Coffee, Wine, Cotton, & Bread

Danang Pramudya’s journey – It is life indeed

Archive for April, 2008

Film Indonesia itu Ibaratnya … (hmm, apa yah?)

Posted by Danang Pramudya on April 20, 2008

Ibaratnya Pakaian Karya Penjahit Amatir

Filmmaker Indonesia itu rasa-rasanya pantas kalau diibaratkan sebagai penjahit amatir. Penjahit amatir yang kalau di pasar-pasar induk atau di manapun sering ditemukan dengan papan nama seperti misalnya “Rapi Tailor”, “Edi Permak Levis”, “Penjahit Aminah”, dll, diibaratkan seperti rumah-rumah produksi film yang ada di Indonesia saat ini. Kenapa ya? Satu kenyataan yang saya temukan, bahwa penjahit-penjahit amatir itu hanya memiliki mesin jahit sebagai infrastrukturnya. Bahkan mesin jahit yang mereka miliki rata-rata juga mesin jahit manual yang sudah tua usianya (mesin jahit milik nenek-nenek kita dulu yang digenjot pake kaki atau diputer pake tangan untuk menggerakkan mesinnya). Padahal untuk membuat sebuah pakaian yang baik dan rapi hasilnya, diperlukan juga yang namanya mesin obras. Nah, penjahit-penjahit ini kalau mau mengobras harus ke pasar dulu atau penjahit lain yang lebih besar yang memiliki mesin untuk mengobras.

mesin jahit milik nenek kita & kamera film 16 mm yang biasa dipake sineas Indonesia

mesin obras di pasar induk & mesin printing blowing film di Bangkok

Sama seperti film Indonesia, di Indonesia belum ada yang namanya film lab yang memiliki mesin untuk menge-print dan mem-blowing film, belum ada yang namanya lab untuk produksi efek spesial, dan sebagainya. Mesin ini saya ibaratkan seperti mesin obras yang tidak dimiliki oleh para penjahit amatir. Produser-produser Indonesia harus pergi ke Thailand, Hongkong atau Australia untuk melakukan salah satu proses yang paling penting dalam membuat film menjadi karya yang bisa disaksikan penonton di bioskop. Itulah alasannya mengapa saya mengibaratkan filmmaker Indonesia seperti para penjahit amatir. Yah, yang namanya amatir, tetep aja lah, hasil karyanya juga amatiran.

Menurut saya sudah saatnya film Indonesia harus memikirkan masa depannya dan karakternya supaya hasilnya tak lagi amatiran. Memang ada sih beberapa film Indonesia yang bisa banyak bicara di Internasional. Berbagi Suami karya Nia Dinata misalnya. Namun tak heran, proses pembuatan film ini juga melibatkan turut campur orang Perancis, yang notabene merupakan salah satu kiblat negara film dunia. Ya bener dong nggak heran. Ibaratnya, kayak penjahit amatir yang dibantu sama perusahan fashion dari Paris untuk membuat sebuah mahakarya.

Lalu, kapan film Indonesia bisa menunjukkan kebanggaannya sebagai sebuah maha karya asli anak bangsa yang mampu bicara di dunia perfilman Internasional. Kalau kita perhatikan, ya itu yang namanya penjahit amatir cuma peduli sama duit yang dihasilin dari buat baju saat ini doang. Kayak gitu juga lah karakternya produser-produser Indonesia. Pokoknya hari ini gue harus buat film, puter di bioskop, yang penting balik modal, sukur-sukur dapat untung 1M. Nggak peduli bentuknya gimana yang penting laku, penonton puas, kalo kata penjahit, yang penting klien puas ama jahitan gue. Sempitnya pemikiran produser-produser Indonesia saat inilah yang menyebabkan film Indonesia kurang lebih mirip-mirip sama jahitan baju penjahit amatir. Kalo kata penjahit amatir, nggak usah beli mesin obras kalo masih bisa sewa servis di pasar induk, kata produser Indonesia juga gitu. Nggak usahlah mahal-mahal beli kamera film sendiri, mesin printing blowing sendiri, atau lab khusus sendiri. Tinggal ke Bangkok aja, nyewa. Gitu aja kok repot. Bahkan kamera untuk ngerekam gambar aja nggak punya (para PH biasanya menyewa peralatan ini dari pihak khusus). Duh, duh, duh. Piye toh iki?

