Coffee, Wine, Cotton, & Bread

Danang Pramudya’s journey – It is life indeed

Archive for March, 2008

Tentang Hari Jumat dan Telefon Dari Ibu

Posted by Danang Pramudya on March 29, 2008

Jumat, 28 Maret 2008

Malam ini ibu gue nelfon. Sebenernya gara-gara gue yang ngirim sms ke dia. Kayak gini bunyinya “Bu, kok ga pernah telf aku sih? Kangen nih.” Nggak nyampe semenit setelah sms delivered, Ibu nelfon. Nothing’s interesting about our conversation. Just ordinary conversation antara Ibu dan anaknya.

Intinya gue dan ibu gue saling menanya kabar masing-masing. Alhamdulillah, kita berdua sehat-sehat aja. Bapak dan Nino juga sehat. Kebetulan Bapak lagi ngeronda, dan Nino udah tidur sehabis les privat. Sedangkan waktu ibu nelfon gue, Ibu sedang bermain games di laptopnya. Ibu juga bilang sekarang lagi suka nonton DVD film-film Korea. Dia bahkan bilang ke gue untuk buat film kayak film Korea. Iya deh, Bu. Insya Allah nanti kalo aku jadi filmmaker, aku buat film gaya Korea dedikasi khusus untuk Ibu, kayak Hanung yang mendedikasiin film “Ayat-Ayat Cinta”-nya untuk Ibunya.

Terus Ibu tanya, “tumben kamu minta ditelfon?”. Gue jawab, “kangen”. Jujur, sebenernya gue nggak hanya kangen, tapi hari ini gue baru saja mengalami hari yang tidak mudah. Jadi gue sangat membutuhkan suara Ibu yang selalu berhasil membuat gue tenang. Dan memang, Ibu nggak bisa begitu aja menelan bulat-bulat kata “kangen” yang gue bilang. Dia mengetahui bahwa gue sedang mengalami suatu tekanan batin. Gue salut sama Ibu. Dia benar-benar orang yang paling mengenal gue luar dalem. Dia bilang ke gue supaya tetap sabar, sabar, dan sabar. Sambil terus ngingetin gue supaya terus beribadah, satu hal yang seringkali lalai gue lakukan. Terus dia menyemangati aku dengan menyebutkan kata “semangat!” seperti yang sering muncul di film-film Korea itu lho. Hehehe. She does actually know how to make me smile.

Oya, rencananya, akhir April ini, gue akan pulang ke Palembang. Dari tanggal 25 April sampai 4 Mei. I miss my home sweet home, with my mother’s made food, the way we cook our food together, the way we comment the film or the program on TV, the way she advise me, the way she get mad on me, the fight on me and Nino, and everything that could be happened on my home.

Satu hal tentang kesabaran. Mungkin memang Allah Almighty sedang menguji kesabaran gue. Jujur aja ada hal-hal yang sebenernya terlihat sepele tapi itu adalah sebuah beban buat gue. Pandangan bahkan fitnah dari orang-orang yang tidak mengenal gue dari perspektif yang seharusnya (seperti yang ibu gue dan beberapa sohib terbaik gue tahu). Mungkin orang bisa melihat, “Ah, Danang nggak begitu peduli tentang hal itu”. But instead, gue sangat peduli, dan itu membuat gue deperesi. Untuk menutupi kedepresian gue, gue mungkin terlihat bertingkah santai dengan mengacuhkan beberapa hal dan bahkan membuatnya seperti joke. Dan seharusnya, mungkin gue harus bisa lebih bersabar lagi seperti yang Ibu gue bilang. Thanks Mom. This is what I really need right now. I love you ever after.

Por Siempre Te Amare
yo te quiero tanto!!!

