Coffee, Wine, Cotton, & Bread

Danang Pramudya’s journey – It is life indeed

Archive for July, 2008

The Dark Knight: Who is The Real Hero?

Posted by Danang Pramudya on July 25, 2008

Mendengar review dari beberapa teman, termasuk juga melihat data The Numbers, The Dark Knight tiba-tiba berubah menjadi “a must see movie” saya bulan ini. Padahal sejak melihat trailer film ini beberapa bulan yang lalu, saya sangat optimis bahwa film ini bakal saya skip, karena alasan tidak mampunya saya menikmati prequel-nya, Batman Begins.

Beberapa teman bilang, “Nang, lo harus nonton nih film! Sumpah keren abis. Heath Ledger (alm), luarrr biasa.” Terus saya buka The Numbers dan menemukan fakta bahwa dalam 3 hari diputar di bioskop Amerika Utara, film ini meraup USD 158 M. Wow! Spectacular income!

Akhirnya muncul rasa penasaran saya yang sensasinya persis kayak orang yang mau buang air besar. Tiba-tiba dan harus segera dikeluarkan. Sama kayak rasa penasaran saya, tiba-tiba, dan harus segera dipuaskan. Well, akhirnya saya memaksa diri (meski dengan kondisi yang setengah fit), nonton film ini di Citos 21 Studio 1 (Studio favorit saya di Jakarta).

Datang dengan ekspektasi yang luar biasa pada film ini, adegan-adegan teaser The Dark Knight memunculkan decak kagum saya. Betapa licik, jenius, serakah, dan jahatnya tokoh Joker. Gosh, saya berfikir, bagaimana ya nanti cara Batman mengalahkan orang gila ini?

The Dark Knight bercerita tentang kelanjutan aksi musuh besar Batman, who is Joker, dalam tujuannya mencapai keadaan dunia yang chaos. Apapun ia lakukan demi kepuasan dirinya sendiri. Joker pun dalam tujuaannya ini melibatkan banyak pihak, yang satu demi satu mempreteli kebobrokan sosial kota Gotham, seperti sindikat mafia, polisi korup, pebisnis kotor melawan para penegak hukum kota Gotham. Dalam hal ini muncul tokoh bernama Harvey Dent, seorang jaksa wilayah yang dikenal sebagai hero of the city karena telah menjebloskan banyak koruptor dan mafia busuk ke dalam penjara.

Namun Joker muncul sebagai bukan hanya tokoh di balik layar, namun juga di depan layar. Ia merekayasa semua skenario pengkondisian yang membuat keadaan chaos terpenuhi. Dan sayangnya (a lil’ spoiler), ia berhasil menciptakan keadaan ini dengan begitu hebatnya, sampai semua orang di dalam studio mengangakan mulutnya lebar-lebar, saking kagumnya dengan situasi dan kejahatan yang diciptakan oleh Joker. Batman pun dibuat jungkir balik nggak karuan karena fokusnya terpecah either itu menghabisi Joker atau membebaskan wanita yang dicintainya, atau menyelematkan ratusan nyawa lain yang tidak bersalah.

Spectacular “ala Hollywood”

Kejahatan, kesadisan, kelicikan, dan ketidak manusiawian tokoh Joker dalam film ini tidak lepas dari kejeniusan kuartet penulis yang terdiri dari Nolan bersaudara (Christopher dan Jonathan), Bob Kane, dan David S. Goyer meramu alur cerita yang dahsyat yang mungkin bagi kebanyakan orang mampu membuat cinematic orgasmo. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya baru mendapat info dari IMDb, film ini berhasil menduduki peringkat pertama IMDB top 250 Movies, yang setelah puluhan tahun diduduki oleh The Godfather (1972). Well, well, congratulations.

Christopher Nolan (Memento (2000), Batman Begins, Insomnia) yang juga selaku sutradara ternyata mampu menghadirkan permainan sinematografi yang spektakuler yang mampu mebuat penonton tak berkedip. Grafik ketegangan yang naik turun memang sangat cocok diimplementasikan pada film ini mengingat durasinya yang cukup panjang (hampir 2,5 jam). Seolah-olah penderitaan empati yang dialami penonton benar-benar dipermainkan terus menerus tanpa henti seperti umunya di sinetron-sinetron Indonesia, kayak Cinta Fitri, dkk. Sampai-sampai saya nanya terus ke Adhe, teman saya, “belom abis, Dhe?” pada setiap film ini mencapai anti klimaks. Setiap kali ada kejadian klimaks dan diselesaikan pasti ada terus kelanjutannya. Saya lantas berfikir, “Nggak mati-mati nih si Batman, kan kalo dia mati, filmnya abis.” But overall, how spectacular the script is… How could they make the plot like this? I wish I could write in the same level.