Lalu apa sih yang sebenarnya maksud saya nulis panjang lebar seperti ini? Begini lho, saya rasa satu dua PH di Indonesia udah punya banyak uang lah. Yah, paling enggak bisa dong cari investor untuk beli tuh perlengkapan yang bisanya kita harus ke luar negeri dulu untuk memakainya. Kenapa mereka enggak berfikiran untuk berinvestasi pada perlengkapan itu? Ingat lho, Hollywood bisa semaju sekarang karena orang-orang di sana sangat sensitif dengan yang namanya teknologi dan ilmu pengetahuan untuk pengembangan film. Orang Indonesia juga seharusnya seperti itu. Ayo dong, tolong perhatiin sedikit aja tentang penggunaan teknologi film di Indonesia, kalau memang seperti kata mereka yang bilang punya visi tentang kemajuan film Indonesia. Lama kelamaan penonton Indonesia bakal bosen dengan karya-karya amatir yang begitu-begitu aja. Percaya deh! Terus juga kalo dipikir-pikir, misalnya sebut aja Chand Parwez Servia dari Starvision beli mesin printing dan blowing film, sama sekalian bangun lab film paling mutakhir di Indonesia, terus kalo misalnya Manoj Punjabi sama Dhamoo Punjabi pengen make tuh mesin kan bisa. Mereka nggak perlu keluar negeri, buang-buang duit. Mendingan nyewa sama Chand Parwez Servia. Manoj dan Dhamoo bisa lebih hemat, Chand Parwez dapet duit dari MD. Simpel kan? Pasti balik modal deh. Dijamin!

Posted in Film, Pemikiran | 1 Comment »

Diet Ketat

Posted by Danang Pramudya on April 18, 2008

Sewaktu saya bangun tidur tadi pagi, saya menimbang berat badan saya. Wah, ternyata diet saya berhasil. Berat badan saya menyentuh angka 71 kg. Saya targetkan, akhir bulan ini di bawah 70 kg. Ibu saya pasti senang kalau melihat kemajuan saya dalam melakukan diet ini. Saya tak lagi makan daging merah dan teman-temannya, mengurangi konsumsi garam, MSG, dan makanan berbahan pengawet.

~ Badan terasa jadi lebih ringan

~ Emosi lebih stabil

~ Tidak ada lagi yang memanggilku LLB (Lemak-Lemak Berlapis)

Posted in Jurnal Hari Ini | Leave a Comment »

Tentang “Grey Wednesday”

Posted by Danang Pramudya on April 17, 2008

Mungkin hari rabu kemarin adalah hari rabu yang penuh dengan pengalaman yang tidak menyenangkan. Kata Rozi, karma buruk saya sedang berbuah. Jadilah saya mengalami rentetan peristiwa yang penuh dengan rasa sakit hari rabu kemarin.

Dimulai, ketika saya hendak belajar TKCL sama Rozi, saya membutuhkan beberapa slide di komputer. Namun saya tak menyangka kalau monitor komputer saya tidak bisa menyala lagi untuk selamanya (Sudah diapa-apain, masih nggak nyala). Padahal pagi harinya masih bisa lho. Jadilah hal tersebut awal dari segala duka saya di hari yang sangat kelabu kemarin.

Setelah itu saya belajar TKCL sama Rozi. Asumsi saya, Rozi yang pernah mengambil kuliah itu dan mendapat nilai A, bisa membantu mengajari saya. Namun, tak dinyana, yah, yang namanya Topik Khusus, materi saya berbeda dengan materi yang diterima Rozi setahun yang lalu. AKhirnya Rozi dan saya sama-sama blank, namun masih lebih banyak saya lah yang mengajari Rozi. Akhirnya kami menyerah.

