Another Entertaining Movie from DreamWorks Animation SKG
Posted by Danang Pramudya on June 16, 2008
[INTERMEZO's started]
“Pintu teater satu telah dibuka. Bagi penonton yang telah memiliki tiket pertunjukan teater satu dipersilahakan memasuki pintu teater satu.”
Pukul setengah delapan kurang lima menit, saya bersama teman saya, Ajeng yang membawa keponakannya lagi mengantri memasuki pintu teater yang memang pada saat jam pertunjukan ini sangat penuh. Sebelum tiba-tiba Aldo, keponakan Ajeng yang masih berusia 4 tahun nyeletuk, “Buk Lik (baca: bule’), di dalem ada kamar mandinya ngga?”
Dengan penuh cinta kasih dan polosnya Ajeng menjawab, “Nggak ada sayang, tapi nanti kamu kalo mau pipis keluar lagi. Kamar mandinya di situ tuh (sambil menunjuk ke arah WC pria di lobby Hollywood KC yang klasik). Emang kenapa, Do?”
“Aldo pengen pup!”
Lagi-lagi Ajeng dengan polos bertanya balik, “kapan?”
Gubraakk!!! Ajeng, emang orang mau pup ada jadwalnya kayak jadwal pelm? Ck, ck, ck! Untung Aldo nggak ngejawab “Udah di ujung, buk lik”
Intinya, kita telat sekitar 10 menitan nonton Kungfu Panda karena mendadak naluri keibuan Ajeng muncul, dan dengan semangat menggebu-gebu Ajeng segera menyeret Aldo ke WC wanita untuk ditemani pup (Ajeng lupa bahwa dia membawa baby sitter Aldo). Since tiket dipegang Ajeng, saya juga terpaksa tidak menikmati film ini dari awal.
[INTERMEZO's ended]
Masuk ke studio diiringi dengan gelak tawa penonton yang udah duluan berada di dalam. Ajeng memang sengaja mengatur posisi duduk Ajeng-Danang-Aldo-Babysitter karena dia nggak mau duduk di sebelah Aldo pas nonton. Dan akhirnya saya tahu alasannya. Apa lagi kalau bukan gara-gara Aldo yang kenakalan dan kebawelannya mengingatkan saya sama sepupu saya bernama Diva yang pernah saya juluki “The Demon inside an Angel”
Ceritanya, Kungfu Panda ini mengisahkan karakter utama berbentuk Panda (walau ayahnya adalah sesosok burung bangau). Atau mungkin Po, Si Panda aslinya adalah burung bangau yang karena terlalu hobi makan sampai mengalami obesitas dan berubah menjadi seperti panda? Whatever.. Si Po ini adalah anak seorang pembuat mie yang bercita-cita menjadi ahli kungfu (baca: kangfu) terkenal. Tapi kayak biasalah, Hollywood craps, dari awal emang udah diset ada karakter yang pada awalnya skeptis menjadi tidak skeptis lagi, dan bahkan memberi petunjuk kepada tokoh utama.
Obsesi Po yang berniat menjadi ahli kungfu secara kebetulan terwujud ketika Oogway Master, menunjuk Po menjadi pendekar naga instead of jago-jago kungfu seperti tiger, crank, monkey, snake, atau mantis. Pendekar naga ini yang akan mengalahkan tokoh antagonis yang memiliki kekuatan kungfu sangat dahsyat. Bahkan gurunya sendiri, Master Shifu (murid Master Oogway, guru dari 5 pendekar) Hal tersebut hanya karena Po yang sudah dengan desperate pengen nonton penunjukan pendekar naga tidak bisa masuk ke dalam arena karena telat. Namun dengan berbagai daya upaya, dia berhasil masuk ke dalam arena bersamaan ketika Oogway Master hendak menunjuk Tiger sebagai pendekar naga. Jadi si Po ini muncul aja gitu ke depan muka Master Oogway.
Dari awal, Oogway sudah mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini. Semua memiliki jalan masing-masing. Dari sini kita udah tahu cerita ini bakal dibawa kemana. Ada satu quote yang berkesan buat saya, ketika Master Oogway berkata kepada Po, “Yesterday was history, tomorrow is mistery, but today is a gift. That’s why it’s called present (hadiah)”. Kemudian cerita berlanjut dengan petualangan Po mempelajari ilmu kungfu bersama guru Shifu dengan cemilan-cemilan ringan seperti momen-momen krisis kepercayaan diri, lalu akhirnya bisa kungfu, dan putus asa yang disusul seketika dengan momentum menemukan jawaban.
Made by Perfection
Sudah menjadi tabiat Dreamworks SKG (Spielberg, Katzenberg, Geffen) yang selalu menanamkan unsur perfection di dalam setiap karya mereka. Film ini pun juga dibuat dengan perfection of technical stuff yang bisa membuat siapapun amazed. Kualitas grafik yang menakjubkan, animasi 3D yang luar biasa mulusnya, bahkan penyutradaraan yang tidak setengah-setengah. That’s why produksi film animasi 3D selalu menghabiskan bujet minimal 150 juta USD.
Susah untuk Dicela
Tidak mudah memang mencari kelemahan dari pembuatan film-film Hollywood yang berasal dari dapur-dapur film beken. Apalagi Dreamworks yang sudah menghasilkan banyak karkater seperti Shrek misalnya. Yang jelas film ini menghibur, meski bukan untuk konsumsi balita, karena Aldo pun memaksakan dirinya untuk tertawa ketika seluruh penonton (termasuk saya), tertawa tergelak-gelak.
“Aduh, kocak banget ya filmnya” Aldo berseru dengan tone yang dipaksakan seperti anak kecil lagi dipalak preman yang baru keluar dari penjara Cipinang.
Ataukah memang film-film seperti ini sasaran pasarnya adalah remaja? Karena bahkan anak kecil pun merasakan kebosanan pas nonton ini. Yap, Dreamworks punya PR yang harus diselesaikan yakni bagaimana caranya menarik minat anak-anak untuk menikmati film-film kartunnya, dalam artian bagaimana caranya agar film ini dinikmati ceritanya, bukan hanya gambarnya oleh anak-anak kecil.
And it’s Bronze Quality
Karena film ini sudah berhasil menghibur saya, dan juga menanamkan petuah-petuah maut dari salah satu karakternya (Master Oogway), tidak adil kalau saya bilang film ini jelek. Tapi juga menurut saya nggak bagus-bagus amat. Ya sudah, medali perunggu kalau begitu. Congratulations!!!!
[INTERMEZO: Hati-hati jika mengajak anak kecil menonton film ini. Pastikan mereka sudah pup sebelum pergi ke bioskop. Selain berpotensi telat masuk studio, juga membuat kenikmatan anda menonton berkurang gara-gara anak kecil yang anda bawa, kentut dengan membabi buta di dalam studio]











rimphy said
Anak kecil jgn diajak nonton bioskop, ntar gedenya rusak kaya elo…
Mending dibeliin dvd aza…nonton didampingi orang tua. Kalo dibioskop mana bisa, kecuali mau dibunuh penonton laen gara2 berisik
Jhenc said
Aduh pramudya, maapin aldo yah
janji deh nda bawa dia lagi. kekekekekek
senangnya membuatmu menderita