Pesan Moral Tentang Kepahlawanan

Satu pertanyaan saya dalam film ini. Siapakah pahlawan sejati kota Gotham? Sosok manusia kelelawar yang aslinya adalah seorang milyuner ego sentris maniak wanita, atau Harvey Dent sang Jaksa wilayah, atau bisa juga dimasukkan Letnan Gordon yang total mati-matian berusaha menyelamatkan kota Gotham dari segala sepak terjang kriminal.

Atau bahkan karakter Joker bisa disebut sebagai pahlawan karena telah memporak-porandakan aktivitas mafia busuk dan menunjukkan kebobrokan politik kota Gotham yang tercermin dari banyaknya polisi yang korup, pebisnis dan politisi kotor. Tapi saya tidak setuju kalau dia disebut pahlawan, karena tujuannya adalah menciptakan situasi yang chaos dengan semua unsur baik hitam atau putih termasuk di dalamnya. Tapi di atas segalanya, tampaknya film ini seperti lebih tentang Joker daripada Batman. Bahkan saya sempat mengira bahwa The Dark Knight itu Joker lho. Hmm..

Lagi-lagi penonton diarahkan untuk cenderung memilih Batman sebagai pahlawan buat mereka (bukan buat kota Gotham), karena banyaknya pengorbanan yang ia lakukan (termasuk membuat dirinya sendiri terasa seperti pecundang ketimbang pahlawan).

Patut Mendapat Banyak Award

Tentu film ini sangat patut mendapat banyak award, dengan kualitas di dalamnya yang hampir seluruhnya mempesona. Penonton pertama kali yang memberi award karena dengan gegap gempita membuat PH untung puluhan juta dollar sejak 3 hari pertama film ini rilis. Lalu selanjutnya saya setuju dengan pendapat teman saya yang mengatakan bahwa (alm) Heath Ledger panats mendapatkan Oscar atas penampilan briliannya.

Golden Award from me to this movie.

Posted in Film | Tagged: , , , , , , | 2 Comments »

About a Girl

Posted by Danang Pramudya on July 22, 2008

I know a girl.. I met her in a fancy hospital in Jakarta. She is not pretty but attractive. Her face is hispanic looked, with her long heave hair. She is tall and make her own grace when he walk. When she speaks Spanish, it’s heard so sexy. When she speaks English, heard so smart. And when she speaks Indonesian, spontaneously I fall in love to her damned beautiful voice.

This girl have been falling in love to someone. For several years, actually. She loves this someone so much. She has sacrificed so many things to show her love existences to this someone. But this someone is such a fool. He loves her also. But he didn’t do anything to struggle their love. They’ve never been lovers for all this time. This someone is really fool. He thought that their love is such an unavailing matter.

They both know that they are loving each others. But that foolish someone know that their difference made them are unable to be united. “It’s so vain, and I’m so vain, indeed”, he thought. Yet, the time is running. This girl is dying now. She is struggling for her Leukemia in hospital. Her time is no longer yet. But, where is the guy?

He is really so vain. He is instead spending his time in the night world, when her girl’s laying for her illness. And time is still running. The girl is dying more. His guy isn’t coming yet. But this girl isn’t stop hoping and wishing for his coming. Salute for her, her love. I imagine if her love is mine… I will be there for her every night and day, accompany her, encourage her, until the time comes for her.

Posted in Jurnal Hari Ini | Leave a Comment »

Tupai Hidup

Posted by Danang Pramudya on July 22, 2008

Perhatikan gambar tupai berikut!

Saya punya idiom baru tentang tupai sekaligus konsep hidup saya!

“Sapandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Tapi sedia matras di tanah sebelum melompat, adalah ide yang sangat baik!”

Apa ya artinya?? Pasti para pembaca tahu bukan? Pasti tahu lah ya…. :)

Posted in Pemikiran | Tagged: , | 1 Comment »

Film Silat ala Asia Timur

Posted by Danang Pramudya on July 21, 2008

Entah kenapa saya doyan banget nonton film-film silat kolosal dari Asia Timur, entah itu dari Jepang, Cina, Taiwan, Hongkong, Korea. Pokoknya film-film itu selalu berkesan buat saya.

Inget dulu pas masih kecil (sekitar 8-10 tahun), kalo ke bioskop, pasti yang dicari film silat Cina. Entah apa judulnya Holly Sowrds, Swordsman, Three Swordsmen, Drunken Master, Fong Sai Yuk, Once Upon A Time in China, etc. Dari situ saya kenal sama Andy Lau, Jet Li, Brigette Lins, dll. Kalo pas nonton film itu, dalam hati saya selalu berdecak kagum dan membatin, “Gila, keren banget! Aku juga mau bisa terbang kayak begitu!”

