Huruf ‘M’ bisa jadi kependekan dari Manusia, atau Munafik, atau Memble. Ya sudahlah. Saya tidak sedang membahas huruf M saat ini.
Ceritanya, malam minggu lalu saya melewatkan malam dengan my best friend, sekaligus my partner in crime. Nah, kita diskusi banyak hal saat itu. Mulai dari topik mengenai Reinkarnasi (siapa tahu artinya?), sampai mengenai E** yang satu. Waduh! Berat banget. Tapi sebenarnya kita membicarakan hal-hal taboo seperti itu dengan candaan ringan. Lalu masuk mengenai candaan tentang nama anak-anak saya kelak (kalau saya nanti ditakdirkan punya anak dan dokter spesialis ginekologi tidak memvonis saya mandul).
Lalu saya berfikir, di dunia ini semua orang tua pasti memberikan nama terbaik, nama yang mempunyai arti baik bagi anak-anaknya. Tentu mereka mengharapakan anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang baik sesuai dengan harapan yang tercermin dari nama yang mereka berikan (atau bahasa kerennya, nama anak adalah doa orang tua). Contohnya, kalau sepasang orang tua (emang merpati kali ya, sepasang) memberi nama anak mereka Imam, tentu mereka mengharapkan agar si Imam ini bisa menjadi anak yang berjiwa pemimpin, kelak-kelak menjadi Imam bagi bangsanya.
Kenyataannya di dunia ini semua orang memiliki nama yang berarti baik. Tapi apa yang terjadi di bumi kita saat ini? Bagaimana situasi bumi kita? Perang dimana-mana, pembunuhan masal yang seperti sarapan pagi, fitnah, pertikaian, belum lagi pemanasan global yang tak lain dan tak bukan adalah akibat ulah tangan manusia sendiri. Bahkan si Imam tumbuh menjadi Imam yang memimpin bangsanya menghancurkan bangsa lain (sebut saja bangsa X) karena dirinya kalah taruhan memperebutkan cewek bohay dengan pemimpin bangsa X tersebut.
Oleh karena itu, saya mengajukan asumsi seperti yang saya nyatakan di bawah ini:
Base case: Nama semua orang di dunia berarti baik, tetapi dunia menjadi buruk.
Solusi: Berikan nama yang berarti buruk kepada semua orang, dunia akan menjadi baik.
Melanjutkan pembicaraan yang penuh air mata (menahan sakit perut karena kebanyakan tertawa), saya memutuskan untuk memberi nama anak-anak saya seperti contoh berikut ini. Saya mengasumsikan memiliki 4 orang anak.
Anak Pertama
Dengan berat hati, karena saya mengharapkan anak pertama saya ini akan menjadi pemimpin bagi adik-adiknya kelak, saya memutuskan untuk memberi nama Luci Ferianti. Yak, anda semua tahu asal kata nama anak pertama saya. Sungguh menyenangkan anak pertama saya perempuan. Sehingga dirinya bisa dipanggil dengan kata Luci saja. Dengan nama tersebut, saya mengharapkan Luci tumbuh menjadi pemimpin yang membawa umat manusia menuju dunia yang lebih baik. Amien.
Anak Kedua
Doa saya bersama istri saya, anak kedua saya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas, pandai, sanggup menyelesaikan masalah, bahkan yang terberat sekalipun, tidak pernah menyerah, tangguh, dan bijaksana, saya lalu teringat dengan karakter sebuah tokoh dalam novel favorit saya, Harry Potter. Tapi saya tidak akan menamai anak saya Harry Potter, atau Albus Dumbledore, namun justru saya akan menamai anak kedua saya Volde Mortigo (tapi kok saya justru teringat nama aktor LOTR ya, Viggo Mortensen).
Anak Ketiga
Oke, karena saya telah memiliki 2 orang anak yang satu berjiwa pemimpin, dan yang satu lagi seorang problem solver yang cerdas dan tangguh, untuk anak ketiga, saya berdoa agar dia tumbuh menjadi anak yang bisa menyebarkan inspirasi dan kasih sayang, serta memiliki kreatifitas yang baik dalam hal fesyen. Jadi saya memutuskan untuk lagi-lagi menamainya dengan salah satu karakter di buku Harry Potter, tak lain dan tak bukan adalah Dementori Amos. Saya mengharapkan Demen menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, karena sifatnya yang selalu patuh sama atasan, menjadi penyebar inspirasi, karena hobinya melayang-layang di udara menciptakan suatu suasana, penyebar kasih sayang, dengan kesukaannya mengecup orang lain, dan juga memiliki selera fesyen yang baik. Ya anda tahulah gimana selera fesyen Dementor di buku HP.