Kurang lebih pukul 13.00 saya merasakan nyeri dada. Biasa, penyakit ini lagi demen-demennya menyerang saya akhir-akhir ini. Akhirnya, saya memutuskan untuk meminum sebutir painkiller yang berkhasiat mengurangi nyeri di dada. Namun setelh meminum obat itu ternyata muncul efek samping. Kepala saya jadi luar biasa pusing. Begitu bodohnya saya karena kalut, saya meminum obat migren saya. Unalium 5 mg. Tapi tentu saya harus makan siang dulu.

Di tengah-tengah pusing kepala saya, saya harus mengangkat monitor itu ke atas lemari. Namun karena kondisi saya lemah, saya malah terpleset dan bagian belakang telapak kaki saya tertusuk paku yang menyembul di bawah ranjang saya. Cukup dalam, karena darah yang keluar banyak. Untung saja saya siap handyplast di kost-an. Darah saya usap dengan tisu, baru saya tempelkan handyplast.

Lalu saya kembali mengangkat monitor dan meletakkannya di atas lemari. Namun terjadi lagi peristiwa. Atap penyangga lemari saya jebol karena muatan monitor yang begitu berat. Jebolnya masuk ke dalam lemari saya. Hiks..

Jadinya saya makan lalu meminum unalium itu. Namun kesalahan saya, saking kalutnya saya lupa kalau unalium itu ternyata obat khusus untuk sakit kepala sebelah (migren). Sedangkan pusing saya keseluruhan. Efek sampingnya ketika saya minum obat itu, rasa sakitnya bukan hilang, namun malah menyebar ke bagian belakang kepala saya. Alamaaakkk.. Sakit banget. Rozi tampaknya tidak tega melihat saya yang sulit berjalan dan sudah mau pingsan. Alhasil, setelah sampai di kost, saya langsung merebahkan badan saya di ranjang dan tertidur. Namun tidur itu cuma setengah jam kurang, karena rasa sakit ini sangat mengganggu dan tidak hilang-hilang.

Akhir Penderitaan

Saya memutuskan untuk mengobrak-abrik isi tas obat saya. Saya bersyukur karena menemukan Dumin Parasetamol 500 mg dan Paramex (parasetamol 250 mg dan propifenazon 150 mg). Perlu diketahui, parasetamol adalah painkiller paling cocok dan efektif buat tubuh saya. Semua rasa nyeri langsung hilang dengan obat ini. Jadilah saya meminum sebutir Dumin dan sebutir Parasetamol (total parasetamol yang saya minum 750 mg). Inilah akhir dari penderitaan saya. Hanya dalam hitungan menit, rasa sakit berangsur-angsur hilang. Bahkan jam 8 malam sesudah makan saya meminum parasetamol lagi dalam jumlah mg yang sama. Total, saya mengkonsumsi 1500 mg parasetamol kemarin.

Namun, saya antisipasi pengaruh buruk (efek samping) parasetamol itu dengan meminum sekaleng susu cap beruang (bear brand) pagi harinya. Katanya sih ampuh untuk menetralisir segala macam kelebihan zat kimia di dalam tubuh. Yah, lumayan sih. Walaupun tubuh saya belum se-fit biasa, namun setidaknya rasa sakit tidak terasa. Meskipun masih ngerasain sedikit rasa parasetamol di lidah saya. Ehmmmhh, mulut saya sungguh tidak enak. Lapar… Pengen makan…

Posted in Jurnal Hari Ini | Leave a Comment »

Acerca De El Traidor

Posted by Danang Pramudya on April 14, 2008

Jadi teringat film Elizabeth: The Golden Age yang pernah saya tonton. Tentang Raja Philip II dari Spanyol yang menyerang kerajaan Inggris yang saat itu dipimpin oleh sorang wanita, pejuang sekaligus seorang pemimpin paling populer sepanjang sejarah kerajaan Inggris bernama Elizabeth I. Perlu diketahui, Spanyol saat itu adalah dinasti kerajaan terkuat dan terbesar di dunia. Armada lautnya adalah yang terbesar dan tersohor. Kerajaannya merentang di sepanjang Eropa sampai “Dunia Baru” di benua Amerika. Untuk menyerang Inggris, Raja Philip menyiapkan lebih dari 100 kapal perang dan 10,000 pasukan untuk menaklukan Inggris. Belum ditambah bantuan dari sepupu Raja Philip, Duke of Parma.