Sampai sekarang pun saya masih senang nonton film silat kolosal ala Asia Timur. Sekarang Cina udah bisa bikin film yang super duper keren dibanding keluaran Hongkong yang dari hari ke hari makin cupu aja produksinya (eg: Kungfu Dunk!). Korea belum lama ini ngeluarin The Restless. Baru sempat saya tonton kemaren DVD-nya, setelah sejak 3 bulan yang lalu saya menaruh DVD tersebut di kotak “Watch ASAP!” milik saya.

Ciri khas film silat kolosal ala Asia Timur, melankolik, namun menegangkan kalo udah beradu pedang. Nggak ada satupun film Hollywood yang bisa nandingin the art of duel dari film-film Asia Timur. Apalagi kalo dibandingin ama Wiro Sableng atau Legenda Gunung Merapi produksi dalam negeri. Ya ampuuuunnn… Males banget!

Terus judul lain yang cukup berkesan buat saya adalah “The Curse of Golden Flower” arahan sutradara Cina legendaris, Zhang Yimou. Arghh… Saya mengalami cinematic orgasm pas nonton film ini. Meski saya juga tidak meremehkan karya fenomenal Ang Lee, “Crouching Tiger, Hidden Dragon”.

Lagi-lagi pertanyaan klasik buat bangsa kita, mampukah kita memproduksi film silat kolosal dengan kualitas yang nggak kalah keren dengan film-film Cina? Lha wong, Korsel aja udah sukses buat The Restless yang nggak kalah keren dengan ciri khas Korea yang sama sekali nggak luntur. Indonesia bisa nggak? Materi kita kan banyak sebenernya… Hmmm. Think about it!!

Posted in Film | Tagged: , , , , , , | 3 Comments »

Kenalkan, Saya Danang Pramudya

Posted by Danang Pramudya on July 18, 2008

Saya adalah salah satu orang yang merusak sinetron Indonesia saat ini, karena menulis sinetron-sinetron bodoh.

Jadi ceritanya, baru saja saya duduk ngobrol-ngobrol sama beberapa teman (kali ini angkatan 03 semua) di kantin. Ada salah satu topik hot yang kita bicarain tadi. Yakni tentang dunia sinetron Indonesia saat ini yang makin nggak karuan aja. Makin nggak karuan karena apa? Mari kita lihat apa yang terjadi sebenarnya.

Rantai Rating

Lagi-lagi masalahnya hanyalah rating. Bicara tentang rating TV, berarti bicara juga tentang pasar. Siapa pasar penonton televisi? Lebih tepatnya sinteron? Jawabannya adalah ibu-ibu dan pembantu yang udah nggak produktif dan nggak punya acara banyak. Jadi mereka di rumah, ya hiburannya cuma TV. Since they can’t afford to rent cable, terrestrial is the only choice. And since terrestrial TVs live only from the advertising, the TV rating is the money for the Advertiser company.

Jadi sebenarnya ini semua hanya sebuah rantai. Kayak gini nih bentuknya:

Ceritanya gini. Penonton kan nonton TV. Dari TV mereka bisa dapat hiburan. Hiburan adalah salah satu kebutuhan manusia. Bener kan? Btw, sampai sini masih nyambung ya.

Lalu stasiun TV menyediakan hiburan untuk penonton. Sinetron nih ceritanya yang paling laris. Ratingnya paling tinggi. Nah rating menentukan iklan. Jadi iklan biasanya memberikan syarat rating minimum buat stasiun TV pada program-program yang disponsori. Kalo nggak nyampe syarat minimum, biaya iklan dipenalti. Kerugian buat stasiun TV. Sekaligus tekanan juga buat stasiun TV.

Stasiun TV beli sinetron dari Production House (PH). Kalo rating bagus (at least memenuhi syarat minimum pengiklan), sinetron terus produksi. In case rating jeblok, stasiun TV menekan PH dengan ancaman cut episode. Tekanan buat PH.

PH merasa tertekan, mereka membalas menekan script writer sebagai pelampiasan. Mereka mengontrol jalan cerita. Script writer tambah kelabakan karena banyak revisi. Mau nggak mau karena tuntunan profesionalitas, mereka harus mengikuti tren pasaran dengan menulis adegan-adegan menjijikkan ala sinetron yang anehnya, penonton Indonesia suka. Masalahnya adalah tuntutan profesionalitas.

Jadi begitu saudara-saudara. Kalo kita lihat fakta di atas, ada 2 pihak yang paling bersalah menyebabkan bobroknya dunia serial TV di Indonesia. Pertama, PENONTON. Kedua, STASIUN TV.

