Coffee, Wine, Cotton, & Bread

Danang Pramudya’s journey – It is life indeed

Archive for June, 2008

Hanei Experience

Posted by Danang Pramudya on June 30, 2008

Buat kategori blog tentang kuliner kayaknya enak juga. Berhubung saya sangat suka makan. Dan dari dulu saya udah pengen ngerencanain buat kategori tentang review kuliner di blog ini, tapi kelupaan mulu. Mau belajar jadi kayak Pak Bondan “Mak Nyuss” Winarno nih ceritanya, hehehe..

Oke deh. Jadi tempat makan pertama yang jadi kehormatan mendapat ulasan di blog saya adalah restoran Japanese bermerk “Hanei”. Adanya di Senayan City lantai LG dan PIM 2 lantai 3 (sebelah XXI). Dagangan utama Hanei sebenarnya shabu-shabu, tapi di sini juga menjual makanan khas Jepang lainnya yang semuanya enak-enak.

Jadi ceritanya hari jumat minggu lalu, saya dan keluarga (Ibu, Nino, Om Kus beserta istri dan kedua anaknya) janjian ketemu sama Te Nana di Senayan City. Rencanya pengen makan di Urban Kitchen. Tapi Masya Allah, nih tempat penuhnya kayak pasar induk. Yang bikin gedeg, ada satu meja untuk 8 – 10 orang ditempatin cuma oleh 2 orang. Nyebelin nggak sih? Padahal banyak meja kosong untuk berdua sampai berempat.

Lalu kita nyari tempat makan lain. Ngeliat-liat di lantai LG, Ibu saya tertarik ngeliat promo Mandiri 50% off. Karena yang nraktir Om Kus, dan Om Kus punya Mandiri Card, ya sudah, kita jadinya makan di sini.

Dan emang kita nggak salah pilih. Semua makanan yang dipesen, enak semua. Shabu-shabunya (seafood), disajikan dengan 2 jenis kuah. Kuah yang warna merah itu seger banget. Terus saya dan Ibu mesen Shake Sashimi Salmon, dan beberapa jenis sushi seperti Dragon Roll, Unagi Roll, Seafood Roll, Californian Roll, sama Salmon Skin Roll (kalo nggak salah namanya). Waduh, nikmat banget.

Belum lagi nyuil-nyuil pesenan Nino dan Raka seperti Salmon Don sama Tempura-nya. Bahkan Sup Miso-nya enak juga. Nggak kayak di resto-resto Jepang yang lain yang isinya MSG semua. Oya, for info, restoran ini ngakunya sama sekali nggak pake MSG di semua menunya.

Belum puas makan di Senci, hari senin kemarin, Ibu saya ngajakin Te Nana, Te Dian, Nino, Raka, Diva, dan saya makan di sini lagi. Tapi kali ini di PIM, karena kata Te Dian, di PIM juga ada. Berangkatlah kita rame-rame ke tempat ini lagi untuk kedua kalinya. My Mom’s treat.

Lagi-lagi, saya tidak memesan makanan macam-macam, but Sushi. Kali ini pesanan saya Unagi dan Salad Roll. Aduh, emang kerasa banget nikmatnya. Jadi pengen terus. Tapi, mengingat harga restoran ini yang cukup expensive, yo wes lah. Tahan deh nafsunya.

Tapi saya menemukan menu baru yang nggak bisa saya lupakan kelezatannya. Berhubung saya suka banget sama yang namanya es kacang merah, ternyata di sini juga ada es kacang merah, saya langsung pesan aja. Namanya di daftar menu itu kalo nggak salah ogaru ice cream (duh saya lupa). Dari semua es kacang merah yang pernah saya cicipi di banyak restoran, ini yang paling enak.

Perbedaan yang paling mencolok antara di Senci dan di PIM adalah kualitas layanannya. Di Senayan City jauh, jauh lebih baik. Kalo ocha di gelas kosong, tanpa diminta langsung diisi. Kalo di PIM, boro-boro langsung di-refill, minta sampe 3 kali baru dilayanin. Terus juga, mana ada menu yang datengnya telat banget. Argh, ngurangin kenikmatan makan tuh. Jadi, rekomendasi saya, untuk best experience mendingan Hanei yang di Senayan City-lah. Biar kecil, tap enak dan nyaman.

Yakimechi (nasi goreng) enak, unagi don enak, sayang nggak jual ramen.. Arghh!!! semuanya enak! Pengen lagi kesana. Minta traktir siapa lagi ya?

Rekomendasi

Harga: $$$$$$$
Rasa: 8.5/10
Tempat: 7/10
Servis: 6/10

Posted in Kuliner | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

By Your Side by The Supersoul Jazz Performance in Blok M Plaza

Posted by Danang Pramudya on June 26, 2008

Lagu ini orisinilnya dinyanyikan oleh Sade. Ditulis sendiri oleh penyanyi bernama lengkap Sade Adu. Ceritanya tentang ungkapan rasa sayang yang kepada kekasih yang dimanifestasikan dengan kesetiaan yang luar biasa. Kalo baca lirik-nya dalem banget. Tadi pagi sebelum berangkat ke kampus, saya puter lagu ini di iTunes sampe berkali-kali. Entah mungkin apa lagu ini lagi masuk dalam jiwa saya atau memang kebetulan saja saya lagi dalam mood yang melankolik jadi catchy sama lagu ini.

