Coffee, Wine, Cotton, & Bread

Danang Pramudya’s journey – It is life indeed

Archive for May, 2008

22 Mei 2008

Posted by Danang Pramudya on May 27, 2008

Kala itu banyak melodi cinta bermain di hati saya. Saya seperti terbuai. Namun hari ini saya segera membuka mata saya lebar-lebar. Itu tetaplah menjadi sebuah fatamorgana. Tapi setidaknya saya merasa bahagia walau sesaat.

Ada sebuah kata-kata yang menyadarkan saya hari ini.

“Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu lain terbuka. Tapi acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang telah tertuutup itu sampai tak memerhatikan satu pintu lain telah terbuka.”

Tidak hanya itu, 2 buah lagu beruntun berputar ketika saya membaca kata-kata di atas. Seolah-olah benda mati pun setuju dengan pernyataan itu.

My yesterdays are all boxed up and neatly put away
But every now and then you come to mind
Cause you were always waiting to be picked to play the game
But when your name was called, you found a place to hide
When you knew that I was always on your side

Well everything was easy then, so sweet and innocent
But my demons and my angels reappeared
Leavin’ all the traces of the man you thought I’d be
Too afraid to hear the words I’ve always feared
Leavin’ you so many questions all these years

But is there someplace far away, someplace where all is clear
Easy to start over with the ones you hold so dear
Or are you left to wonder, all alone, eternally
This isn’t how it’s really meant to be
No it isn’t how it’s really meant to be

Well they say that love is in the air, but never is it clear,
How to pull it close and make it stay
Butterflies are free to fly, and so they fly away
And I’m left to carry on and wonder why
Even through it all, I’m always on your side

But is there someplace far away, someplace where all is clear
Easy to start over with the ones you hold so dear
Or are you left to wonder, all alone, eternally
But this isn’t how it’s really meant to be
No it isn’t how it’s really meant to be

Well if they say that love is in the air, never is it clear
How to pull it close and make it stay
If butterflies are free to fly, why do they fly away
Leavin’ me to carry on and wonder why
Was it you that kept me wondering through this life
When you know that I was always on your side

Potongan lirik lagu buah karya Sheryl Crow di atas berjudul “Always On Your Side”. Tapi itu dulu. Dan lagu ini memang benar-benar menegaskan kepada saya bahwa itu hanya dulu. Keadaan sudah berbeda saat ini, dan saya tak boleh terus-terusan hidup dalam mimpi yang penuh ketidak jelasan. Satu lagu dari Rossa berjudul “Tak Termiliki” yang berputar di playlist iTunes saya semakin menguatkan hati saya untuk meninggalkan masa lalu. Dan akhirnya, bye bye 22 Mei 2008…

Kulihat diriku, kubaca hatiku
Tiada yang lain yang tersirat
Kulihat dirimu, kau tak sendiri
Masih bolehkah harap ini

Engkau datang saat aku merasa tak ada daya
Engkau ada saat ku tak mungkin ada di sana
Engkau datang saat diri ini tak ingin pergi
Engkau ada dengan setangkai cinta tak termiliki

Oh mengapa..
Saat kita berdua
Semua terasa indah
Seakan kau untukku…

Bagi saya, kamu adalah masa lalu. Saya mohon, jangan pernah kamu datang lagi di depan hidup saya dan membangkitkan harapan fatamorgana ini kepada saya. Tapi satu hal yang pasti, I’m always and still loving you!

Posted in Curhat | 4 Comments »

Ketika Makan Menjadi Dosa

Posted by Danang Pramudya on May 27, 2008

Manusia hidup tentu memiliki banyak sekali kebutuhan hakiki. Kebutuhan hakiki haram hukumnya jika tidak dipenuhi. Maksud ‘haram’ di sini adalah jika kita tidak memenuhi kebutuhan ini, maka sama saja kita membunuh diri sendiri. Dengan begitu kita menyia-nyiakan hidup kita. Jadi kata ‘haram’ sah.

Apa yang terjadi jika salah satu kebutuhan hakiki kita menjadi sebuah dosa jika dilakukan. Tentu teman-teman bertanya-tanya. Yap, yang saya maksud salah satu kebutuhan hakiki di tulisan ini adalah ‘makan’. Sebenarnya masih ada beberapa kebutuhan hakiki lain, yaitu tidur/istirahat, buang air, seks, menggunakan panca indera, dll.