Kenapa penonton? Karena mereka sangat bodoh menyukai tayangan-tayangan ala sinetron. Lalu kenapa Stasiun TV? Karena mereka memanjakan penonton dengan tayangan bodoh ala sinetron yang memperbodoh tanah air dan bangsa. PH dan script writer juga bersalah. Namun mereka hanya mengikuti tuntunan kemauan pasar. Meraka tidak berada dalam grade tertinggi terhadap kualitas sinetron jaman sekarang. Lalu solusinya bagaimana?

Solusi Gampang

Menurut hemat saya, harus ada reformasi pada stasiun-stasiun TV. Mereka harus merubah sistem dengan membeli serial full bundled, seperti gaya Amerika, Jepang, atau Amerika, dimana setiap judul sudah diproduksi sampai episode terakhir, sebelum judul tersebut ditayangkan di stasiun TV. Tidak seperti sistem kejar tayang kayak sekarang ini.

Kalo sistemnya seperti itu, saya yakin semua pasti sama-sama untung lah. Stasiun TV untung karena meskipun mereka membeli judul sinetron yang ratingnya tidak terlalu bagus, tapi mereka bisa tetap mendapat iklan sampai judul tersebut habis tayang (minimal untuk mengganti biaya membeli judul dari PH). PH juga dapet untung fix, mereka buat sinetron yang bagus, yang bisa diterima oleh semua lapisan. Script writer pun juga untung. Kerja mereka lebih santai, mood dapet, karya lebih bagus.

Begitu juga dengan penonton. Kalau sinetron-sinetron bagus nan cerdas yang terus dicekokin ke para penonton, mau nggak mau penonton pasti nerima lah. Dan yang lebih bagus lagi, penonton Indonesia bisa bakal lebih cerdas!!!!

Kenalkan, Saya Danang Pramudya. Di masa mendatang, saya akan memproduksi sinetron-sinetron berkualitas yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa.

HIDUP SINETRON INDONESIA DI MASA MENDATANG!!!

Posted in Pemikiran | Tagged: , , , , , , , , , | 6 Comments »

At Last

Posted by Danang Pramudya on July 17, 2008

At Last, hari ini saya mengakhiri menulis episode terakhir “Janji Cinta” yang tayang setiap hari di RCTI jam setengah 10 malam. Tadi jam 4 saya mengirim scene-scene terakhir ke email produser Rapi Films. Abis itu saya langsung cabut ke PIM. Refreshing setelah mengalami 4 hari yang penuh perjuangan di kantor RAPI Films di Cikini. Ceritanya Fynda ulang tahun hari ini. Jadi tadi saya dan beberapa teman (yang semuanya anak 06), nonton “Meet Dave” yang super kocak dan makan Pizza Hut di PIM. Thanks Fyn… Happy Birthday. May God always love and bless you forever more…

Tapi entah kenapa saya mengalami suasana emosi yang kayak gini nih.

Kadang naik, kadang turun. Kadang seru, kadang boring. Kadang marah, kadang riang. Dan itu terjadi dalam jangka waktu yang bersamaan. Don’t know why? Is there anything wrong with my body? My mind maybe.

Agak ngiri juga bisa ngeliat teman-teman pada riang gembira, sementara saya hampa banget. Sumpah! Hampa banget. Mungkin saya tahu penyebabnya.

Mungkin ini karena rutinitas yang telah 4 hari ini saya kerjakan. Pagi ke kampus, sore kerja sampai jam 2 malam. But the problem is, i really didn’t ever care with any routines in myself. Emang sih. Saya ngerasa ada beberapa momen, short term moment actually, saya jadi sedikit linglung. Tapi seharusnya ini nggak menjadi penyebab kehampaan saya.

My best friend said, “you are too busy, buddy! you should enjoy your youth moment before it disappear”. But I don’t think so. Justru masa muda adalah masa dimana kita harus kerja keras dan menikmati berbagai macam penderitaan. Untuk dinikmati nanti di masa yang akan datang. Dalam kamus hidup saya, saya tidak akan pernah mengeluh kalau saya terlalu sibuk selama semua kesibukan yang saya lakukan bermanfaat besar buat saya, dan yang terutama, saya suka melakukannya semua.

Anyway, I thanks God atas apa yang telah saya kerjakan dalam minggu ini. Dapet pengalaman kerja yang asik banget, cape sih, tapi saya akui, gokil dan asik berat! Bahkan sempet drop hari selasa dan rabu kemaren. Biasa common cold. Atau bahasa medis yang kerennya, masuk angin. Dapet temen-temen baru yang gokil dan asik abis. Dapet traktiran nonton dan makan gratis hari ini. Dapet apa lagi ya? Tapi satu nih yang belum dapet. Belum dapet gaji. Hahahaha… Insya Allah kalo besok jadi meeting lagi, gaji sudah bisa turun. Doakan yo!