Nah, ceritanya habis muter-muter nyari parfum, saya putusin untuk makan di Blok M Plaza. Karena nggak mau makan sendirian, saya jadinya manggil si Tita, buat nemenin saya makan. Sembari nunggu Tita nyampe, kebetulan ada performance dari Band yang jazzy abis. Ugh, saya suka banget dengerin jazz live music. Tapi ironinya, selama 5 tahun hidup di UI, saya belum pernah lho dateng ke JGTC.

Anyway, nih band punya vokalis cewek bersuara jenis Alto yang keren banget. Sayang saya nggak tahu apa nama band atau siapa nama vokalisnya. Perhatian saya mulai tertuju pada performance band ini ketika mereka membawakan lagu “Good Times”-nya Edie Brickell.

Setelah saya selesai makan, mereka membawakan lagu ini nih. Saya bilang ke Tita, “Ta, sumpah, gue suka banged lagu ini. Bentar ya. Gue mau ngeliat dia nyanyi.” Mulailah saya terlarut dalam alunan melodinya yang indah (btw, saya lebih suka arrangement mereka daripada orisinilnya). suara si vokalis juga dahsyat. Buat saya merinding. Liriknya itu lho, bener-bener dalem. Nih baca aja kalo nggak percaya.

you think i’d leave your side baby
you know me better than that
you think i’d leave you down when you’re down on your knees
i wouldn’t do that
i’ll tell you you’re right when you want
and if only you could see into me

oh when you’re cold
i’ll be there
hold you tight to me

when you’re on the outside baby and you can`t get in
i will show you you’re so much better than you know
when you’re lost and you’re alone and you cant get back again
i will find you darling and i will bring you home

and if you want to cry
i am here to dry your eyes
and in no time
you’ll be fine

you think i’d leave your side baby
you know me better than that
you think id leave you down when you’re down on your knees
i wouldn’t do that
i’ll tell you you’re right when you wrong
and if only you could see into me

oh when you’re cold
i’ll be there
hold you tight to me
when you’re low
i’ll be there
by your side baby

Dari dulu kalo saya punya pacar, saya belom pernah ngasih lagu yang isinya bener-bener ngungkapin rasa sayang dengan manifestasi kesetiaan buat pacar saya. Saya pengen ngasih lagu ini buat kekasih saya berikutnya.

Posted in Jurnal Hari Ini | Tagged: , , , | 2 Comments »

Pequeño Secreto Sucio

Posted by Danang Pramudya on June 24, 2008

Cuándo una puerta es cerrada, otra puerta es abierta. Hmmm. Esa cita es bastante a menudo ser oído en las orejas. Yo no sé. ¿Pero,, es en correlación a lo que sucedió en mi vida recientemente? Bueno, yo le daré un sucio pequeño secreto mío.

Acabo de pensar que yo me enamoro de alguien. Pero acabo de se dio cuenta de algo. ¿Hay todavía existe cualquier trauma en mi vida? Pienso, yo todavía lo tengo un poco. Para más que un semestre, yo trato de adorar otra persona, para borrar mi dolor, para olvidarse a las personas que adoré para los últimos varios años. Pero hasta ahora, acabo de encontrar que alguien. Que alguien que roba el corazón justo con una mirada. Y entonces encuentro cualquier información sobre la reencarnación. Que alguien denominó Propósito. Pensé que he sabido Propósito durante mucho tiempo, quizá en mi vida anterior. Yo no sé. Pero es verdadero. Propósito sentía tan verdadero para mí. Yo lo veo en mis ojos. Yo lo veo en mi corazón.

¿Puede llegar a ser Propósito mío? ¿Mi amante? Mi todo. Porque mi sentimiento es crece más fuerte y más fuerte para Propósito de un día para otro. Pensé que Propósito me da un signo. Pero yo no sé. ¿Es justo sólo en mi imaginación?

Posted in Curhat | Tagged: | Leave a Comment »

benar-benar FIKSI dalam FIKSI

Posted by Danang Pramudya on June 23, 2008

[INTERMEZO: Okey, ini bukan karena teman saya Arta mendorong saya untuk terus memperbanyak review film di blog saya, tapi memang karena saya berkewajiban mereview film Indonesia well made yang satu ini. Tapi karena teman saya yang satu itu kebetulan menyemangati saya untuk menulis, saya malah tambah semangat nih...]

Well, seperti biasa, saya nonton film ini dengan my partner in crime, Ajeng (karna dia memaksa saya menonton film-nya ini). Pertama kali diajak Ajeng nonton film ini (btw kita janjian nonton film ini dah lama bo! Dah dari 2 minggu sebelum puter di bioskop), saya sebenarnya oke-oke aja, meski agak pesimis dengan film-film Indonesia. Tapi ketika saya melihat mini poster-nya di 21 cineplex dot com, mata saya langsung tertuju pada lambang festival yang menempel di posternya. Wah, kok tulisannya seperti terbaca PUSAN??? Akhirnya dengan rasa penasaran yang menggebu saya langsung mencari poster dengan size yang lebih besar lewat Om Google.