Tapi bagaimana jika makan menjadi sebuah dosa? Sebenarnya saya agak sedikit berlebihan. Hal ini berdasarkan pengalaman saya. Saat ini porsi makan regular saya dulu menjadi tidak regular lagi. Itu kelebihan. Bayangkan, porsi makan saya saat ini tidak mencapai setengah porsi makan regular saya dulu. Kata ibu saya, “Beib, kamu harus rajin-rajin sholat!”

Apa hubungan sholat dengan makan? Saya sendiri bingung. Tapi perhatikan cuplikan dialog saya dengan Ibu di telefon kemarin.

Ibu: “Beib, kamu harus rajin-rajin Sholat!”
Me: “Loh, loh, perasaan kita lagi ngomongin soal makan deh, Bu”
Ibu: “Iya, kamu sekarang harus pinter-pinter menahan diri untuk makan.”
Me: “Hubungannya dengan sholat?”
Ibu: “Sholat bisa melatih kamu mengendalikan diri, termasuk mengendalikan nafsu makan kamu”
Me: “Bu kalo sholat bisa membantu mengendalikan diri dari perbuatan dosa, aku setuju”
Ibu: “Yah, sama aja! Niatnya kan mengendalikan diri”
Me: “Tapi makan itu kan bukan dosa”
Ibu: “Tapi buat kamu, iya! Dosa! Kamu kan sakit dan kamu nggak boleh makan banyak-banyak”
Me: “Iya, tapi…”
Ibu: “Udah deh, jangan bandel! Nurut aja kata Ibu. Rajin-rajin sholat. Plus dzikir sekalian”
Me: “Iya, Bu!”

Begitulah teman-teman. Saat ini saya harus menghadapi kondisi di mana makan itu adalah sebuah dosa besar, dan saya harus pintar-pintar mengendalikan diri untuk makan sesuai porsi regular saya dulu (atau lebih). Kalau dulu saya bisa makan nasi 3 sampai 5 kali sehari, saat ini saya hanya boleh makan nasi sekali dan banyaknya 3/4 piring.

Menu makan harian saya saat ini:

- Pagi : Oat/ Cereal/ Roti gandum plus selai coklat dan margarin

- Siang: Nasi 3/4 piring plus lauk dan sayur (lauknya apapun kecuali daging merah)

- Sore & Malam : Buah atau jus buah (tanpa gula)

Hidup? Menderitanya hidupku. Jadi ngiri sama teman-teman yang masih boleh makan enak. Saya kan masih muda! Aaaaghhh!!!

Posted in Jurnal Hari Ini, Pemikiran | Tagged: , , | Leave a Comment »

What Am I to You?

Posted by Danang Pramudya on May 26, 2008

[A Song by Norah Jones]

What am I to you
Tell me darling true
To me you are the sea
Vast as you can be
And deep the shade of blue

When you’re feeling low
To whom else do you go
See I cry if you hurt
I’d give you my last shirt
Because I love you so

If my sky should fall
Would you even call
Opened up my heart
I never want to part
I’m giving you the ball

When I look in your eyes
I can feel the butterflies
I love you when you’re blue
Tell me darling true
What am I to you

Posted in Curhat | Tagged: , , | Leave a Comment »

Tuhan, Tuhan, Tolonglah Aku!

Posted by Danang Pramudya on May 22, 2008

Akan datang masa pencobaan-Mu yang berat di hadapanku
Di kala tulang dan otot saling bertaut bergeliat
Dan aliran darah mengalir deras di serabut pembuluh
Memacu raga bak kuda yang dipaksa berlari kencang
Dan putaran otak serasa terdengar berdesing

Kadangkala aku merasa sekuat kerumunan berjuta lebah madu
Dan tiba saatnya ku merasa selemah lembaran kapas
Dan masa-masa itu akan kulalui seiring datangnya masa pencobaan
Hanya keyakinan dan harapan yang kupeluk tuk bertahan
Dan diri-Mu yang kuandalkan

Tuhan, Tuhan, tolonglah aku!
Tundalah rasa sakit ini
rasa sakit yang menusuk-nusuk sisi-sisi dadaku
Sampai masa pencobaan ini berakhir, kumohon kepada-Mu Sang Agung
Tuhan, Tuhan, tolonglah aku!