Somehow, someway, people could be confuse about their own self-concept. A little bit gift, a little bit try should able to make them really know their own self. Who they really are, and the reasons of their extinction.

At last…

At last, Se que es tal clase de trata de tenerle en mi vida. Se que yo nunca le podria salir de mi mente, pero un milagro pequeno le haria mina. Yo siempre lo deseo.

ps: btw, itu gambar grafik saya yang buat lho. Bagus khan? hahaha…

Posted in Curhat, Jurnal Hari Ini | Leave a Comment »

Waiting For HELLBOY II: The Golden Army

Posted by Danang Pramudya on July 11, 2008

Hah! Hari ini nih film udah main di Amrik. Wish it good luck! Tapi kapan ya di Indonesia? Duh, mudah-mudahan besok udah midnight. Saya pengen nonton ah besok kalo beneran dah midnight. Oh ya, tapi kan besok rencananya mau ke closing PRJ. Waduh, so much agenda tomorrow.

Anyway, I love HellBoy. Apalagi sama sutradaranya. Siapa sih yang nggak kenal Guillermo Del Toro (Hell Boy, Blade II, Pan’s Labyrinth, The Orphanage (Producer))? Dia membuat film fiksi superhero dan fantasi menjadi sangat artistik. Ditambah duet mautnya dengan DOP top Guillermo Navarro (Stuart Little, From Dusk Til Down, Hell Boy, Spy Kids, Pan’s Labyrinth), pasangan ini selalu menghadirkan film dengan gambar-gambar yang luar biasa. Selain itu Del Toro juga mampu membuat superhero genre Hollywood crap menjadi film dengan artistik yang cukup menjanjikan.

Apa yang saya suka dari HellBoy? Berikut list-nya:

  • Sutradaranya, Guillermo Del Torro.
  • Karakter si Red (HellBoy). Dia paling sering ngomong, “Owh! Crap!” It feels cool when he said it. Selain itu nih karakter saya banget! Cuek abis! Namun a very good and loyal lover, hahaha!
  • Konflik identitas si Red. Dia ini sebenernya adalah setan/iblis jahanam yang kalo gambaran ala Amrik-nya seluruh badannya berwarna merah, punya tanduk dan buntut. Namun dia tidak memilih kejahanaman sebagai jalan hidupnya. Otherwise, dia memilih untuk menjadi superhero.
  • Karakter si Abe. Emh, cool dan asik banget. I wish I have his ability.
  • Story-nya. Dramatic, intense, thrilling, and exciting.
  • Artistiknya. Amazing!
  • Cinematography? Boleh lah!

That’s all! Pengen nonton, pengen nonton, pengen nonton!!!

Berikut adalah kutipan dari KapanLagi.com:

KapanLagi.com – Pemain: Ron Perlman, Selma Blair, Doug Jones, James Dodd, John Alexander, Luke Goss, Thomas Kretschmann

Pintu gerbang neraka telah dibuka dan mahluk-mahluk penghuninya yang lama tertidur pun siap keluar untuk menguasai bumi. Kehancuran tak lagi dapat dihindarkan.

Satu-satunya harapan bagi keselamatan bumi hanyalah Hellboy. Hellboy sebenarnya adalah penghuni ’sisi lain’ yang terdampar di bumi dan akhirnya menjadi bagian dari BPRD (Bureau for Paranormal Research and Defense). Biro ini secara rahasia menjadi satu sektor pertahanan Amerika dari sisi paranormal. Namun dengan adanya serangan ini, FBI terpaksa harus mengakui keberadaan BPRD.

Mampukah Hellboy dan BPRD mengalahkan Sang Pangeran yang berusaha membangkitkan Pasukan Emas milik ayahnya untuk menguasai bumi?

Film besutan sutradara Guillermo del Toro yang mengambil lokasi pengambilan gambar di berbagai tempat di Eropa ini akan dirilis Universal Pictures Juli mendatang. (kpl/roc)

Posted in Film | Tagged: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Marketing ala Counter VI Balgebun

Posted by Danang Pramudya on July 9, 2008

Kedua gambar di atas diambil di Balgebun, Balik Gedung Bundar, nama kantin kebanggaan warga Fasilkom. Saya mau membahas sedikit tentang permainan marketing yang diterapkan para penjaja makanan dan minuman yang berdomisili di Balgebun ini.