Jadi ceritanya, Raja Philip II memiliki impian untuk menjadi Raja Inggris sejak lama. Berbagai upaya, termasuk melamar Ratu Elizabeth I (The Virgin Queen, karena tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya) gagal memenuhi ambisinya. Dilandasi keputusasaan akan ambisinya itu, Philip II menyusun rencana Top Secret yang dinamainya “England Enterprise/ Impressa De Inglatera”. Misi utamanya adalah melancarkan pemberontakan kaum Katolik Inggris yang hidup di bawah naungan dominasi kaum Anglikan-Protestan Inggris (Queen Elizabeth I adalah pendukung utama Aliran ini).

Berbagai cara telah ditempuh, namun tidak satupun yang berhasil. Bahkan Dominasinya di Belanda juga terancam oleh pemberontakan kaum Protestan di negeri kincir angin ini yang disponsori oleh kerjaan Inggris. Philip II berfikir, satu-satunya cara untuk mengakhiri ini semua adalah, melakukan invasi dan agresi ke Inggris langsung. Namun masalahnya, Philip II adalah penganut Katolik yang taat, yang tentu tidak akan mengobarkan perang tanpa ada penyebab yang krusial.

England Enterprise were taking some parts of biggest BETRAYAL and aspersion to make the spider web for England Government by being a biggest MISTAKE that threatened England Union…

Efek dari pengkhianatan ini adalah dieksekusi matinya saudara tiri Elizabeth, Queen Mary Stuart of Scots, karena pengkhianatannya terhadap Elizabeth. Perlu diketahui, Informasi berkhianatnya Mary Stuart juga akibat pengkhianatan yang dilakukan pengawal-pengawalnya yang ternyata berkomplot dengan England Enterprise. Karena Queen Mary adalah seorang pengikut setia Katolik, dan Philip II menganggapnya sebagai saudara, tewasnya Queen Mary menjadi legitimasi bagi Philip II untuk mengobarkan perang terhadap Inggris, meskipun ini adalah hasil rencananya dan taktiknya sendiri.

Pendek cerita, berkobarlah perang antara armada Spanyol melawan terbatasnya armada kapal Inggris ditambah beberapa kapal perompak Inggris. Karena over confident dan miskalkulasi, armada Spanyol takluk bahkan sebelum menginjakkan kainya di tanah Inggris. Keperkasaan Elizabeth terlihat saat turun langsung ke baris depan medan perang dan saat menginspeksi pasukannya dia memberikan pidato yang paling terkenal sepanjang zaman kerajaan Inggris. Pidato ini dikenal sebagai The Tilbury Speech. Kekuatannya sebagai seorang ratu yang memilih untuk mati di medan perang daripada berlindung di balik tembok kokoh istananya, telah menginspirasikan Inggris memasuki Era Emas menjadi kerajaan dengan dinasti terbesar di seluruh dunia, hingga saat ini.

Apa yang bisa saya pelajari dari cerita tentang seorang pemimpin yang telah difilm-kan dengan cukup baik oleh Shekhar Kapur? Menurut saya, ketika kita menghadapi suatu kondisi sulit yang terbangun oleh suatu pengkhianatan, kita harus mampu menjernihkan pikiran dan mengumpulkan kekuatan, serta menghilangkan rasa takut, untuk bertahan. Akan ada efek yang menyulitkan akibat dari pengkhianatan itu. Namun, jika kita berpegang teguh pada keyakinan akan diri kita sendiri, dan kepada apapun yang kita yakini benar, saya yakin, kekuatan itu akan mengalahkan segala kesulitan yang akan menghadang.