Posted in Curhat | Tagged: , , | Leave a Comment »

Mimpi, dan Kaitannya dengan Indera Ke-6

Posted by Danang Pramudya on May 21, 2008

Pernahkah anda bermimpi? Tentu saja lah. Bukan manusia jika hidupnya tanpa mimpi. Konteks mimpi yang saya bahas di tulisan ini adalah mimpi dalam arti harafiah-nya. Jika seseorang sedang tidur lalu ia bermimpi, nah ‘mimpi’ ini yang saya maksud.

Pernah nggak sih teman-teman bermimpi tentang sesuatu hal yang akan terjadi dan kejadian beneran. Bingung ya? Misalnya gini deh, anda sedang bermimpi (tidak peduli anda menyadari sedang bermimpi atau tidak) berada di tepi jurang. Lalu ada segerombolan orang yang memaksa anda untuk loncat dari jurang itu (jadi inget film The Little Rascals), lalu karena terpaksa anda akhirnya meloncatkan diri ke jurang itu. Saat anda terbangun, anda benar-benar sedang terjatuh dari ranjang anda.

Lalu misalnya anda bermimpi sedang memasak lasagna di oven dan menunggu lasagna itu sampai matang. Anda memasang alarm yang jika berbunyi menandakan bahwa lasagna anda telah matang. Lalu alarm itu berbunyi. Anda terbangun dari tidur anda dan mendapati ponsel anda berdering karena ada panggilan dari ibu anda yang melaporkan lasagna yang ia masak gosong. Jadi anda tidak bisa makan lasagna kesukaan anda hari ini.

Hal-hal seperti itu. Kalau kita sedikit menganalisis kronologinya, bisa kan kalau kita menarik kesimpulan bahwa kita meramalkan akan terjadi sesuatu pada hal yang kita mimpikan, baik itu diri kita sendiri atau orang lain. Kita meramalkan kalau kita akan terjatuh dari ranjang. Lalu lewat mimpi kita meramalkan bahwa ponsel kita akan berdering. Yang jadi pertanyaan saya sampai kini adalah, benarkah mimpi ada kaitannya dengan indera keenam?

Sedikit ulasan mengenai indera keenam, teman-teman tentunya sudah tahu apa itu indera keenam. Yap, kalau kita, manusia biasa secara umum dianugerahkan 5 indera (pengecap, penglihatan, pendengaran, peraba, dan penciuman), sebenarnya menurut saya masih ada satu lagi indera yang kita miliki yaitu indera peramal (bahasa kerennya sense of vision). Saya merasa yakin bahwa mimpi ada kaitannya dengan indera ini.

Indera keenam ini adalah indera yang misterius. Kalau kata Mama Loren, harus dilatih dan diasah agar indera ini bisa tajam, setajam penglihatan elang, penciuman anjing, dan pendengaran kucing. Namun bukan masalah indera keenam secara umum yang ingin saya bahas di sini. Tetapi tentang mimpinya.

Jadi semalam saya tidur di lantai, tengkurap (karena hawa panas sekali tadi malam). Lalu saya bermimpi saya mengangkat kardus-kardus berat dan hendak meletakannya di atas lemari. Namun yang terjadi kardus-kardus itu malah jatuh menimpa saya. Saya terbangun dan mendapati tas raket yang tergantung di atas kepala saya terjatuh menimpa saya. Berarti saya meramalkan tas raket itu akan jatuh menimpa saya.

Lalu sekitar 7 bulan yang lalu saya bermimpi 2 kali yang selalu saya ingat sampai kini. Mimpi pertama saya sedang di dalam mobil bersama kakak, adik, kedua orang tua saya, dan seseorang tak dikenal yang mengendarai mobil. Sedang asik memacu mobil dengan kecepatan kencang, tiba-tiba di depan saya mobil-mobil pada berputar balik, dan saya melihat gelombang tsunami yang sangat tinggi agak jauh di depan mobil saya. Sang pengemudi tak dikenal segera membanting setir dan berputar. Kakak saya yang duduk di depan karena kaget tersontak dan kepalanya terbentur dashboard sampai mengeluarkan darah. Kejadian selanjutnya, mobil kami dihantam gelombang tsunami tersebut.

Mimpi yang kedua. Lagi-lagi tentang mobil dan air (kata orang tua, air dalam mimpi itu pertanda buruk). Saya sedang di dalam mobil yang berjalan bersama tante saya dan mantan istri saya (bertiga). Lalu di jalan tol yang di bahu jalannya berbatasan dengan kali yang cukup lebar, tante saya yang mengemudikan mobil menjadi tak terkendali dan menabrak pembatas jalan. Mobil terjatuh ke dalam kali yang ternyata sangat dalam dan saya pun terbangun.