Posted in Curhat, Jurnal Hari Ini | Leave a Comment »

Renungan Malam Minggu

Posted by Danang Pramudya on March 15, 2008

Like I said several times, I hate weekend. Apalagi kalo tanggal merah berurutan dari hari kamis, jumat, sabtu, minggu, terus ke senin. Alamak. Cape deh! Nggak tau aja kenapa gue benci akhir pekan. Atau coba gue analisis sedikit alasannya.

Pertama, menjadi sarana untuk buang-buang duit. Yah, kalo nggak ada kerjaan pasti pengennya cari hiburan. Nah gue yang keranjingan pergi nonton layar tancep, udah pasti bakal ngabisin waktu gue untuk buang-buang duit di layar tancep. Apalagi kalo hari libur htm nonton lebih mahal. Terus, belom ditambah belanja, makan, dan segala tetek bengeknya.

Kedua, gue selalu ngerasa kesepian aja kalo akhir pekan. Nggak ada kegiatan, temen nggak punya, yah segala macem gitu deh. Apalagi sekarang gue ngerasa jauh ama keluarga-keluarga gue. Jadi paling selama akhir pekan, tidur, jalan-jalan sendiri, ngerjain tugas, dll.

Ketiga, gue suka sebel. Setiap akhir pekan (public holiday) dikerjain sama orang gila yang berpetualang chatting dengan MIRC dan ngaku-ngaku gue. Malah pake identitas asli gue lagi. Na, nih orang gila yang kelaminnya nggak jelas jenisnya, berchatting ria dengan komunitas kaum gay di MIRC. Nggak tau pasti apa yang jadi bahan omongannya dengan identitas Danang palsu ini, tapi yang pasti dia tahu nomor HP gue dan menyuruh orang yang chat dengannya menghubungi nomor gue itu. Ya jadilah gue terteror. Najis nih orang. Siapa sih lu? Tapi yah kalo dipikir-pikir gapapa deh. Gue anggep usaha untuk mempopulerkan gue lah. Siapa tahu entar gue kepilih jadi presiden RI karena seluruh kaum gay di Indonesia mem-vote gue. Hahaha…

Keempat, apa ya keempat? Kayaknya cukup tiga itu dulu deh. Entar kalo ketemu gue update lagi lah.

By the way, gue masih memikirkan sesuatu tentang hal yang sedang gue pegang sekarang. Tapi gue belum mau publikasiin tentang apa itu. Gini lho, gue baru menyadari betapa jauhnya gue terlibat dalam urusan ini. Hey, I’m Mr. Nobody here… Gue seharusnya tetap berdiri di koridor gue. Tapi gue punya ambisi dan visi yang harus gue wujudin dalam hal ini. Karena ketidakpastian yang begitu besar yang gue lihat dalam hal ini, gue memutuskan untuk bertindak lebih. But, God, sekarang gue merasa kenapa cuma gue sendirian yang bermain. Yah, mungkin gue harus bersabar lebih sedikit dan terus memantau situasi sampai gue harus memutuskan langkah apa yang harus gue ambil. Lanjut atau mundur. Tapi, masa gue harus kecewa lagi untuk yang kedua kalinya. Yah, mudah-mudahan kalau gue harus kecewa, kekecewaan gue bisa terakumulasi dalam daftar rintangan dan tantangan hidup yang harus gue hadapi. Secara otomatis, itu akan memperpendek jalan gue menuju cita-cita sejati hidup gue. Amien!

Piuhhh… Gue sedang bener-bener menghela nafas nih. Gue baru aja buka situs NYFA, salah satu sekolah film yang pengen gue tuju. Tapi melihat fee dan biaya hidup yang begitu besar (gue estimasi sekitar USD 200,000), bagaimana mungkin gue bisa kesana? Tapi pikiran seperti itu harus gue pangkas. Gue bisa kok ke sana. Gue yakin banget. Satu-satunya cara yang harus gue lakuin sekarang adalah menjadi orang yang lebih baik dalam segala hal terlebih dulu. Baru gue yakin, gue akan bisa menuju tempat itu.

