Jumat, 28 Maret 2008
Malam ini ibu gue nelfon. Sebenernya gara-gara gue yang ngirim sms ke dia. Kayak gini bunyinya “Bu, kok ga pernah telf aku sih? Kangen nih.” Nggak nyampe semenit setelah sms delivered, Ibu nelfon. Nothing’s interesting about our conversation. Just ordinary conversation antara Ibu dan anaknya.
Intinya gue dan ibu gue saling menanya kabar masing-masing. Alhamdulillah, kita berdua sehat-sehat aja. Bapak dan Nino juga sehat. Kebetulan Bapak lagi ngeronda, dan Nino udah tidur sehabis les privat. Sedangkan waktu ibu nelfon gue, Ibu sedang bermain games di laptopnya. Ibu juga bilang sekarang lagi suka nonton DVD film-film Korea. Dia bahkan bilang ke gue untuk buat film kayak film Korea. Iya deh, Bu. Insya Allah nanti kalo aku jadi filmmaker, aku buat film gaya Korea dedikasi khusus untuk Ibu, kayak Hanung yang mendedikasiin film “Ayat-Ayat Cinta”-nya untuk Ibunya.
Terus Ibu tanya, “tumben kamu minta ditelfon?”. Gue jawab, “kangen”. Jujur, sebenernya gue nggak hanya kangen, tapi hari ini gue baru saja mengalami hari yang tidak mudah. Jadi gue sangat membutuhkan suara Ibu yang selalu berhasil membuat gue tenang. Dan memang, Ibu nggak bisa begitu aja menelan bulat-bulat kata “kangen” yang gue bilang. Dia mengetahui bahwa gue sedang mengalami suatu tekanan batin. Gue salut sama Ibu. Dia benar-benar orang yang paling mengenal gue luar dalem. Dia bilang ke gue supaya tetap sabar, sabar, dan sabar. Sambil terus ngingetin gue supaya terus beribadah, satu hal yang seringkali lalai gue lakukan. Terus dia menyemangati aku dengan menyebutkan kata “semangat!” seperti yang sering muncul di film-film Korea itu lho. Hehehe. She does actually know how to make me smile.
Oya, rencananya, akhir April ini, gue akan pulang ke Palembang. Dari tanggal 25 April sampai 4 Mei. I miss my home sweet home, with my mother’s made food, the way we cook our food together, the way we comment the film or the program on TV, the way she advise me, the way she get mad on me, the fight on me and Nino, and everything that could be happened on my home.
Satu hal tentang kesabaran. Mungkin memang Allah Almighty sedang menguji kesabaran gue. Jujur aja ada hal-hal yang sebenernya terlihat sepele tapi itu adalah sebuah beban buat gue. Pandangan bahkan fitnah dari orang-orang yang tidak mengenal gue dari perspektif yang seharusnya (seperti yang ibu gue dan beberapa sohib terbaik gue tahu). Mungkin orang bisa melihat, “Ah, Danang nggak begitu peduli tentang hal itu”. But instead, gue sangat peduli, dan itu membuat gue deperesi. Untuk menutupi kedepresian gue, gue mungkin terlihat bertingkah santai dengan mengacuhkan beberapa hal dan bahkan membuatnya seperti joke. Dan seharusnya, mungkin gue harus bisa lebih bersabar lagi seperti yang Ibu gue bilang. Thanks Mom. This is what I really need right now. I love you ever after.