And, that’s right!! PUSAN Official Selection! Ouch!! This must be a great movie, since it is selected in PUSAN. Perlu diketahui, PUSAN International Film Festival adalah Festival Film terbesar se-Asia (bahkan salah satu terelit di dunia). Kata orang ini Cannes Film Festival-nya Asia. Film-film yang masuk pasti yang kualitas dunia lah.

Janjian nonton di Citos sama Ajeng. Ketemuan pukul 17.00. Tapi dia membuat saya menunggu sampai pukul 17.50. Dengan tidak mengesampingkan perjuangan dia sampai Citos, well, dasar cewek! Namun di Citos udah nggak main lagi ternyata nih film. Pindahlah kami berdua ke PIM.

Tema Psikopat

Di tengah ramainya film horor dan film bertema seks di Indonesia akhir-akhir ini, film Fiksi saya anggap berhasil menggabungkan 2 tema tersebut ke dalamnya. Tapi kalo untuk horor, yaaah, nggak terlalu horor-horor banget sih. Untuk seks, oke laaah! Well, it’s all about a psycho girl actually. Menyeramkan! Akting Ladya Cheryl benar-benar nampol. Saking nampolnya, sampe hapal saya, gaya bicaranya (tadi sudah sempat dipraktekkan di perjalanan pulang bareng Ajeng, tapi kata dia gaya saya kayak kuntilanak).

Ceritanya adalah perjalanan hidup seorang anak jenderal yang punya masa lalu yang kelam karena melihat dengan mata kepala sendiri ibunya mati bunuh diri. Si anak jenderal yang bernama Alisa ini akhirnya tumbuh menjadi anak yang skeptis dan aneh. Bahkan bayangan akan ibunya selalu muncul setiap saat. Dalam perjalanannya ia kabur dari rumah untuk hidup sendiri di rumah susun, tempat lelaki yang dia sukai (diperankan oleh Donny Alamsyah), bernama Bari, seorang penulis, tinggal bersama pasangan kumpul kebonya, Renta (Kinaryosih).

Saat hidup di rumah susun itu, Alisa diperkenalkan oleh Bari pada karakter-karakter penghuni rumah susun itu, dari lantai 1 sampai lantai 9 (yang dihuni oleh hantu). Nah, ada beberapa karakter yang dipilih oleh Bari untuk menjadi bahan cerita yang ia tulis. Intinya ada 3 karakter. Yang pertama adalah karakter Dani, seorang anak muda, namun gay, yang sering dikunjungi pasangannya, yang ternyata adalah Ayah tirinya. Yang kedua adalah karakter Bu Dirah, seorang wanita baya yang hidup bersama kucing-kucingnya dan tidak pernah keluar kamar, kecuali pas buang sampah. Karakter yang terakhir adalah karakter seorang tua renta yang sudah lima tahun tinggal di koridor rumah susun, dan tidak akan pernah mau masuk ke rumahnya karena masalah gengsi.

Masalah utama yang dihadapi Bari, adalah bahwa dia bingung untuk membuat akhir cerita-ceritanya. Kedatangan Alisa membuat semua itu berubah dengan memberikan akhir dari ketiga kisah tadi. Kontan saja saya teringat film American Beauty yang fenomenal, ketika Alisa membantu merancang akhir kisah pasangan gay. Ibu kandung Dani datang ke rumah susun dan menembak Rudi (suaminya, sekaligus ayah tiri Dani, sekaligus pasangan Dani) sampai mati di depan Dani. Dan kisah-kisah tragis pada kedua karakter yang lain membuat batasan samar antara fiksi dan realita pada kisah-kisah yang ditulis Bari.

Cerita Cerdas, Penyutradaraan Oke, Artistik Beautiful, Sound Dahsyat!

Bukan Joko Anwar namanya kalau cerita pada film yang ia garap hanya sekadar kacangan. Jalan cerita yang mengalir (yang membuat penonton terhanyut dari mata air di gunung sampai muara Bengawan Solo), sampai dialog-dialog puitis nan cerdas dan idealis. He is absolutely the best scriptwriter in Indonesia. Dan bukan Joko Anwar juga kalau pada cerita-cerita yang ia buat tidak ada satu aja karakter gay, atau tema tentang gay. He is absolutely gay! Wakakakak (just kidding).

Ada satu dialog dalam film ini yang saya sangat ingat sampai saat ini.

Alisa: Kamu gay?

Gay person: Oh, no, I’m not! But my penis is!

That’s so terribly funny! Well, cerdas juga sih saya akui. Selain dalam dialog, Joko juga bisa mendeskripsikan dalam aksi. Misalnya saat Alisa sedang dipeluk Bari, tiba-tiba tangan Alisa merambah-rambah ke penis Bari. Ouchh!!! Sangat mengena. Tapi, emang dasar lelaki! Dapet rangsangan dikit gitu aja ga bisa nahan!