Tidak ada kejadian instan dari kedua mimpi itu seperti adegan jatuh dari ranjang, ponsel berdering, atau tertimpa tas raket. Namun mungkin mimpi itu menjadi pertanda 2 kejadian terburuk dalam hidup saya beberapa minggu ke depan setelah saya bermimpi kedua hal itu.

Seminggu setelah saya bermimpi tentang tsunami, ada kejadian tidak menyenangkan pada keluarga saya yang intinya menimpa kakak saya, dan mungkin saja orang asing yang mengemudikan mobil itu adalah orang yang sama yang telah menghancurkan kakak saya. Tak sabar untuk menghajarnya kalau dia berani muncul di depan muka saya. Kemudian beberapa minggu setelah mimpi jatuh ke kali, saya mengalami peristiwa paling menyakitkan sepanjang hidup saya yang melibatkan saya, mantan istri saya, dan tante saya. Perceraian menjadi realisasi nyata dari mimpi tersebut.

Lalu saya sering sekali mimpi dikasih uang sama orang lain. Nah kalau mimpi ini sangat menyenangkan, karena setiap kali saya bermimpi seperti itu, realisasinya instan. Keesokan harinya saya selalu mendapatkan uang dan rejeki yang banyak, bahkan seringkali sama orang dengan orang yang memberi saya uang dalam mimpi saya sebelumnya. Kalau mimpi yang kayak gini, saya demen banget. Tapi akhir-akhir ini udah jarang. Hehehe…

Ada juga orang yang berkata bahwa mimpi itu selalu berkebalikan dengan kenyataan. Jika kita mimpi bagus, pasti akan ada kejadian jelek di depan kita. Dan begitu pula sebaliknya. Namun saya tidak setuju dengan opini ini, berdasarkan mimpi-mimpi dan pengalaman-pengalaman yang sering saya alami. Dan sampai saat ini saya belum berani menyimpulkan kaitan mimpi dan indera keenam, namun tak salah jika saya menganggapanya hanya sebagai hipotesis.

Apakah anda sependapat dengan saya?

Posted in Pemikiran | Tagged: , , | 1 Comment »

Sophan Sophiaan was Gone

Posted by Danang Pramudya on May 19, 2008

Innalillahi wa Inna Ilaihi Ro jiunn, telah berpulang ke Rahmatullah aktor senior sekaligus politikus kawakan Indonesia, Sophan Sophiaan, hari sabtu tanggal 17 Mei 2008. Mari sama-sama kita doakan agar arwah beliau diterima di sisi Allah SWT. Semoga semua amal dan kebaikan yang telah beliau kerjakan selama hidup di dunia bisa menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya dan bisa diteruskan oleh generasi muda bangsa.

Saya mungkin tidak terlalu mengenal dan mengetahui banyak hal tentang beliau. Yang saya tahu dia adalah aktor dan pernah jadi anggota DPR RI yang akhirnya mengundurkan diri dari partainya PDIP. Tapi saya pernah melihat akting beliau di film “Love” garapan sutradara Malaysia Kabir Bhatia. Begitu mengagumkan. Memang berakting dalam film seharusnya seperti beliau ini. Apalagi saat itu beliau beradu akting dengan Widyawati, istrinya sendiri. Chemistry-nya luar biasa. Dapet banget.

Itu saja memori saya tentang Sophan Sophiaan. Setelah membaca beberapa artikel tentang beliau di kompas.com, saya akhirnya menyadari bahwa kita dan bangsa Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaik yang dimilikinya. Selamat jalan Sophan Sophiaan.

Posted in News | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Namaku ‘N’

Posted by Danang Pramudya on May 12, 2008

Huruf ‘M’ bisa jadi kependekan dari Manusia, atau Munafik, atau Memble. Ya sudahlah. Saya tidak sedang membahas huruf M saat ini.

Ceritanya, malam minggu lalu saya melewatkan malam dengan my best friend, sekaligus my partner in crime. Nah, kita diskusi banyak hal saat itu. Mulai dari topik mengenai Reinkarnasi (siapa tahu artinya?), sampai mengenai E** yang satu. Waduh! Berat banget. Tapi sebenarnya kita membicarakan hal-hal taboo seperti itu dengan candaan ringan. Lalu masuk mengenai candaan tentang nama anak-anak saya kelak (kalau saya nanti ditakdirkan punya anak dan dokter spesialis ginekologi tidak memvonis saya mandul).