Kalo teman-teman pernah dengar istilah TQC, TQM, atau TQS, dalam postingan saya kali ini akan sedikit banyak membahas tentang penerapan strategi TQS pada gaya berjualan di Balgebun. Seperti teman-teman ketahui, TQS (Total Quality Service) adalah layanan yang berorientasi pada kualitas. Kualitas yang dimaksud adalah kualitas pelayanan itu sendiri. Kualitas produk mungkin bisa dijadikan nomor dua atau kesekian. Karena pada prinsipnya, memang customer lah yang pada akhirnya akan menilai kualitas dari sebuah produk (perceive quality).

Di kantin Balgebun ini ada sekitar 13 counter. Ada 9 counter yang menjual makanan, 3 counter menjual minuman, dan 1 counter menjual snack dan barang kebutuhan rutin, dari tisu sampai pembalut. Nah, masing-masing counter punya gaya berjualan tersendiri, dari yang teriak-teriak ala pedagang Mangga Dua, sampe yang adem ayem. Makanan yang dijajakan pun juga cukup variatif, mulai dari nasi rames sampai Japanese Food tersedia di sini.

Namun pada akhirnya, counter yang paling kreatif lah yang menang (baca: paling laris). Saya nyebut nama aja ya. Counter VI milik Ibu Dini sudah menjadi pengetahuan publik, adalah yang paling laris. Mari kita selidiki strategi yang digunakannya dalam membuat counternya menjadi paling terkenal sampai ke negeri seberang (fakultas lain maksudnya). Kita bicara tentang 6P (Product, Price, Place, Promotion, People, Public Relation) di sini.

Pertama produk. Apa sih yang dijajakan Bu Dini di sini? Nasi Rames. Lengkap dengan lauk pauknya yang beraneka ragam dan rasa. Mau yang pedas ada, yang gurih ada, bahkan sampai yang ala lidah orang Jawa, alias yang manis-manis gurih, ada juga lho. Mulai dari Ayam Bakar bumbu balado, sampai tempe bacem, nasi kuning sampai soto ayam dan gado-gado, komplit. Rasanya lumayan lah. Cukup bisa memuaskan lidah kok. Selain rasa, kemasan mungkin juga menjadi pertimbangan. Dibanding counter yang lain, cara penyajian makanan yang dijual di counter Bu Dini cukup menarik. Ini menjadi comparative advantage yang lain dari counter ini.

Yang kedua adalah harga. Semua orang tahu, counter Bu Dini menjual makanan yang relatif lebih murah dibanding counter yang lain. Selain murah meriah, strategi social approaching juga menjadi kekuatan. Misalnya untuk mahasiswa-mahasiswa yang lagi kesulitan ekonomi, kerap kali Bu Dini memberikan diskon harga ataupun gratis sama sekali. Investasi yang hebat bukan?

Berbicara tentang tempat, kayaknya yang satu ini bisa menjadi bahasan yang menarik. Counter Bu Dini terletak di paling ujung counter, sehingga tersedia space yang cukup lebar untuk menempatkan tambahan meja untuk menaruh lauk pauk lain yang dijajakan. Selain itu, di counter ini juga telah tersedia space yang lumayan besar untuk lalu lalang orang dan tempat mengantri makanan. Apakah memang Bu Dini yang jenius dalam memilih tempat atau memangĀ  dia sangat hoki mendapatkan tempat yang paling strategis ini? Kita tanya ahli Feng Shui aja kapan-kapan.

Keempat adalah mengenai promotion. Nah, ini mungkin adalah strategi paling menonjol yang diterapkan Bu Dini. Saya sebutkan beberapa event yang seringkali dilakukan Bu Dini dalam mempromosikan jualannya. Yang pertama adalah bagi-bagi buah gratis. Kerap kali pembeli makanan dihadiahi semangkok kecil buah gratis untuk pencuci mulut. Tentu ini memberi kesan dan nilai positif bagi pembeli. Yang kedua adalah strategi “cuci gudang”. Dulu, (nggak tahu ya sekarang masih apa enggak) saya seringkali berkunjung ke dekat-dekat counter Bu Dini menjelang jam tutup kantin. Maklum aja, pada jam-jam segitu, Bu Dini lagi cuci gudang, alias memberi makanan secara gratis. Hmm.. Asik banget tuh.

Mengenai Persona, Bu Dini memanglah orang yang sangat ramah, lugu, keibuan, sekaligus karismatik. Ini merupakan daya tarik tersendiri bagi mahasiswa-mahasiswa di Fasilkom. Menyenangkan mengobrol sama orang ini. Dari cerita-cerita yang pernah ia berikan, tampak sekali kebijaksanaan yang menyelimuti pribadi Bu Dini ini. Ikatan emosional antara penjual dan pembeli pun terbentuk. Hubungan dekat yang bukan hanya sekadar pembeli dengan penjual terimprove menjadi loyalty consumer relationship. That’s what called service.

