Ibaratnya Pakaian Karya Penjahit Amatir
Filmmaker Indonesia itu rasa-rasanya pantas kalau diibaratkan sebagai penjahit amatir. Penjahit amatir yang kalau di pasar-pasar induk atau di manapun sering ditemukan dengan papan nama seperti misalnya “Rapi Tailor”, “Edi Permak Levis”, “Penjahit Aminah”, dll, diibaratkan seperti rumah-rumah produksi film yang ada di Indonesia saat ini. Kenapa ya? Satu kenyataan yang saya temukan, bahwa penjahit-penjahit amatir itu hanya memiliki mesin jahit sebagai infrastrukturnya. Bahkan mesin jahit yang mereka miliki rata-rata juga mesin jahit manual yang sudah tua usianya (mesin jahit milik nenek-nenek kita dulu yang digenjot pake kaki atau diputer pake tangan untuk menggerakkan mesinnya). Padahal untuk membuat sebuah pakaian yang baik dan rapi hasilnya, diperlukan juga yang namanya mesin obras. Nah, penjahit-penjahit ini kalau mau mengobras harus ke pasar dulu atau penjahit lain yang lebih besar yang memiliki mesin untuk mengobras.

mesin jahit milik nenek kita & kamera film 16 mm yang biasa dipake sineas Indonesia
mesin obras di pasar induk & mesin printing blowing film di Bangkok
Sama seperti film Indonesia, di Indonesia belum ada yang namanya film lab yang memiliki mesin untuk menge-print dan mem-blowing film, belum ada yang namanya lab untuk produksi efek spesial, dan sebagainya. Mesin ini saya ibaratkan seperti mesin obras yang tidak dimiliki oleh para penjahit amatir. Produser-produser Indonesia harus pergi ke Thailand, Hongkong atau Australia untuk melakukan salah satu proses yang paling penting dalam membuat film menjadi karya yang bisa disaksikan penonton di bioskop. Itulah alasannya mengapa saya mengibaratkan filmmaker Indonesia seperti para penjahit amatir. Yah, yang namanya amatir, tetep aja lah, hasil karyanya juga amatiran.
Menurut saya sudah saatnya film Indonesia harus memikirkan masa depannya dan karakternya supaya hasilnya tak lagi amatiran. Memang ada sih beberapa film Indonesia yang bisa banyak bicara di Internasional. Berbagi Suami karya Nia Dinata misalnya. Namun tak heran, proses pembuatan film ini juga melibatkan turut campur orang Perancis, yang notabene merupakan salah satu kiblat negara film dunia. Ya bener dong nggak heran. Ibaratnya, kayak penjahit amatir yang dibantu sama perusahan fashion dari Paris untuk membuat sebuah mahakarya.
Lalu, kapan film Indonesia bisa menunjukkan kebanggaannya sebagai sebuah maha karya asli anak bangsa yang mampu bicara di dunia perfilman Internasional. Kalau kita perhatikan, ya itu yang namanya penjahit amatir cuma peduli sama duit yang dihasilin dari buat baju saat ini doang. Kayak gitu juga lah karakternya produser-produser Indonesia. Pokoknya hari ini gue harus buat film, puter di bioskop, yang penting balik modal, sukur-sukur dapat untung 1M. Nggak peduli bentuknya gimana yang penting laku, penonton puas, kalo kata penjahit, yang penting klien puas ama jahitan gue. Sempitnya pemikiran produser-produser Indonesia saat inilah yang menyebabkan film Indonesia kurang lebih mirip-mirip sama jahitan baju penjahit amatir. Kalo kata penjahit amatir, nggak usah beli mesin obras kalo masih bisa sewa servis di pasar induk, kata produser Indonesia juga gitu. Nggak usahlah mahal-mahal beli kamera film sendiri, mesin printing blowing sendiri, atau lab khusus sendiri. Tinggal ke Bangkok aja, nyewa. Gitu aja kok repot. Bahkan kamera untuk ngerekam gambar aja nggak punya (para PH biasanya menyewa peralatan ini dari pihak khusus). Duh, duh, duh. Piye toh iki?
Lalu apa sih yang sebenarnya maksud saya nulis panjang lebar seperti ini? Begini lho, saya rasa satu dua PH di Indonesia udah punya banyak uang lah. Yah, paling enggak bisa dong cari investor untuk beli tuh perlengkapan yang bisanya kita harus ke luar negeri dulu untuk memakainya. Kenapa mereka enggak berfikiran untuk berinvestasi pada perlengkapan itu? Ingat lho, Hollywood bisa semaju sekarang karena orang-orang di sana sangat sensitif dengan yang namanya teknologi dan ilmu pengetahuan untuk pengembangan film. Orang Indonesia juga seharusnya seperti itu. Ayo dong, tolong perhatiin sedikit aja tentang penggunaan teknologi film di Indonesia, kalau memang seperti kata mereka yang bilang punya visi tentang kemajuan film Indonesia. Lama kelamaan penonton Indonesia bakal bosen dengan karya-karya amatir yang begitu-begitu aja. Percaya deh! Terus juga kalo dipikir-pikir, misalnya sebut aja Chand Parwez Servia dari Starvision beli mesin printing dan blowing film, sama sekalian bangun lab film paling mutakhir di Indonesia, terus kalo misalnya Manoj Punjabi sama Dhamoo Punjabi pengen make tuh mesin kan bisa. Mereka nggak perlu keluar negeri, buang-buang duit. Mendingan nyewa sama Chand Parwez Servia. Manoj dan Dhamoo bisa lebih hemat, Chand Parwez dapet duit dari MD. Simpel kan? Pasti balik modal deh. Dijamin!