Lalu saya berfikir, di dunia ini semua orang tua pasti memberikan nama terbaik, nama yang mempunyai arti baik bagi anak-anaknya. Tentu mereka mengharapakan anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang baik sesuai dengan harapan yang tercermin dari nama yang mereka berikan (atau bahasa kerennya, nama anak adalah doa orang tua). Contohnya, kalau sepasang orang tua (emang merpati kali ya, sepasang) memberi nama anak mereka Imam, tentu mereka mengharapkan agar si Imam ini bisa menjadi anak yang berjiwa pemimpin, kelak-kelak menjadi Imam bagi bangsanya.

Kenyataannya di dunia ini semua orang memiliki nama yang berarti baik. Tapi apa yang terjadi di bumi kita saat ini? Bagaimana situasi bumi kita? Perang dimana-mana, pembunuhan masal yang seperti sarapan pagi, fitnah, pertikaian, belum lagi pemanasan global yang tak lain dan tak bukan adalah akibat ulah tangan manusia sendiri. Bahkan si Imam tumbuh menjadi Imam yang memimpin bangsanya menghancurkan bangsa lain (sebut saja bangsa X) karena dirinya kalah taruhan memperebutkan cewek bohay dengan pemimpin bangsa X tersebut.

Oleh karena itu, saya mengajukan asumsi seperti yang saya nyatakan di bawah ini:

Base case: Nama semua orang di dunia berarti baik, tetapi dunia menjadi buruk.

Solusi: Berikan nama yang berarti buruk kepada semua orang, dunia akan menjadi baik.

Melanjutkan pembicaraan yang penuh air mata (menahan sakit perut karena kebanyakan tertawa), saya memutuskan untuk memberi nama anak-anak saya seperti contoh berikut ini. Saya mengasumsikan memiliki 4 orang anak.

Anak Pertama

Dengan berat hati, karena saya mengharapkan anak pertama saya ini akan menjadi pemimpin bagi adik-adiknya kelak, saya memutuskan untuk memberi nama Luci Ferianti. Yak, anda semua tahu asal kata nama anak pertama saya. Sungguh menyenangkan anak pertama saya perempuan. Sehingga dirinya bisa dipanggil dengan kata Luci saja. Dengan nama tersebut, saya mengharapkan Luci tumbuh menjadi pemimpin yang membawa umat manusia menuju dunia yang lebih baik. Amien.

Anak Kedua

Doa saya bersama istri saya, anak kedua saya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas, pandai, sanggup menyelesaikan masalah, bahkan yang terberat sekalipun, tidak pernah menyerah, tangguh, dan bijaksana, saya lalu teringat dengan karakter sebuah tokoh dalam novel favorit saya, Harry Potter. Tapi saya tidak akan menamai anak saya Harry Potter, atau Albus Dumbledore, namun justru saya akan menamai anak kedua saya Volde Mortigo (tapi kok saya justru teringat nama aktor LOTR ya, Viggo Mortensen).

Anak Ketiga

Oke, karena saya telah memiliki 2 orang anak yang satu berjiwa pemimpin, dan yang satu lagi seorang problem solver yang cerdas dan tangguh, untuk anak ketiga, saya berdoa agar dia tumbuh menjadi anak yang bisa menyebarkan inspirasi dan kasih sayang, serta memiliki kreatifitas yang baik dalam hal fesyen. Jadi saya memutuskan untuk lagi-lagi menamainya dengan salah satu karakter di buku Harry Potter, tak lain dan tak bukan adalah Dementori Amos. Saya mengharapkan Demen menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, karena sifatnya yang selalu patuh sama atasan, menjadi penyebar inspirasi, karena hobinya melayang-layang di udara menciptakan suatu suasana, penyebar kasih sayang, dengan kesukaannya mengecup orang lain, dan juga memiliki selera fesyen yang baik. Ya anda tahulah gimana selera fesyen Dementor di buku HP.