Tidak lengkap juga kalau belum memuji sang sutradara. Mouly Surya, belum pernah dengar saya nama itu di rimba perfilman Indonesia. Tampaknya seorang pendatang baru. Tapi, karyanya yang satu ini brilian abis. Artistiknya perfect, wardrobe buat tokoh Alisa itu lho. Lucu! Menggambarkan kontradiksi karakter. Bikin tokoh itu jadi punya gereget. Gambarnya juga beautiful. Sayang dibuat pake HDV. Coba kalo pake seluloid, ah, pasti perfect!

Mungkin saya jaraaaaannng banget nonton film Indonesia dengan penataan suara yang sangat apik. Even Ayat-Ayat Cinta sekalipun. But, this is perfect! Dahsyat! Nampol banget kayak film Hollywood. 4 thumbs up buat Satrio Budiono dan Yusuf A. P., bersama penata musiknya Zeke Khaseli (pentolannya Zeke and the Popo). The music is brilliant.

A Silver Medal Dedication

Overall, ini adalah film yang sangat bagus dan rapi. Dan nggak berlebihan lah kalo nilainya adalah perak. And this is the best Indonesia movie in this year (temporary).

Posted in Film | Tagged: , , , , , , | 3 Comments »

Simplifikasi

Posted by Danang Pramudya on June 19, 2008

Hah! Kategori di blog saya tampaknya kurang generik. Terlalu spesifik. Ini saatnya untuk menyimplifikasikan biar ajeg. Kategori working time kayaknya useless. Bisa digabung sama petualangan hidup lah. A word or two reflection kayaknya juga agak overlap sama heart screaming.

Gini deh, saya harus melakukan beberapa modifikasi.

[18 menit kemudian]

Akhirnya saya telah membuat kategori-kategori baru:

  1. Curhat (isinya bisa heart screaming, love melulu, puisi-puisi, refleksi, etc)
  2. Jurnal Hari Ini (isinya pengalaman-pengalaman dan perjalanan yang saya alami)
  3. Film (Ini harus tetep eksis!!)
  4. Pemikiran (ini isinya yaaa buah hasil pemikiran saya, ide-ide atau komentar-komentar terhadap suatu hal)
  5. News (Isinya berita-berita terbaru, gosip-gosip, pengumuman, iklan, etc)

Mungkin ke depan saya kepikiran nambahin kategori baru kayak:

1. Musik

2. Things!

3. ACF Fiorentina

Tapi itu entar aja. Ini dulu deh yang saya buat. Biar makin asik baca blog saya yang makin ramai pengunjung.

Posted in News | Tagged: , , | 1 Comment »

Have U Ever Lost Your Faith?

Posted by Danang Pramudya on June 17, 2008

I have and I am doing this right now. Even God knows what i really feel. Yeah, God always knows.

Kadang-kadang banyak hal yang bisa membuat kita down akan sesuatu hal yang kita percayai. Hal yang kita inginkan. Hal yang benar-benar desperately kita cita-citakan. Saat itu mungkin adalah saat yang sangat buruk dalam hidup kita. Bahkan kita sampai tidak bisa menangis saking frustasinya.

We have to meet some people with their own ego, with their own compassion, their own arrogancy. Saat-saat itu kita memfikirkan ulang tentang konsep diri kita. Apa sih yang kita cari di dunia ini? Apa yang benar-benar bisa membuat kita sangat-sangat bahagia ketika kita menemukannya. Cinta kah? Uang? Kekuasaan? Saya rasa semua itu hanyalah kesemuan belaka.

Kenapa ada saja manusia yang dilahirkan menjadi begitu arogan, menjadi begitu skeptis terhadap hal apapun yang akan terjadi. Semua kesalahan kecil belum tentu akan menjadi besar. Tetapi mengapa ada saja yang membesar-besarkan masalah kecil, sampai mengorbankan sendiri perasaannya.

That’s what i utmost regret is why? Why ME, MYSELF, the person i describe on what i just wrote above? I think I know the answer. The answer is that I just being so stubborn about my own self-concept. I won’t ever compromise with some deals. That’s it. I guess, i have to re-think my own self-concept.

Whatever will happen in my life, “I will never ever, ever, ever, ever, ever, ever, ever give up. Winston Churchill said it, I think” (quote from Martian Child).

Have u ever feel the same way with what I really feel rite now?

~ Thanks to Kevin who has encouraged me for anything i feel rite now. I think God sent me him, to encourage me. He is the only one to whom i talk in this lonely damn cold night… Thanks vin. Thanks God!

Posted in Curhat | Tagged: , , , , , , | 3 Comments »

Another Entertaining Movie from DreamWorks Animation SKG

Posted by Danang Pramudya on June 16, 2008

[INTERMEZO's started]

“Pintu teater satu telah dibuka. Bagi penonton yang telah memiliki tiket pertunjukan teater satu dipersilahakan memasuki pintu teater satu.”

Pukul setengah delapan kurang lima menit, saya bersama teman saya, Ajeng yang membawa keponakannya lagi mengantri memasuki pintu teater yang memang pada saat jam pertunjukan ini sangat penuh. Sebelum tiba-tiba Aldo, keponakan Ajeng yang masih berusia 4 tahun nyeletuk, “Buk Lik (baca: bule’), di dalem ada kamar mandinya ngga?”