Saat ini saya sedang menghadapai beruntunnya pengkhianatan dari beberapa orang yang paling saya percaya dan cintai. Ada yang kecil dan tentu ada yang besar. Pelan-pelan saya mulai mengetahui banyak hal, insting saya membawa saya untuk membuka kedok pengkhianatan yang tentu merupakan hasil dari sebuah rancangan. Bukan maksud saya meninggikan hati saya, namun di sini saya dihadapkan pada posisi seperti Elizabeth I. Tentu ada orang seperti Philip II yang merencanakan agar beberapa orang kepercayaan saya mengkhianati saya. Dan saya paham benar, orang-orang seperti Mary Stuart adalah korban dari strategi fitnah, adu domba, bahkan yang dilakukan oleh orang seperti Philip II.

Saya berusaha memahami bahwa ini semua bukanlah seluruhnya kesalahan orang-orang yang berkhianat. Pasti ada beberapa kesalahan yang saya lakukan. Namun saya sangat menyayangkan dan tidak bisa mengira mereka telah begitu bodoh dan dibutakan oleh hal-hal yang seharusnya lebih mereka junjung yaitu kepercayaan dan kasih sayang. Sudah mengalir dalam darah saya, bahwa pengkhianatan adalah ketakutan terbesar saya dalam berhubungan dengan orang lain. Ketakutan itu menimbulkan efek sulit sekali bagi saya untuk menerima pengkhianatan yang telah dilakukan mereka. Bahkan saya telah men-describe jelas dalam profil saya di friendster tentang pengkhianatan.

Homo Homini Lupus

Istilah Tomas Hobbes yang terkenal, “Homo Homini Lupus”, “manusia adalah serigala bagi manusia yang lain” memang terbukti sangat benar adanya. Hal ini memberikan perspeksi baru dalam diri saya. Jangan pernah percaya sama orang lain. Percayalah pada diri sendiri dan kepada Zat yang telah menciptakan diri kita. Oke. Saya memang harus meruntuhkan sifat mudah percaya saya kepada orang lain. Tapi apakah saya harus meruntuhkan rasa kasih sayang saya kepada orang lain.

~ Untungnya kedua orang tua saya tidak berhasil dibuat berkhianat kepada saya… Thanks God!

Posted in Curhat, Film | Leave a Comment »

Struggle to Live, The Storm is Stepping In

Posted by Danang Pramudya on April 8, 2008

Next days, next week, wouldn’t be the easy period in my life. Otherwise, it would be the hardest one. The storm is coming and I muster prepare to face it. Whatever will happen in my life, “I will never ever, ever, ever, ever, ever, ever, ever give up. Winston Churchill said it, I think” (quote from Martian Child).

I’m not the strongest guy in the world, but every second in my life, i have been trying to be stronger than before. It’s the moment to set priorities. It’s the moment to value what it called time. They may say I’m a hypocrite, they may say I’m weak, then they may list all my handicap. But in fact, they don’t know me at all. And I won’t ever curse them for what they saying to me. Just a little sign to notice the bigger storm that will come.

Sebenarnya, saya benar-benar membutuhkan seseorang yang benar-benar bisa kuandalkan untuk membantuku supaya lebih kuat berjuang menjalani hidup. Namun kepergian satu persatu orang-orang terdekat dari hidup saya, membuat saya tersadar, ternyata orang harus benar-benar egois untuk bisa bertahan hidup. Mereka yang mengatakan saya egois, tak bedanya dengan mereka sendiri. Setiap orang mencari kenyamanan dalam hidup. Dan mereka harus egois untuk berjuang mencapai itu semua.

Mungkin saya harus benar-benar lebih mendekatkan diri kepada Allah. Karena saat ini hanya Allah lah satu-satunya zat yang paling bisa kuandalkan dalam menemani diri saya menjalani hidup ini. Saya akan berusaha. Apapun yang terjadi, saya tidak akan pernah menyerah.

Posted in Curhat | 1 Comment »