusuri jalan akses menuju Pantai umum. Areal pantai dipenuhi dengan aktivitas khalayak, baik penduduk sekitar yang menjajakan makanan dan minuman, pakaian pantai, suvenir khas daerah pantai, dan lain-lain, dan juga para turis yang hendak menikmati sunset.

Jon berpapasan dengan segerombolan anak laki-laki berusia 8-10 tahun yang memakai pakaian muslim lengkap dengan peci putih dan hitam, serta sarung dan tas kecil tergantung di pundak mereka masing-masing. Mereka larut dalam canda tawa khas bocah yang sangat menyejukkan hati. Jon menyempatkan melempar senyum kecilnya ke arah salah seorang anak. Seketika, sekelebat bayangan Raisa melintas di benaknya. Bayangan akan seorang wanita yang sangat dicintainya, sedang tenggelam dalam lautan canda dan tawa dengan murid-murid les musiknya. Dhuarr!!! Sebuah petasan kecil diledakkan oleh gerombolan anak-anak yang baru pulang mengaji tadi. Suara iringan tawa anak-anak itu pun bergelegak mengikuti suara ledakan petasan tadi.  Kelebat lamunan Jon pun buyar.

Jon terus berjalan menuju sudut pantai yang sangat ia sukai, karena keheningannya. Cukup jauh dari pusat keramaian pantai, dan sangat sedikit orang yang berniat ke sudut ini, karena mereka harus berjalan melewati timbunan karang-karang kecil yang penuh dengan kepiting-kepiting kecil dan besar berhamburan sebelum menjangkau sudut ini. Mungkin hanya para pemburu kepiting saja yang berada di sekitar areal sudut pantai ini.

Jon akhirnya tiba di sudut pantai ini. Sama seperti hari-hari sebelumnya, pukul 5.30 sore, Jon pasti telah berada di tempat ini hendak menikmati matahari terbenam. Namun yang membuatnya tergesa-gesa tadi bukanlah waktu matahari akan terbenam. Karena masih tersisa waktu sekitar 20-30 menit untuk menyaksikannya. Jon tergesa untuk menunggu datangnya rombongan burung camar yang terbang melintasi pantai membentuk formasi huruf V yang sempurna.

Jon memandang arloji yang ia kenakan. Sudah pukul 5.34. Rombongan burung itu biasanya akan muncul pada sekitar pukul 5.35 – 5.45. Sudah 12 hari ini, Jon memerhatikan fenomena tersebut. Rombongan itu selalu disiplin menggunakan rentang waktu tersebut. Mereka tidak pernah terlambat atau tiba lebih cepat. Dan tampaknya kali ini Jon tidak akan ketinggalan menyaksikan fenomena rutin yang belum pernah sekalipun ia melewatkannya selama ia berada di Carita.

Tik, tok, tik, tok, jarum arlojinya terus berdetak. Saat ini sudah pukul 5.41. Ia belum menemukan tanda-tanda kemunculan rombongan burung camar yang ia tunggu-tunggu dari tadi. Pandangannya ia lempar dan rentangkan ke seluruh cakrawala. Tidak ada tanda-tanda kemunculannya. Seketika, bayangan itu kembali berkelebat di benaknya. Bayangan yang selalu ingin ia lepaskan dan buang jauh-jauh dari benaknya, terutama hidupnya. Bayangan Raisa.

*****

Di sebuah restoran yang bernuansa tradisional, namun dibalut dengan arsitektur modern, Jon sedang bersama Raisa dalam posisi duduk saling memandang.

“Jon, maaf. Hubungan kita sudah usai. Percuma membangun hubungan yang berdiri di atas paksaan dan tekanan. Ikatan dan kekangan untuk menjadi sama seperti orang-orang lain. Bukan diri kita masing-masing.” Raisa dengan mantap memandang wajah Jon dan mengeluarkan kalimat yang mengalir dengan deras tanpa henti.

“Kenapa, Rai? Apa bedanya kita dengan orang lain. Yang paling penting, kita menikmati semua ini. Itu kan makna sebuah hubungan?” Jon mulai berargumentasi

“Ya, benar! Kamu sepenuhnya benar! Tapi maaf Jon, aku berbeda dengan orang kebanyakan. Kamu seharusnya sudah hafal benar dengan sifatku yang satu ini.”

“Kamu keras!”

“Aku hanya ingin jadi diriku, Jon.” Raisa tampak membela diri. Ia tampak tetap sekuat tenaga mempertahankan sikap datar tanpa emosinya yang terlihat sangat artifisial.

“Kamu takkan pernah bisa jadi dirimu sendiri kalau kau tetap mempertahankan sifat kerasmu!”