Dengan penuh cinta kasih dan polosnya Ajeng menjawab, “Nggak ada sayang, tapi nanti kamu kalo mau pipis keluar lagi. Kamar mandinya di situ tuh (sambil menunjuk ke arah WC pria di lobby Hollywood KC yang klasik). Emang kenapa, Do?”

“Aldo pengen pup!”

Lagi-lagi Ajeng dengan polos bertanya balik, “kapan?”

Gubraakk!!! Ajeng, emang orang mau pup ada jadwalnya kayak jadwal pelm? Ck, ck, ck! Untung Aldo nggak ngejawab “Udah di ujung, buk lik”

Intinya, kita telat sekitar 10 menitan nonton Kungfu Panda karena mendadak naluri keibuan Ajeng muncul, dan dengan semangat menggebu-gebu Ajeng segera menyeret Aldo ke WC wanita untuk ditemani pup (Ajeng lupa bahwa dia membawa baby sitter Aldo). Since tiket dipegang Ajeng, saya juga terpaksa tidak menikmati film ini dari awal.

[INTERMEZO's ended]

Masuk ke studio diiringi dengan gelak tawa penonton yang udah duluan berada di dalam. Ajeng memang sengaja mengatur posisi duduk Ajeng-Danang-Aldo-Babysitter karena dia nggak mau duduk di sebelah Aldo pas nonton. Dan akhirnya saya tahu alasannya. Apa lagi kalau bukan gara-gara Aldo yang kenakalan dan kebawelannya mengingatkan saya sama sepupu saya bernama Diva yang pernah saya juluki “The Demon inside an Angel”

Ceritanya, Kungfu Panda ini mengisahkan karakter utama berbentuk Panda (walau ayahnya adalah sesosok burung bangau). Atau mungkin Po, Si Panda aslinya adalah burung bangau yang karena terlalu hobi makan sampai mengalami obesitas dan berubah menjadi seperti panda? Whatever.. Si Po ini adalah anak seorang pembuat mie yang bercita-cita menjadi ahli kungfu (baca: kangfu) terkenal. Tapi kayak biasalah, Hollywood craps, dari awal emang udah diset ada karakter yang pada awalnya skeptis menjadi tidak skeptis lagi, dan bahkan memberi petunjuk kepada tokoh utama.

Obsesi Po yang berniat menjadi ahli kungfu secara kebetulan terwujud ketika Oogway Master, menunjuk Po menjadi pendekar naga instead of jago-jago kungfu seperti tiger, crank, monkey, snake, atau mantis. Pendekar naga ini yang akan mengalahkan tokoh antagonis yang memiliki kekuatan kungfu sangat dahsyat. Bahkan gurunya sendiri, Master Shifu (murid Master Oogway, guru dari 5 pendekar) Hal tersebut hanya karena Po yang sudah dengan desperate pengen nonton penunjukan pendekar naga tidak bisa masuk ke dalam arena karena telat. Namun dengan berbagai daya upaya, dia berhasil masuk ke dalam arena bersamaan ketika Oogway Master hendak menunjuk Tiger sebagai pendekar naga. Jadi si Po ini muncul aja gitu ke depan muka Master Oogway.

Dari awal, Oogway sudah mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini. Semua memiliki jalan masing-masing. Dari sini kita udah tahu cerita ini bakal dibawa kemana. Ada satu quote yang berkesan buat saya, ketika Master Oogway berkata kepada Po, “Yesterday was history, tomorrow is mistery, but today is a gift. That’s why it’s called present (hadiah)”. Kemudian cerita berlanjut dengan petualangan Po mempelajari ilmu kungfu bersama guru Shifu dengan cemilan-cemilan ringan seperti momen-momen krisis kepercayaan diri, lalu akhirnya bisa kungfu, dan putus asa yang disusul seketika dengan momentum menemukan jawaban.

Made by Perfection

Sudah menjadi tabiat Dreamworks SKG (Spielberg, Katzenberg, Geffen) yang selalu menanamkan unsur perfection di dalam setiap karya mereka. Film ini pun juga dibuat dengan perfection of technical stuff yang bisa membuat siapapun amazed. Kualitas grafik yang menakjubkan, animasi 3D yang luar biasa mulusnya, bahkan penyutradaraan yang tidak setengah-setengah. That’s why produksi film animasi 3D selalu menghabiskan bujet minimal 150 juta USD.

Susah untuk Dicela

Tidak mudah memang mencari kelemahan dari pembuatan film-film Hollywood yang berasal dari dapur-dapur film beken. Apalagi Dreamworks yang sudah menghasilkan banyak karkater seperti Shrek misalnya. Yang jelas film ini menghibur, meski bukan untuk konsumsi balita, karena Aldo pun memaksakan dirinya untuk tertawa ketika seluruh penonton (termasuk saya), tertawa tergelak-gelak.

“Aduh, kocak banget ya filmnya” Aldo berseru dengan tone yang dipaksakan seperti anak kecil lagi dipalak preman yang baru keluar dari penjara Cipinang.

