Mendengar review dari beberapa teman, termasuk juga melihat data The Numbers, The Dark Knight tiba-tiba berubah menjadi “a must see movie” saya bulan ini. Padahal sejak melihat trailer film ini beberapa bulan yang lalu, saya sangat optimis bahwa film ini bakal saya skip, karena alasan tidak mampunya saya menikmati prequel-nya, Batman Begins.
Beberapa teman bilang, “Nang, lo harus nonton nih film! Sumpah keren abis. Heath Ledger (alm), luarrr biasa.” Terus saya buka The Numbers dan menemukan fakta bahwa dalam 3 hari diputar di bioskop Amerika Utara, film ini meraup USD 158 M. Wow! Spectacular income!
Akhirnya muncul rasa penasaran saya yang sensasinya persis kayak orang yang mau buang air besar. Tiba-tiba dan harus segera dikeluarkan. Sama kayak rasa penasaran saya, tiba-tiba, dan harus segera dipuaskan. Well, akhirnya saya memaksa diri (meski dengan kondisi yang setengah fit), nonton film ini di Citos 21 Studio 1 (Studio favorit saya di Jakarta).
Datang dengan ekspektasi yang luar biasa pada film ini, adegan-adegan teaser The Dark Knight memunculkan decak kagum saya. Betapa licik, jenius, serakah, dan jahatnya tokoh Joker. Gosh, saya berfikir, bagaimana ya nanti cara Batman mengalahkan orang gila ini?
The Dark Knight bercerita tentang kelanjutan aksi musuh besar Batman, who is Joker, dalam tujuannya mencapai keadaan dunia yang chaos. Apapun ia lakukan demi kepuasan dirinya sendiri. Joker pun dalam tujuaannya ini melibatkan banyak pihak, yang satu demi satu mempreteli kebobrokan sosial kota Gotham, seperti sindikat mafia, polisi korup, pebisnis kotor melawan para penegak hukum kota Gotham. Dalam hal ini muncul tokoh bernama Harvey Dent, seorang jaksa wilayah yang dikenal sebagai hero of the city karena telah menjebloskan banyak koruptor dan mafia busuk ke dalam penjara.
Namun Joker muncul sebagai bukan hanya tokoh di balik layar, namun juga di depan layar. Ia merekayasa semua skenario pengkondisian yang membuat keadaan chaos terpenuhi. Dan sayangnya (a lil’ spoiler), ia berhasil menciptakan keadaan ini dengan begitu hebatnya, sampai semua orang di dalam studio mengangakan mulutnya lebar-lebar, saking kagumnya dengan situasi dan kejahatan yang diciptakan oleh Joker. Batman pun dibuat jungkir balik nggak karuan karena fokusnya terpecah either itu menghabisi Joker atau membebaskan wanita yang dicintainya, atau menyelematkan ratusan nyawa lain yang tidak bersalah.
Spectacular “ala Hollywood”
Kejahatan, kesadisan, kelicikan, dan ketidak manusiawian tokoh Joker dalam film ini tidak lepas dari kejeniusan kuartet penulis yang terdiri dari Nolan bersaudara (Christopher dan Jonathan), Bob Kane, dan David S. Goyer meramu alur cerita yang dahsyat yang mungkin bagi kebanyakan orang mampu membuat cinematic orgasmo. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya baru mendapat info dari IMDb, film ini berhasil menduduki peringkat pertama IMDB top 250 Movies, yang setelah puluhan tahun diduduki oleh The Godfather (1972). Well, well, congratulations.
Christopher Nolan (Memento (2000), Batman Begins, Insomnia) yang juga selaku sutradara ternyata mampu menghadirkan permainan sinematografi yang spektakuler yang mampu mebuat penonton tak berkedip. Grafik ketegangan yang naik turun memang sangat cocok diimplementasikan pada film ini mengingat durasinya yang cukup panjang (hampir 2,5 jam). Seolah-olah penderitaan empati yang dialami penonton benar-benar dipermainkan terus menerus tanpa henti seperti umunya di sinetron-sinetron Indonesia, kayak Cinta Fitri, dkk. Sampai-sampai saya nanya terus ke Adhe, teman saya, “belom abis, Dhe?” pada setiap film ini mencapai anti klimaks. Setiap kali ada kejadian klimaks dan diselesaikan pasti ada terus kelanjutannya. Saya lantas berfikir, “Nggak mati-mati nih si Batman, kan kalo dia mati, filmnya abis.” But overall, how spectacular the script is… How could they make the plot like this? I wish I could write in the same level.
Pesan Moral Tentang Kepahlawanan
Satu pertanyaan saya dalam film ini. Siapakah pahlawan sejati kota Gotham? Sosok manusia kelelawar yang aslinya adalah seorang milyuner ego sentris maniak wanita, atau Harvey Dent sang Jaksa wilayah, atau bisa juga dimasukkan Letnan Gordon yang total mati-matian berusaha menyelamatkan kota Gotham dari segala sepak terjang kriminal.
Atau bahkan karakter Joker bisa disebut sebagai pahlawan karena telah memporak-porandakan aktivitas mafia busuk dan menunjukkan kebobrokan politik kota Gotham yang tercermin dari banyaknya polisi yang korup, pebisnis dan politisi kotor. Tapi saya tidak setuju kalau dia disebut pahlawan, karena tujuannya adalah menciptakan situasi yang chaos dengan semua unsur baik hitam atau putih termasuk di dalamnya. Tapi di atas segalanya, tampaknya film ini seperti lebih tentang Joker daripada Batman. Bahkan saya sempat mengira bahwa The Dark Knight itu Joker lho. Hmm..
Lagi-lagi penonton diarahkan untuk cenderung memilih Batman sebagai pahlawan buat mereka (bukan buat kota Gotham), karena banyaknya pengorbanan yang ia lakukan (termasuk membuat dirinya sendiri terasa seperti pecundang ketimbang pahlawan).
Patut Mendapat Banyak Award
Tentu film ini sangat patut mendapat banyak award, dengan kualitas di dalamnya yang hampir seluruhnya mempesona. Penonton pertama kali yang memberi award karena dengan gegap gempita membuat PH untung puluhan juta dollar sejak 3 hari pertama film ini rilis. Lalu selanjutnya saya setuju dengan pendapat teman saya yang mengatakan bahwa (alm) Heath Ledger panats mendapatkan Oscar atas penampilan briliannya.
Golden Award from me to this movie.











Sampai sekarang pun saya masih senang nonton film silat kolosal ala Asia Timur. Sekarang Cina udah bisa bikin film yang super duper keren dibanding keluaran Hongkong yang dari hari ke hari makin cupu aja produksinya (eg: Kungfu Dunk!). Korea belum lama ini ngeluarin The Restless. Baru sempat saya tonton kemaren DVD-nya, setelah sejak 3 bulan yang lalu saya menaruh DVD tersebut di kotak “Watch ASAP!” milik saya.




Pada setuju nggak kalo Hancock saya sebut sebagai film bergenre superhero paling well made yang pernah dibuat Hollywood? Kalo menurut saya sih sangat setuju. Saya aja sampai rela nonton 2 kali gitu lho. What a perfect movie after all…