Anak Keempat

Untuk si bungsu, tentu saja ia diharapkan menjadi anak yang disayang, dimanja, menjadi favorit, selalu dilindungi (karena paling muda), dan menjadi tempat penyia-nyiaan kakak-kakaknya (pelampiasan marah). Maka saya memutuskan untuk memberi nama, treng teng teng teng teng, Namanya…. ‘N’. Yak, N saja. Alkisah ketika N memasuki hari pertamanya di SD, Ibu guru mengabsen seluruh muridnya. Dan tiba giliran si N dipanggil.

Ibu guru: N?

N: Saya, Bu!

Ibu guru: Nama panjang kamu siapa, N?

N: N saja, Bu!

Ibu guru: Oh! Hobi kamu apa, N?

N: Ngesot, Bu!

Ibu guru: Ngesot? Apa itu?

N: Jadi kalau Inul punya goyang ngebor, Anisa Bahar punya goyang patah-patah, lalu yang lain Ngecor, Kayang, dan lain-lain, saya punya goyang ngesot!

Ibu guru: Menarik sekali! Kalau begitu kalau sudah besar kamu ingin menjadi penyanyi dangdut?

N: Tidak, Bu! Saya bercita-cita masuk lulus SPMB dan masuk Fakultas Ilmu Keperawatan UI untuk menjadi seorang suster!

Ibu guru: Bagus! Bagus sekali cita-citamu, N! Saya rasa, saat SPMB nanti kamu akan diuntungkan waktu, karena namamu hanya satu huruf. Jadi ketika teman-temanmu masih disibukkan dengan membulati identitas, kamu sudah bisa mengerjakan soal. Brilian sekali orang tuamu, N!

N: That’s my parent, Madame! I love them, so!

Ibu guru: Bicara bahasa apa kamu, N? Saya tidak mengerti.

N: Bahasa suster, Bu!

Ibu guru: Oh!

Ya begitulah N. Sebagai anak bungsu, disia-siakan sekaligus dilindungi keluarganya menjadi makanan sehari-hari N. Misalnya, saking hobinya dia ngesot (bahkan ia memutuskan untuk ngesot selama-lamanya daripada berjalan), dan kamar tidurnya berada di lantai 2, saat istri saya memanggil, “N, makan malam dulu!”. N menjawab, “Iya, Bu!”, N lalu ngesot turun dari ranjangnya, keluar kamar, menyusur tangga dan menuju meja makan. Betapa terkejut dia, ketika matanya bisa melihat seluruh isi meja makan, yang tersisa hanya tulang belulang ayam dan ikan, nasi yang tinggal sesendok teh, dan sayur yang tinggal kuahnya saja. Tak heran jika, pertumbuhan N menjadi terhambat. Menderita polio karena ulahnya sendiri yang memutuskan ngesot lebih nyaman daripada berjalan, dan ceking kurus kerontang, tinggal kulit menyelimuti tulang.

Tak heran jika ketika dia naik angkot, dan memutuskan untuk turun dari angkot, supir angkot yang tak sabar untuk jalan lagi menyuruh seorang penumpang untuk menendang N. “Tendang aja!” kata si supir angkot. Seorang penumpang menendangnya keluar hingga terjatuh di jalanan, lalu angkotnya lari dan mencipratkan genangan air di tubuh N. Namun menjadi bukti juga kalau N dilindungi oleh keluarganya, ketika serta merta kakak kedua dan ketiganya, Volde dan Demen datang dan mengejar si tukang angkot, sambil melayang-layang di udara. Demen memberikan kecupan mautnya kepada si supir dan penumpang yang menendang N, lalu Volde menghabisi mereka dengan Avada Kadavra-nya yang terkenal.

Lalu, sepanjang usianya, N berhasil masuk FIK UI, menjadi suster yang disegani di RS ternama dan mengakhiri hayatnya di RS tersebut. Sampai MD Pictures dan Virgo Putra Film terinspirasi mem-film-kan kisah si N.

~ Imajinasi saya terlalu berlebihan

~ Mengharapkan dunia yang lebih baik

Posted in Jurnal Hari Ini, Pemikiran | 5 Comments »

This is What I Really Think About “Ayat-Ayat Cinta”

Posted by Danang Pramudya on May 9, 2008

Ketika saya menonton film Ayat-Ayat Cinta garapan sutradara Hanung Bramantyo, saya mengaku “speechless“. Mengapa? Karena saya tidak bisa mengapresiasi film ini sebagai film yang bagus, mesti kenyataannya, memang ini film yang baik. Bingung kan? Ya, saya sendiri juga bingung. Biasanya ketika saya menonton sebuah film, saya bisa dengan gamblang men-judge bahwa film ini bagus atau tidak. Tetapi ini berbeda. Film yang tidak bagus menurut saya, tapi saya tidak mampu mengatakannya jelek atau biasa-biasa saja.