Take an ordinary step like usual,
follow the voice of birds singing upon me
and walk through below the sun, the moon and the stars
find a sanctuary to rest my tired heart
and fix my broken wings, promise not to fly again
though it will always fly again someday

by Danang Pramudya

Posted in Curhat, Pemikiran | 8 Comments »

Pelajaran dari Mr. Magorium’s Wonder Emporium

Posted by Danang Pramudya on March 11, 2008

Gue hari ini baru aja ikut workshop tentang Apresiasi Film yang diselenggarain oleh .XML dan PSIMC. Di tengah kondisi fisik gue yang sedang drop (mau flu nih kayaknya), ditambah beberapa urusan yang belum beres, gue menguatkan diri untuk ikut acara ini. Dan memang gue nggak nyesel telah menghadirkan diri di acara ini karena kontennya sangat berharga dan bermanfaat. Membuka wawasan baru untuk gue tentang bagaimana menyikapi sebuah film. Jujur gue belajar banyak hal dari ceramah Mr. Sofian Purnama tadi.

Well, gue sedang galau hari ini. Galau kenapa? Galau kenapa ya? Kasih tau nggak yaaaaa???? Hehehe. Ya, pokoknya ada suatu hal yang menambah beban pikiran baru buat gue. Sebenernya kalo gue mau sih, gue nggak seharusnya peduli dan mikirin ini. Tapi setelah gue pikir-pikir lagi. Gue emang harus peduli. Gue sudah sejauh ini melangkah. Gue sudah dan akan menginvestasikan banyak hal termasuk mimpi dan cita-cita gue. Hubungan gue dengan orang yang menambah beban pikiran gue ini juga sudah well improved daripada sekedar mitra. We are friends. A very good friend.

Masalah kegalauan gue ini membuat gue teringat tentang film yang baru gue tonton di DVD hari jumat minggu lalu. Judulnya “Mr. Magorium’s Wonder Emporium”.

988_828.jpg

Actually this is a good movie. Gue sangat mengapresiasi cerita di film ini. Memang nggak ada logikanya sih seperti yang dikatakan Mr. Purnama. Tapi esensi dari cerita di film ini sangat luar biasa. Film ini bercerita tentang Mr. Magorium (Dustin Hoffman) dengan toko mainan ajaibnya yang seluruh mainannya, bahkan pula tokonya mempunyai jiwa. Mr. Magorium mempunyai manajer toko bernama Molly Mahoney (Natalie Portman). Seorang insecure yang bimbang tentang cita-citanya antara menjadi pengurus toko atau berjuang menjadi seorang musician demi mendapat uang dan penghidupan yang layak. Karena menurutnya, menjadi manajer toko mainan bukan cara yang tepat untuk memiliki penghasilan.

Suatu hari Mr. Magorium yang katanya sudah berusia 243 tahun, ingin mengundurkan diri dari tokonya karena ingin meninggalkan dunia. “I’m leaving…”, he said. Lalu ia memberikan seluruh tokonya kepada Mahoney. Mahoney yang masih bimbang, tidak yakin akan bisa meneruskan toko mainan Mr. Magorium. Lantas tokonya berubah menjadi kelam, seluruh mainan bahkan dinding toko, pokoknya semua yang berada dalam toko berubah warna menjadi kelabu, untuk menunjukkan sikap protes dan kesedihannya atas kepergian Mr. Magorium. Namun karena keyakinan yang muncul lagi, akhirnya Mahoney bersedia meneruskan toko mainan ajaib itu, dan toko mainan menjadi berwarna-warni lagi menemukan jiwanya kembali.

What i’m talking about this movie? Ya inilah yang gue rasain sekarang. Ibaratnya gue adalah toko mainan ajaib itu yang akan ditinggalkan oleh pemiliknya (sebenarnya bukan pemilik sih). Mungkin bukan cuma gue doang, tapi kan yang tau berita ini kan baru gue doang (walah gue semakin nggak jelas..) What I really need now is the future owner. Siapakah Mahoney yang akan menggantikan Mr. Magorium? Belum terlihat saat ini. Tapi gue yakin ada kalanya nanti.