“Kamu yang keras, Jon! Kamu yang keras kepada karena terus memaksa aku untuk tidak menjadi diriku demi kepuasan dirimu sendiri!”

“Terserah apa katamu! Mulai detik ini, aku takkan pernah mau memaksakan kehendakku lagi padamu.”

“Kalau begitu, jelas sudah semuanya bukan apa yang akan terjadi di antara kita selanjutnya?”

Raisa berdiri dari tempat ia duduk kemudian berjalan meninggalkan Jon. Raut wajah menahan kepedihan jelas terlihat di wajah Raisa. Namun ia tetap dengan angkuh menyembunyikan sekuat tenaga. Sayang Jon tidak sempat menyaksikan getar garis wajah ini. Jon hanya menundukkan wajahnya dan pasrah mendapati dirinya ditinggalkan sendiri.

Tik.. Jon tak pernah menyangka kalau ia bisa mengeluarkan air mata. Ia berjuang untuk menjaga matanya agar tidak setitik pun lagi air jatuh dari matanya.

*****

Tik.. Setitik air mata jatuh ke pahanya. Lagi-lagi ia berusaha untuk tidak membiarkan titik air mata lain jatuh kembali. Ia mengusap matanya. Sudah 14 bulan sejak terakhir kali ia melihat wajah Raisa. Dan sudah 14 menit lewat dari pukul 8.45. Namun burung-burung camar belum menunjukkan dirinya.

“Mungkin mereka sudah terbang sebelum aku datang.” Batin Jon.

Secara refleks tidak terencana, Jon mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. Sebuah dorongan besar tiba-tiba muncul dari dalam dirinya. Ia terdorong untuk mengirim pesan pendek kepada Raisa. Ia hendak melukiskan rasa rindu berat yang ia dera detik ini dalam sepotong SMS. Matahari tampak perlahan mulai tenggelam. Jon mulai mengetikkan kata-kata di ponselnya:

Raisa, sudah selama 14 bulan ini, tak seharipun hidupku kulewati tanpa bayangan dirimu. Bukan hanya bayangan, namun tumbukan rasa rindu yang luar biasa keras menghantam seluruh raga dan batinku. Aku seperti kehilangan separuh jiwaku yang kutinggalkan di dirimu, sehingga setiap hantaman selalu membuatku goyah tak mampu bertahan, bahkan hampir terjatuh. Namun kupaksakan diriku untuk bertahan dengan sisa-sisa jiwa yang kumiliki. Sepenuh pelukan jiwaku mendoakan akan kebahagiaanmu untuk lebih memilih menjadi dirimu yang kamu impikan. Rai, andai saat ini kamu bisa berada di sisiku. Menanti kedatangan rombongan burung camar yang terbang membentuk huruf V yang sempurna. Begitu indah, begitu sempurna. Mungkin kau bisa menciptakan sebuah lagu tentangnya. Sayangnya, aku pun merindukan menantikan datangnya rombongan itu. Mereka telah terbang lebih awal. Aku telah terlam…

Sebelum Jon menyelesaikan kata-katanya di layar ponsel, tampak segerombolan burung camar terbang mendekat ke arah pantai dengan berlatar belakang matahari terbenam di cakrawala yang memendarkan warna jingga. Mereka terbang membentuk huruf V. Seberkas senyum cerah mengisi relung wajah Jon yang sedang dipenuhi kerinduan.

4 Responses to “Relung Senyum Rindu Burung Camar”

  1. N. Irving said

    Another Jon & Raisa’s series, Dan?

    Well, the same style, the same diction, the same words choices, the same rhythm, the same excellence.. I think you have become a truly writer with your own writing style. You are indeed consistent! I like yours, Dan.. Keep it up, please!

  2. ndha tumo said

    Hmm, again..nice post. nice story.
    Gw suka bacanya, Nang. hehe.
    Di Carita jadi banyak inspirasi yah?
    Melihat angka-angka yang kau sebutkan. Sepertinya tak asing. Mengingat pengalaman sendiri kah? last year? :D
    CMIIW.

  3. nita chaerani said

    Ibu bingung itu fiksi atau kisah pribadimu? Tp nang kl sifat dominasimu ttp km pertahankan, ibu khawatir, ada nggak ya cewek yg tahan sm km?

    kalo ini hanya sebuah fiksi, ibu bangga makin lama bakat menulismu makin terasah. Rasanya pantas untuk buat kumpulan cerita pendek. Semoga km bs setenar Andrea Hirata, atau bahkan melebihinya.

  4. Ririe said

    Kak…hix,,aku nangis baca ceritanya.kakak jago banget lah!gaya nulisnya magnetik banget.nggak bisa berhenti sebelum abis tulisannya.kalo buat novel pasti bakal best seller kak.ngalahin Ayat-Ayat Cinta,,hehehe

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>