Okelah. Lupakan soal dilema yang saya hadapi untuk memutuskan film ini bagus atau tidak. But overall, saya sangat setuju dan mendukung kritikan yang dilancarkan oleh saudara sepupu saya, seorang kritikus film yang mengapresiasi film India jauh lebih baik daripada film Indonesia.

Ini komentarnya yang saya ambil dari sebuah blog http://deconlabel.com/2008/02/28/ayat-ayat-cinta-the-movie-my-review/:

Tylla said March 27, 2008, 2:52 pm:

HEhehe…hmm, sebagai percobaan, apalagi melihat latar belakang pembuatan film ini dan keseriusan mas sutradara, Ayat2 cinta patut di apresiasi.

Tetapi secara objektif, sorry to say, hasil dari segala proses yang susah payah ditempuh sutradara demi mengemukakan ide2 interpretatif atas novel dan islam pada umumnya agak jauh dari harapan.

Plotnya yang mentah, casting pemainnya terkesan asal2an, skenario yang lemah, sampai yang paling sederhana, research soal wardrobe sepertinya tidak berhasil, melihat wardrobe maria, apalgi noura sepengalaman saya sangat tidak mencerminkan perempuan2 yang ada dimesir sana..hehehe..masa krudung noura krudung melayu begitu D hanya ketika di pengadilan, dia mulai berganti kerudung seperti oprang2 mesir pada umumnya D

Belum lagi musik ilustrasi yang…maaf…sangat kacangan , Lantunan qari Emha Ainun Najib yang menggetarkan jadi tersia sia disejajarkan dengan musik yang super ringan dan dangkal…

Suasana mesirnya juga sama super fake dan dangkal..Jangan bicara soal relevansi dengan novelnya..sepertinya esensi novelnya tidak berhasil diterjemahkan melalui film ini..

Inkosistensi bahasa yang digunakan,mebuat film ini terlihat seperti produk kacangan…Maria yang orang mesir, Aisyah yang orang jerman – arab, atau noura…semuanya disulap bilingiual..pparahnya, mereka super lancar berbahasa Indonesis tetapi sangat gagap berbahasa arab (coba perhatikan contoh kecil waktu maria melafalkan surat maryam atau uyang lebih sederhana lagi , ketika iya bilang afwan…saya -punya banyak teman tanzania dan mesir disini, nggak ada yang bicara dengan logat cempreng gaul seperti maria) Belum lagi para polisi dan orang2 lainya dalam film itu…haduh…bahasanya hancur2an
sebegitu pelitnya kah si produser, hingga keberatan membayar dubber berbahasa Arab untuk casts yang berbahasa Arab ?? Sebegitu malasnya kah Mas Sutradara, hingga mengesampingkan bentuk akting cast yang paling sederhana, setidaknya tuntut mereka untuk mendekati aksentuasi dan vokalisasi bahasa yang mereka ucapkan sepatah dua patah..Film ini bisa dihargai sebagai sebuah Film yang serius,menggambarkan suatu ilustrasi cerita dengan serius, bukan dongeng asal2an yang selalu kepentok urusan teknis karena pelitnya produser dan malasnya sutradara menggembleng cast untuk mendalami perannya.menurut saya,Bahasa adalah ilustrasi yang paling sederhana untuk membawa kita merasakan kenyataan alur dan latar belakang cerita…instead of merasakan suasana Kairo, saya jadi berasa berada di kawasan Tanah Abang..

Mungkin lain kali, Mas Hanung bisa lebih serius dan tidak kompromis dalam mewujudkan idealismenya..terus maju sinema indonesia

Salam sayang
Tylla Subijantoro

Mahasiswa Indonesia di India

Yap, begitulah!!!

Posted in Film | Leave a Comment »

Hal yang Bisa Memuaskan Saya

Posted by Danang Pramudya on May 9, 2008

Tadi saya berbincang dengan teman saya di kantin Balgebun. Jadi saat itu saya sedang berdiskusi tentang apa yang akan kami lakukan setelah lulus kuliah. Salah satu fragmen perbincangan kami adalah seperti berikut:

-==-

Saya: “Gue kalo buat film nggak mau buat film di Indonesia. Gue mau buat film Hollywood!”