Yang terakhir adalah Public Relation. PR marketing adalah salah satu strategi marketing terampuh yang banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan multi billion dollar pada jaman sekarang ini. Bahkan Counter Bu Dini pun juga menerapkan strategi ini. Misalnya dari penyediaan jasa catering nasi kotak pada event-event lokal maupun yang lebih besar. Otomatis nama Bu Dini semakin kuat sebagai brand.

Yang ingin saya komentari adalah betapa hebatnya Ibu Dini ini. Saya rasa dia sudah melalap semua buku marketing karena beliau mampu menerapkan marketing mix yang efektif pada usaha kecilnya ini. Dibandingkan dengan counter lain, jelas marketing ala Bu Dini juah lebih advanced dan terstruktur. Saya benar-benar takjub lho. Perlu beberapa tahun bagi saya untuk mempelajari seluk beluk marketing mix, namun hanya beberapa menit buat saya untuk menyadari implementasi TQS dan marketing mix yang efisien dan efektif pada counter VI Balgebun.

Posted in Pemikiran | Tagged: , , , , , | 2 Comments »

Status??? Hare Gene???

Posted by Danang Pramudya on July 8, 2008

Emmm… Gimana ya? saya agak geli aja denger orang ngomongin tentang status. Status? Hari gini masih ngomongin status? Temen-temen pasti udah nebak “status” macam apa yang saya maksudkan dalam tulisan saya. Bukan status [single, in a relationship, married, etc] ya, yang saya maksud. Maksud saya adalah status ekonomi dan kehormatan.

Emangnya kita hidup di kerajaan? Kita ini hidup di Republik. Nggak seharusnya tuh hari gini kita masih saling membeda-bedakan antar sesama manusia hanya berdasarkan status ekonomi dan kedudukan dalam masyarakat. Jujur aja, walaupun agak geli ngedenger orang-orang pada ngeributin tentang status, saya juga sekaligus pengen marah. Serius lho.

Nggak sekali atau dua kali ini aja, tapi udah cukup sering. Saya pernah “bercerai” dari kelompok teman-teman saya karena mereka sangat “status sensitive”. Yang diomongin nggak jauh-jauh dari hal-hal seputar material things. Geli tau nggak sih. Mending ya kalo mereka punya those material things dari hasil jerih payah mereka sendiri. Ini dapet duit dari orang tuanya aja udah belagu. Cape degh!!!

Ada lagi oknum ngomongin tentang tetangganya. Jadi ceritanya nih oknum emang hidup di kawasan komplek yang cukup elit, yah menengah ke atas lah. Oknum X (sebut aja kayak gitu), punya tetangga. Nah tetangganya ini punya anak cowok, sekitar hampir kepala 3 lah umurnya. Nah, ni anak cowok udah nikah sama pembantunya si oknum X ini. Terus yang terjadi adalah si oknum X ini memecat sang pembantu. Gara-gara orang tua si anak cowok nggak setuju anak cowoknya nikah ama pembantu. Karena si oknum X nggak enakan sama tetangganya, makanya dia mecat pembantunya. Emmh! Jadi melanglang buana-lah pasangan muda yang baru menjalani hidup baru ini. Kata ortu si anak cowok, “pokoknya, papa sama mama akan tetep ngebuka pintu rumah papa mama lebar-lebar buat kamu. Tapi nggak buat istri kamu! Kalo kamu mau balik ke rumah ini, silahkan. Anak kamu boleh ikut, tapi istri kamu, NO WAY!!” Such a bittersweet…

Hmmh.. Saya sendiri bingung ama orang-orang jaman sekarang. Anaknya kawin sama pembantu kayaknya malunya udah kayak kronis banget gimana gitu.. Tapi kalo anaknya kawin sama anak koruptor, waduh, bangganya malah menjadi-jadi. Heran saya!

Lalu saya diskusikan hal ini sama eyang saya. Kata eyang, ibu bapakku mungkin akan bertindak hal yang sama seperti tetangganya si oknum X itu. Tapi saya dengan yakin menyanggah. Nggak mungkin! Saya kenal ibu bapak saya!