Anak Keempat
Untuk si bungsu, tentu saja ia diharapkan menjadi anak yang disayang, dimanja, menjadi favorit, selalu dilindungi (karena paling muda), dan menjadi tempat penyia-nyiaan kakak-kakaknya (pelampiasan marah). Maka saya memutuskan untuk memberi nama, treng teng teng teng teng, Namanya…. ‘N’. Yak, N saja. Alkisah ketika N memasuki hari pertamanya di SD, Ibu guru mengabsen seluruh muridnya. Dan tiba giliran si N dipanggil.
Ibu guru: N?
N: Saya, Bu!
Ibu guru: Nama panjang kamu siapa, N?
N: N saja, Bu!
Ibu guru: Oh! Hobi kamu apa, N?
N: Ngesot, Bu!
Ibu guru: Ngesot? Apa itu?
N: Jadi kalau Inul punya goyang ngebor, Anisa Bahar punya goyang patah-patah, lalu yang lain Ngecor, Kayang, dan lain-lain, saya punya goyang ngesot!
Ibu guru: Menarik sekali! Kalau begitu kalau sudah besar kamu ingin menjadi penyanyi dangdut?
N: Tidak, Bu! Saya bercita-cita masuk lulus SPMB dan masuk Fakultas Ilmu Keperawatan UI untuk menjadi seorang suster!
Ibu guru: Bagus! Bagus sekali cita-citamu, N! Saya rasa, saat SPMB nanti kamu akan diuntungkan waktu, karena namamu hanya satu huruf. Jadi ketika teman-temanmu masih disibukkan dengan membulati identitas, kamu sudah bisa mengerjakan soal. Brilian sekali orang tuamu, N!
N: That’s my parent, Madame! I love them, so!
Ibu guru: Bicara bahasa apa kamu, N? Saya tidak mengerti.
N: Bahasa suster, Bu!
Ibu guru: Oh!
Ya begitulah N. Sebagai anak bungsu, disia-siakan sekaligus dilindungi keluarganya menjadi makanan sehari-hari N. Misalnya, saking hobinya dia ngesot (bahkan ia memutuskan untuk ngesot selama-lamanya daripada berjalan), dan kamar tidurnya berada di lantai 2, saat istri saya memanggil, “N, makan malam dulu!”. N menjawab, “Iya, Bu!”, N lalu ngesot turun dari ranjangnya, keluar kamar, menyusur tangga dan menuju meja makan. Betapa terkejut dia, ketika matanya bisa melihat seluruh isi meja makan, yang tersisa hanya tulang belulang ayam dan ikan, nasi yang tinggal sesendok teh, dan sayur yang tinggal kuahnya saja. Tak heran jika, pertumbuhan N menjadi terhambat. Menderita polio karena ulahnya sendiri yang memutuskan ngesot lebih nyaman daripada berjalan, dan ceking kurus kerontang, tinggal kulit menyelimuti tulang.
Tak heran jika ketika dia naik angkot, dan memutuskan untuk turun dari angkot, supir angkot yang tak sabar untuk jalan lagi menyuruh seorang penumpang untuk menendang N. “Tendang aja!” kata si supir angkot. Seorang penumpang menendangnya keluar hingga terjatuh di jalanan, lalu angkotnya lari dan mencipratkan genangan air di tubuh N. Namun menjadi bukti juga kalau N dilindungi oleh keluarganya, ketika serta merta kakak kedua dan ketiganya, Volde dan Demen datang dan mengejar si tukang angkot, sambil melayang-layang di udara. Demen memberikan kecupan mautnya kepada si supir dan penumpang yang menendang N, lalu Volde menghabisi mereka dengan Avada Kadavra-nya yang terkenal.
Lalu, sepanjang usianya, N berhasil masuk FIK UI, menjadi suster yang disegani di RS ternama dan mengakhiri hayatnya di RS tersebut. Sampai MD Pictures dan Virgo Putra Film terinspirasi mem-film-kan kisah si N.
~ Imajinasi saya terlalu berlebihan
~ Mengharapkan dunia yang lebih baik