Ataukah memang film-film seperti ini sasaran pasarnya adalah remaja? Karena bahkan anak kecil pun merasakan kebosanan pas nonton ini. Yap, Dreamworks punya PR yang harus diselesaikan yakni bagaimana caranya menarik minat anak-anak untuk menikmati film-film kartunnya, dalam artian bagaimana caranya agar film ini dinikmati ceritanya, bukan hanya gambarnya oleh anak-anak kecil.

And it’s Bronze Quality

Karena film ini sudah berhasil menghibur saya, dan juga menanamkan petuah-petuah maut dari salah satu karakternya (Master Oogway), tidak adil kalau saya bilang film ini jelek. Tapi juga menurut saya nggak bagus-bagus amat. Ya sudah, medali perunggu kalau begitu. Congratulations!!!!

[INTERMEZO: Hati-hati jika mengajak anak kecil menonton film ini. Pastikan mereka sudah pup sebelum pergi ke bioskop. Selain berpotensi telat masuk studio, juga membuat kenikmatan anda menonton berkurang gara-gara anak kecil yang anda bawa, kentut dengan membabi buta di dalam studio]

Posted in Film | Tagged: , , , , , , , | 2 Comments »

Pengen Nih Buku! (Cinema Now)

Posted by Danang Pramudya on June 13, 2008

Jadi ceritanya kamis kemaren, saya sama si Hendrik pergi ke Plaza Indonesia dan EX buat nonton film M. Night Shyamalan yang baru, judulnya The Happening (Nanti saya buat reviewnya). Nah sebelum filmnya muter masih ada waktu tuh sejam-an. Terus kita ke ak.sa.ra aja ngeliat-liat CD, books, and others imported stuffs.

Sebelumnya saya sama Hendrik pernah ngeliat buku ini di ak.sa.ra Citos. Tapi sayangnya di Citos, bukunya kebungkus ama plastik. Jadinya baru kemaren saya ngeliat isinya. Begitu ngeliat isinya yang full colors saya langsung jatuh cinta sama nih buku. Judulnya “Cinema Now”. Sumpah keren banged.

Hehe, ada gambar Mami saya di cover-nya. Itu pasti diambil dari film Volver. Ada apa sih di dalemnya sampe ngebuat saya pengen banget memiliki buku ini. Sebenarnya isinya bukan buku panduan praktis bagaimana membuat film sih. Lebih seperti ensiklopedia tentang film-film yang pernah diputar di seluruh dunia, termasuk para pembuat filmnya. Bahkan Christine Hakim dan Tjoet Njak Dien-nya, serta Garin Nugroho dapet halaman sendiri.

Selain itu ada banyak ulasan (serta screenshot dalam angle terbaik) film-film paling keren yang pernah dibuat di seluruh dunia. Pas baca nih buku saya langsung horny (bukan karena melihat gambar-gambar vulgar pada film Perancis yang menampilkan adegan bersenggama dll), tapi saya horny untuk membuat karya yang nggak kalah spektakulernya dengan film-film yang diulas di buku ini. Saya mimpi suatu saat gambar saya dan film-film yang saya buat akan masuk di buku ini pada edisi ke berapaaa gitu.

Film-film dari Asia juga mendapat sorotan tertentu di buku ini, karena menurut buku ini sebenarnya banyak sekali sineas-sineas dari Asia yang memiliki kekuatan dan kapabilitas yang luar biasa (bahkan bisa dibilang terbaik di seluruh dunia) dari karya-karya yang mereka hasilkan. Sebut saja Ang Lee, Wong Kar Wai, dan Zhang Yimou. Belum lagi 2 sutradara asal Korea yang pernah menggemparkan dunia lewat film Gwoemul (The Host, 2006) oleh Joon-Ho Bong, dan Kim Ki Duk yang buat film Bin Jip (3-Iron, 2004). Tapi di antara para sineas tersebut, tetap Ang Lee dan Wong Kar Wai lah yang punya kelas bintang 6.

Aduh, saya benar-benar mengidam-idamkan buku ini. Bahkan sampe ngerengek ke Hendrik segala buat beliin saya buku ini kalau saya ulang tahun. Yaaah, tapi anda tahu sendiri lah gimana reaksi si Hendrik. Apalagi setelah melihat harga buku ini yang nilainya sama seperti uang makan dia satu bulan (600 rebu). Tapi siapapun yang berbaik hati berniat membelikan buku ini buat saya, akan saya terima dengan tangan terbuka (bukunya ya, bukan orangnya). Hehehe! Ah, pengen! Tapi nggak pengen beli sendiri.

Udah ah! Kebanyakan yang ditulis ntar malah tergoda buat beli sendiri!

Posted in Film, Jurnal Hari Ini | Tagged: , , , , , , , , , | 2 Comments »

Shock and Sad

Posted by Danang Pramudya on June 10, 2008

Jadi ceritanya begini. Sudah sejak seminggu lebih Eyang Kakung saya dirawat di RS Pasar Rebo karena habis menjalani operasi, kemarin malam saya menerima berita yang mengejutkan saya dari Ibu saya. Waktu itu pas Sholat Maghrib, ada miscall dari ibu saya. Namun karena saya lagi sholat, jadinya nggak saya angkat. Ibu saya menelfon sampai 3 kali. Lalu, selesai sholat, saya langsung ke lab dan logout. Rencananya pengen pulang ke kosan dan makan malam, karena saya laper banget. Di perjalanan pulang, ada sms dari Ibu saya. Begini isinya:

Telah berpulang ke Rakhmatullah, di RS Psr Rebo, Eyang Beno tercinta 10 menit yang lalu. Sempatkanlah nengok ya anak-anakku.