Speaking about what comes to Mr. Magorium, gue harus belajar ikhlas menerima dan memahami apa yang diinginkan orang lain. The world does matter not about myself. Tapi setiap orang punya keinginan masing-masing. Mr. Magorium sudah lelah hidup di dunia, dan ia ingin segera mengakhirinya (bukan dengan bunuh diri tentunya). Gue belajar bahwa Mr. Magorium mempunyai hak dan cita-citanya sendiri. Tidak ada satu orang pun yang berhak menghalang-halanginya.

Begitu pula dengan Mahoney. Mahoney ingin menjadi musisi. Tapi keyakinannya untuk menjadi musisi sudah luntur sejak waktu yang lama. Dan saat ini ia baru menyadari yang ia tahu dan bisa ia lakukan adalah bermain musik. Mengapa ia baru sadar saat ini? Karena jiwanya telah lama ia serahkan di dalam toko mainan Mr. Magorium.

Well, those are the lesson from this movie. Belajar memahami dan mengerti keinginan dan cita-cita orang lain. Di satu sisi, kesedihan dan hasrat untuk membuat diri nyaman begitu besar. Namun di sisi lain, kita seharusnya berbahagia jika melihat orang yang juga kita sayangi bahagia dengan kehidupan dan cita-cita yang ia kejar. That’s all

Posted in Curhat, Film, Pemikiran | Leave a Comment »

Shape of My Heart (The Revision)

Posted by Danang Pramudya on March 5, 2008

I live my life in chains, got my hands in chains
and I can’t stick with the cards that I got with a deal like this
I must insist that a boy got more to do than be the way you think a man should
I’m taking it into my own hands, in this hesitated land I can’t understand
Why I’m taking command, had enough of stuff, and now it’s time to think about me, me!

I’ve always played it safe, nothing’s ever safe,
Give me the courage to back my own convictions,
Every decision I make I pay it back and more
Now turn the cards and let them fall to me
Cos I don’t need to play on with the hand that thay have given me
I’ll give it back cos it’s not the way it has to be…!

And I can easily gamble my life away, second after second and day by day
I play the game or I walk away, it’s a new turn on a blue day
And a cool deal of life for me, and it’s all good!

I know that the spades are the swords of the soldiers,
I know that the clubs are weapons of war,
I know that the diamonds mean money for this art,
That’s not the shape of my heart!

Posted in Curhat | Leave a Comment »

Don’t Love Me Just Now!

Posted by Danang Pramudya on March 2, 2008

Satu lagi seorang cewek nembak gue malam ini.

It’s a disaster to pick me as her boy! Siapa sih gue? Anak raja? Anak konglomerat? Cakep juga enggak. Buncit, jerawatan, bego, item, idup lagi! Padahal dia cantik banget. Cool, keren, smart, everything. Kebanting banget sama gue. Masih banyak cowok lain bertebaran di dunia ini. Salah besar kalo milih gue. I’m not a perfect man. Not perfect as you. Gue brengsek, ga sensitif, lemot, ga tau diri, jelek, ya begitulah.

Actually, i am just still in love with somebody who had been in my heart for such a long time ago. 3 years actually. What I really need adalah melupakan orang itu dulu, membuang darinya jauh-jauh dari pikiran gue, lalu lulus kuliah, belajar menjadi orang yang baik, baru setelah itu gue akan fokus nyari istri! Insya Allah!

A note or two for her:

I’m sorry if I gave you a really bad taste in your mouth, I’m sorry if i gave you a hope. I just feel comfort to have you as a friend. Semoga dengan semua kejadian ini tidak mengubah apapun dari kita selama ini.

Posted in Curhat | 1 Comment »