Posted in Curhat, Pemikiran | Tagged: , , , | 3 Comments »

About John Hancock

Posted by Danang Pramudya on July 7, 2008

[INTERMEZZO ON]

[11:36] Dirga: boy nonton hancock yuk bareng anak2
[11:36] danang.pramudya: anak2 siapa?
[11:37] danang.pramudya: anak2 siapa????????
[11:37] Dirga: 2003 lah
[11:37] Dirga: itu loh yang di milis
[11:37] danang.pramudya: ah
[11:37] danang.pramudya: males
[11:37] Dirga: knp bro?
[11:37] danang.pramudya: gw dah 2 kali ntn
[11:37] Dirga: halaaaah pantesan
[11:37] danang.pramudya: dalam 2 hari beruntun
[11:38] Dirga: pasti deh kalo uda gk nonton
[11:38] Dirga: pasti uda nonton :)
[11:38] Dirga: gak lucu loh
[11:38] danang.pramudya: bagus lho
[11:38] Dirga: iya tau
[11:38] danang.pramudya: ntn aja gih sono
[11:38] danang.pramudya: bagus banget
[11:38] Dirga: makannya pengen nonton
[11:38] danang.pramudya: maka-nya
[11:38] danang.pramudya: bukan makan-nya
[11:38] Dirga: harapannya tugas anum beres 2 hari ini
[11:38] Dirga: KP tinggal sidang
[11:38] danang.pramudya: emg kpn ntnnya???
[11:38] Dirga: jadi mo have fun
[11:39] Dirga: blum tau tuh
[11:39] Dirga: waktunya belum jelas

[INTERMEZZO OFF]

Pada setuju nggak kalo Hancock saya sebut sebagai film bergenre superhero paling well made yang pernah dibuat Hollywood? Kalo menurut saya sih sangat setuju. Saya aja sampai rela nonton 2 kali gitu lho. What a perfect movie after all…

Setidaknya, denger dari orang-orang yang udah nonton nih film semuanya bilang bagus kecuali si Gembrot. Heran nih orang selalu berkebalikan ma saya. Kalo saya bilang film bagus, dia bilang jelek. Kalo saya bilang jelek, dia bilang bagus. Bodo ah!

The Very Fresh Superhero Story

Hancock jauh lebih segar dari film-film bergenre serupa. Karena banyak unsur fresh comedy-nya di dalam skenarionya. Ceritanya adalah tentang seorang berkekuatan super bernama John Hancock yang tidak tahu apapun mengenai identitas dirinya, menjalani hidup sebagai either superhero dan sampah masyarakat sekaligus. Dia memang menyelamatkan orang, tapi di satu sisi Hancock juga mempunyai kegemaran unik, menghancurkan benda-benda, mulai dari jalan aspal, tempat duduk, gedung-gedung bertingkat, papan tanda penunjuk jalan, kereta api, dan segala macam benda publik lainnya.

Selain kehidupannya sehari-hari sebagai gembel dan pemabuk, lengkaplah atribut Hancock sebagai sampah masyarakat dan dibenci semua orang. Keadaan yang kontras memang, selain profesi utamanya sebagai pahlawan kota Los Angeles.

Suatu hari dia menyelamatkan nyawa seorang agen PR terkenal di kota Los Angeles. Sebagai balas budi, Ray, nama pria ini, menjadi terobsesi untuk memperbaiki citra John Hancock sebagai sampah masyarakat. Well, dari sini sudah dapat diketahui kemana cerita ini akan berlanjut.

Namun konflik utama Hancock bukannya pada pertikaian dengan musuh besarnya, seperti pada film-film superhero lainnya, namun pertikaian dengan jati dirinya dan orang-orang tersayang yang pernah berada pada masa lalunya. Hal ini yang membuat Hancock menjadi film superhero paling dramatik, mengharukan, sekaligus paling segar yang pernah dibuat Hollywood.

The Very Humble Filming and Scenario

Bukan karakter Hancock-nya yang humble, tapi justru pada pengfilmannya. Dengan unsur komedi (tapi nggak slapstick) yang kental, ditambah alunan musik ala French humble drama movies, film ini jadi punya greget dan keistimewaan pada kesan yang dimunculkan. Peter Berg sebagai sutradara, saya nilai cukup jenius dalam menentukan style yang dipakai pada filming-nya. Ditambah juga dengan style fotografi ala shaking cam-nya.

Dengan tidak menepis atribut-atribut generik pada film-film superhero lainnya, okay, saya akui, banyak sekali pengadeganan ala superman, spiderman, or even x-men. Tapi tampaknya skenario film ini membungkusnya dengan nuansa keluguan dan ke-naifan dari Hancock sendiri. Seperti ketika Hancock harus mengucapkan kata “good job” kepada polisi-polisi yang bekerja sama dengannya. Jadi, hal-hal ala superhero yang menurut saya agak menggelikan pada film-film superhero lainnya, menjadi tidak berefek apa-apa pada film ini. What a good scenario, actually!

I Think It Should Be Gold Film

Overall, film ini oke punya lah. Skenario mantap, gambar boleh lah, musik asyik, akting amazing, dan pantes banget kalo film ini diganjar dengan medali emas…

Nice, Hancock, nice!

Posted in Film | Tagged: , , , , , , | 1 Comment »