Innalillahi Wa Inna Illaihi Ro Jiunn

Di tampilan layar HP saya, scrolling baris pertama hanyalah sampai kata Eyang. Dan jelas saja itu membuat saya sangat shock. Pertama saya membaca kata RS Psr. Rebo, dan kedua saya membaca Eyang. Badan saya langsung gemetar dan berguncang keras. Secara instan, saya benar-benar shock dan sedih sehingga pengen menangis. Karena yang ada dalam bayangan saya, yang meninggal adalah Eyang Kakung saya. Tepat seperti dalam mimpi saya 2 minggu lalu yang membuat saya terbangun dalam keadaan menangis.

Namun setelah saya tenangkan diri dan melanjutkan membaca kelanjutan sms saya, jujur, saya merasa agak baikan. Karena yang saya baca adalah Eyang Beno, bukannya Eyang Kakung. Fyi, Eyang Beno ini adalah saudara sepupu Eyang Putri saya, dan dulu dia adalah eyang yang paling dekat dengan keluarga saya karena keluarga beliau tinggal di Palembang. Dan kita pernah cukup dekat. Saya dan kakak adik saya sering menginap di rumahnya. Dan kalau Lebaran, beliau orang pertama yang dikunjungi. Kesimpulannya, ini tetap saja membawa duka untuk saya.

Lalu saya langsung ke RS Pasar Rebo dan menengok beliau untuk terakhir kali. Pemakamannya adalah hari ini, jam 12, tepat seperti tulisan ini dibuat. Selamat Jalan Eyang tercinta, semoga Allah Rob menerima semua amal ibadah Eyang.

~ It gives me such another fresh perspection and awareness about life and death, when i see to her dead body.

Posted in News | Tagged: , | 1 Comment »

Weak Me Weekend!

Posted by Danang Pramudya on June 9, 2008

[INTERMEZO: Melodramatic Mode is ON]

Akhir pekan kemaren? Saya ngapain ya? Yang jelas, peribahasa “bersakit-sakit dulu , bersenang-senang kemudian” tidak berlaku buat saya sejak 2 hari yang lalu. Justru berlaku hal sebaliknya. Hari sabtu saya mengalami hari yang luar biasa, sedangkan hari minggunya, it’s a horrible day.

Ada 3 alasan besar yang ngebuat saya mendeklarasikan hari minggu kemaren sebagai “a day to re-think“. Tapi saya hanya akan menceritakan satu alasan saja. Karena hal ini yang sangat menyita porsi terbesar saya dalam berfikir kemaren.

Pernah nggak sih, orang yang suka sama temen-temen mengutarakan isi hatinya kepada temen-temen? Mungkin ada yang sering banget, ada yang pernah aja, atau ada yang kurang beruntung: nggak pernah. Tapi hal ini merubah peta pemikiran saya. Kata tidak beruntung hanya cocok disematkan kepada orang yang sering banget ditembak.

Pernah nggak sih temen-temen merasakan bahwa diri temen-temen itu sama sekali nggak berguna buat siapapun? Itu perasaan yang sangat menyedihkan, memang. Tapi bagaimana jika perasaan itu sering banget muncul di benak temen-temen? Saya rasa, it won’t be easy to hand over this feeling. Lalu apa hubungan perasaan seperti ini dengan kenyataan bahwa ada orang yang mengutarakan isi hatinya kepada temen-temen?

Saya berfikir, ini adalah kesalahan saya untuk membiarkan perasaan suka orang lain kepada saya tumbuh bigger and bigger everyday, sementara saya membiarkan begitu saja. Dan akhirnya, ketika terjadilah momen pengutaraan isi hati itu, saya tidak bisa berkata apapun. Diam seribu bahasa. Lalu kemaren saya berusaha untuk mengkonsultasikannya dengan beberapa sahabat saya.

Am I Such an Selfish?

Ada seorang sahabat saya bilang saya egois. Sementara saya sudah tahu perasaan orang yang suka sama saya itu sejak lama, tapi saya malah tidak berbuat apa-apa untuk mengatasi perasaan itu terus berkembang. “Don’t u know that it hurts her that much?? You’re such an selfish person. Sementara lo tau dia suka sama lo, lo bukannya malah menjaga jarak, tapi malah terus nempeeeel aja! Salah lo, Dan! Mending lo bisa buka hati lo buat tuh orang”

Tuh kan, bener dugaan saya. Saya memang orang yang tidak berguna. Kebisaan saya cuma membuat suatu hal menjadi tambah buruk. Lalu melarikan diri ketika hal itu sudah benar-benar buruknya. Argh! Tapi setidaknya, saya punya alasan kenapa saya bukannya malah menjaga jarak, tapi malah mendekat. Cos, i feel comfort with her. She’s such a person who can make me warm in this cold world full of cold people. Lalu temen saya ini bilang lagi, “Dasar egois!”