Teman: “Kalo mau nyari duit, ngapain harus jauh-jauh keluar negeri?”

Saya: “Sorry bro, duit nggak bisa memuaskan gue”

Teman: “Jadi wanita yang bisa memuaskan elo?”

Saya: “Nggak juga”

Teman: “Pria?”

Saya: “Nggak juga”

Teman: “Bencong?”

Saya: “Apalagi itu!!!”

Teman: “Jadi?”

-==-

Eh, begitu saya hendak memberitahu apa yang bisa memuaskan saya, temannya teman saya itu datang. Memang dia sedang menunggu temannya. Jadi yah, terpotong deh pembicaraan kami saat itu.

Speaking about what things who can make me satisfied, sebenarnya kalau anda membacanya mungkin menilai saya, bahwa saya adalah seorang yang hipokrit, naif, dan munafik. But, this is the truth. Saya merasakan kepuasan yang luar biasa ketika saya bisa berguna untuk orang lain. Ketika saya bisa membahagiakan orang lain, dan ketika saya bisa membuat orang lain bangga akan saya, akan apa yang saya lakukan, dan atas prestasi saya. Apalagi ketika saya bisa memberikan dukungan kepada seseorang sehingga orang itu berani melakukan apa yang hendak dilakukannya. Those are all make me satisfied. Really satisfied.

Harta, ambisi yang tercapai, kesenangan duniawi, percintaan, semua memang memberikan kepuasan untuk saya. Namun selain memberikan kepuasan, hal-hal itu juga memberikan kehampaan. Benar-benar kehampaan. Mungkin anda yang membaca tulisan ini setuju kepada apa yang saya tuangkan di sini. Karena sesungguhnya, memang hal-hal itu yang bisa memuaskan kepada tidak hanya saya, namun kepada semua orang. That’s all!

Posted in Curhat, Jurnal Hari Ini | 2 Comments »

Namanya Juga Manusia

Posted by Danang Pramudya on May 9, 2008

Saya punya resep menarik yang saya temukan sendiri. Bukan resep makanan, obat, apalagi ramuan pelet. Resep ini berguna untuk dalam hubungan kita dengan orang lain. Resep ini lebih efektif digunakan dalam hubungan personal, dalam arti dalam hubungan satu orang dengan satu orang yang lain.

Misalnya kita dihadapkan pada suatu keadaan dimana kita kecewa dengan apa yang dilakukan orang lain kepada kita. Misalnya orang itu telah membohongi kita, atau orang itu bersikap tidak respek kepada kita padahal kita cukup respek kepada dia, atau orang itu bahkan mengkhianati kita.

Resep yang saya maksudkan di sini bukan berbentuk suatu benda yang konkrit, tapi hanya sebuah pernyataan.

NAMANYA JUGA MANUSIA

Yak! Hanya seperti itu resepnya. Jadi ketika kita dikecewakan sama orang lain, nggak perlu marah, nggak perlu naik darah, nggak perlu ngamuk-ngamuk, apalagi sampe bunuh orang. Cukup dengan mengeluarkan pernyataan di atas. Insya Allah kita akan tenang sendiri.

Sebenarnya sih dengan ngucapin pernyataan di atas baik dengan mulut, atau dalam otak kita saja, kita nggak selalu otomatis bisa tenang. Perlu berkali-kali pengucapan disertai dengan usaha untuk memahami seperti apa manusia itu. Sesempurnanya manusia di dunia, pasti mereka masih mempunyai sifat manusiawi yang tidak semuanya sempurna. Karena pada hakikatnya, memang manusia mengejar apa yang disebut kenyamanan. Dan mereka memiliki hak untuk menentukan sendiri keadaan seperti apa yang menurutnya nyaman, meskipun itu harus melampaui kewajiban-kewajibannya. Yah, namanya juga manusia.

Yang saya lakukan dengan resep ini bekerja baik beberapa kali untuk saya. Saya semakin bisa mengontrol emosi saya dan yang paling penting adalah memahami sesama kita sebagai manusia yang bercacat. Lagipula, pernyataan ini bisa bertransformasi menjadi sebuah cermin yang dapat kita gunakan untuk melihat ke dalam diri kita sendiri, seperti apakah diri kita, ketika kita serius dan berkonsentrasi untuk bukan hanya mengucapkan, namun juga memahami.

Posted in Pemikiran | Leave a Comment »