I Can’t Help It, Indeed!

Lalu saya konsultasi sama seorang sahabat saya yang lain. Dia seorang perempuan yang cukup bijaksana dalam menghadapi banyak masalah. Surprise-nya, dia pernah mengutarakan perasaan sukanya kepada saya dan meminta saya jadi pacarnya, tapi saya tolak. Namun sekarang hubungan kami benar-benar seperti kakak adek (saya adeknya, cos saya lebih muda, hehehe). Pernah saya posting di blog ini, momen saat dia nembak saya itu.

Sahabat saya ini bilang gini ke saya. “Nang, gw ngerti apa yang lo hadapin. Tapi sebenernya lo nggak bisa berbuat apa-apa. Keputusan untuk menyukai kan dari dia. Lo udah buat keputusan untuk nggak nerima dia, lalu sekarang lo cuma bisa nunggu keputusan dia selanjutnya tentang hubungan lo ama dia selanjutnya. Gue tahu ini nggak mudah buat dia, kayak gue dulu waktu lo tolak, hiks, tapi kalo dia emang bener-bener sayang sama lo, dia nggak akan menghancurkan sedikit pun apa yang udah kalian berdua bina sampe saat ini. Dan lo juga nggak akan kabur kemana-mana, Nang! Inget lho!” That’s it! Saya merasa agak bangkit setelah denger omongan nih cewek. Di sela-sela kesibukannya sesi foto lah, syuting lah, tapi kemaren dia rela nyediain waktu 2 jam buat ngobrol sama saya lewat telefon.

Tapi yang bikin gue keki adalah statement dia di akhir-akhir pembicaraan seperti ini, “Nang, lo itu gay yah? Abis, perasaan semua cewek lo tolak. Kalo lu straight, pasti lo ga bakal nolak cewek, terutama yang kayak gue! Hehehe. Eh tapi Nang, temen cewek lo banyak, kayaknya lebih banyak dari cowok, lo tau kan? Gay is the best friend of women?”

We Are Scorpions, So?

Yang terakhir, saya nelfon cewek gokil nan nyentrik yang kebetulan sangat tertarik dengan dunia astrologi (saya juga sih…). Dia bilang gini, “Eh Nang. Lo begimane sih? Remember, we are scorpions

“and So?”, gue balik tanya.

“Kaum berzodiak scorpio dianugrahi sesuatu yang namanya sex appeal. Kita punya daya tarik yang bisa bikin orang lain kelepek-kelepek kayak ikan di baskom tanpa air, kalo kita gunain tuh jurus. Lo kayaknya udah ngegunain tuh jurus ya?”

Muke gile nih orang. Jurus apaan? Yang gue tahu jurus membuat gugusan pulau di atas bantal doang sih. Nggak ada jurus lain.

“Sejelek-jeleknya orang berzodiak scorpio (maksudnya elo, kalo gw kan cantik jelita), kita bisa buat siapapun bertekuk lutut kepada kita. Tapi kita juga dianugerahi sengat Nang! Yang beracun itu lho”

Seketika, dengan bodohnya gue meraba-raba tulang ekor gue mencari-cari letak tuh sengat, tapi ya jelas aja nggak ada. Terus gue balik nanya, “Ape kata lo sengat?”

“Gini lho Nang. Kalo kita bisa dengan gampang buat orang bertekuk lutut, kita juga bisa buat orang lain benci setengah mati sama kita. Caranya, gunain tuh sengat! Lo pasti ngerti lah”.

Terserah dia lah. Jujur saya emang agak-agak ngerti sih maksud dia apa. Tapi saya nggak setuju dengan solusi yang ditawarkan untuk ngebuat orang yang suka sama saya jadi benci sama gue. Kan saya egois!

Akhir kata, dia bilang, “Udah Nang, lo cari kesibukan apa kek? Nyanyi-nyanyi kayak orang gila ato joget-joget dengerin mp3-nya Rihanna, atau tidur sekalian nggak usah bangun-bangun lagi.” Ck, ck, ck, ck, ck! Susah banget emang, ngomong sama nih orang.

Pelarian

Tapi akhirnya, saya akhirnya mengikuti sarannya untuk melakukan hal-hal lain. Daripada mumet-mumet mikirin hal yang bisa bikin saya tambah stres (btw, obat penenang saya sudah habis, lho. Tapi males ke dokter lagi buat minta resep.), saya ngapain coba? Yak salah! Yang bener, saya kemaren memutuskan untuk menunjuk pelarian saya kepada 3 keping DVD Lords of The Ring (1, 2, dan 3). Kurang lebih 8 jam non stop. Lumayan lah. Ternyata emang film Narnia kemaren gayanya mirip banget sama LOTR 1 dan 2. Seru-seru!

[INTERMEZO: Melodramatic Mode is OFF]

Take an ordinary step like usual,
follow the voice of birds singing upon me
and walk through below the sun, the moon and the stars
find a sanctuary to rest my tired heart
and fix my broken wings, promise not to fly again
though it will always fly again someday

by Danang Pramudya

Posted in Curhat | Tagged: , , , , | Leave a Comment »