Coffee, Wine, Cotton, & Bread

Danang Pramudya’s journey – It is life indeed

Archive for February, 2008

Bedah Kampus UI 2008 in Memoriam

Posted by Danang Pramudya on February 24, 2008

untitled.png

Huarggghhhh!!!!! Akhirnya selesai juga! Beban gue berkurang satu (dan gue siap menambah beban yang baru of course). Yap, perjalanan panjang Bedah Kampus UI 2008 dan peran serta gue di kepanitiaan tersebut menjadi satu catatan menarik dalam hidup gue sampai detik ini. Gue pengen menuliskan petualangan gue di BKUI 2008 sekarang biar perjalanan hidup gue yang satu ini nggak terlupakan begitu saja.

Awal mula…
Gue dihubungin Angki via telepon malam-malam saat lagi holiday di Bandung bulan Agustus 2007. Kata Angki, “Nang, lu mau nggak jadi PJ multimedia Bedah Kampus?” Terus gue jawab, “Multimedia? Paan tuh?” Lalu Angki menjelaskan, walau singkat padat, dan teteup, gue nggak ngerti, kata Angki, yang buat film dan segala macam video buat Bedah Kampus. Gue berfikir, wah film, asik tuh! Lalu Angki merefer gue untuk menghubungi PJ yang mengundurkan diri, namanya Ana (Ow my God!!! Apakah ini Ana yang sama dengan Mariana, sang ibu single fighter dari entertainment itu??), yah pokoknya gue disuruh nelfon dia untuk nanya job desc gue secara lebih jelas. Lalu gue menghubungi Ana, dan Ana merefer gue ke Hagai sang Korbid Acara. Yep, from this part my adventure begins…

Bertemu dengan Hagai…
Jadi gue langsung menuju ke Takor beberapa hari kemudian dan setelah ketemu dia gue langsung mengerti kalo tugas gue bukan cuma buat film doang. Buat website, video jingle, dan lain sebagainya… Dalam pikiran gue, wah, gue terlalu tua dan sibuk untuk mengurus hal sebanyak itu. Hagai bilang kalo awalnya Multimedia gabung sama Desain, namun akhirnya dia mutusin untuk dipisahin. Dan gue hanya bertanggung jawab kepada Hagai. Tapi sampai Hari-H kenapa semua panitia lain menganggap tim Multimedia yang gue bentuk menganggap kita masih gabung sama DPM (even the PO!) Cuma Hagai yang menganggap kita terpisah.. Meski nggak terlalu signifikan, pada awalnya gue agak bingung karena kepada siapa sesungguhnya gue akan mengkoordinasikan pekerjaan gue, Wisnu PJ DPM atau Hagai?

Menghilang selama 2 bulan lebih
Oya, mungkin ketidakeksisan gue selama 2 bulan lebih awal kepanitiaan membuat panitia lain menganggap gue tidak ada (hehehe), dan Wisnu mungkin jadi orang yang kebingungan karena ditanyain mengenai hal-hal yang seharusnya gue kerjakan selama itu. Bad me! Tapi sebenernya gue punya alasan yang kuat tentang ketidak-eksisan gue saat itu. Kehidupan gue hancur lebur berantakan pada masa-masa itu. Gue harus berhadapan dengan masa-masa paling sulit dan berat dalam hidup gue. Keluarga aja sampe gue abaikan, apalagi hal-hal lain. But, perlahan for sure gue mulai membenahi diri. Keluar dari masa-masa hitam gue. Gue mengevaluasi semua hal yang membuat gue sampai sehancur itu. Sempet kepikiran untuk mundur dari BK. Dan gue tanyain kemungkinan itu langsung ke Hagai. Sementara gue berharap gue udah diputihin, tapi Hagai bilang, nggak. Ouch! Tapi ya sudahlah. Dari awal gue sudah menyatakan komitmen gue. Gue harus tuntasin.

Reform the team
Masa come back gue di kepanitiaan dimulai dengan kehirukpikukan gue karena tim gue sudah pranggg!!! Pecah! Satu orang nggak mungkin bekerja sama dengan gue lagi selama-lamanya, dua mengundurkan diri, dan satu lagi harus gue putihin karena dia udah nggak niat lagi kerja sama tim. Cuma Hendrik dan staf istimewa gue sekaligus my best friend ever, Tege, yang masih menunjukkan kesetiaannya sama gue. Thanks the best for them. And I am thankful also to Hendrik yang telah mengenalkan gue kepada Nico dan Yunus, my 2 best persons, more gladful that they both didn’t mind to help the team. Dengan kebolongan disana-sini, dan persiapan yang sangat minim, kita secara express nyiapin materi.

Mulai dengan produksi website yang tidak memuaskan dan gue sama sekali nggak bisa nyalahin siapa-siapa karena kemampuan ngoding gue dan anak-anak yang masih minim, jadi gue harus mengandalkan Tege yang sibuk pacaran bolak-balik ke Bandung, hehehe, sorry Ge. But I’m thankful to him because though it’s not a decent web, but it is exist!

Lalu produksi film Opening dan Closing yang seharusnya dikomandoi oleh tim entertainment, gue take over dengan membuang konsep yang lama. Lalu gue meminta klub film fasilkom, .XML, untuk memproduksi yang baru dengan waktu dan persiapan yang kata mereka, impossible! Ditambah juga, mereka sedang hectic dengan produksi film mereka untuk festival dan CGT. Tapi akhirnya, jadi juga. Salute to them! Ada alasan kenapa gue harus men-take over itu? Pertama, konsep film yang dibuat anak entertainment terlalu expensive (bukan dalam hal budget ya). Melibatkan terlalu banyak casts, peralatan, setting, dan lain-lain. Sebenernya gue nggak masalah dengan itu. Namun melihat ritme kerja mereka yang gue anggap terlalu lambat (sampai memundurkan waktu selama 2 minggu bo! BK 3 minggu lagee!!!!), dan juga pas saatnya harus kerja, mereka tidak full team, alias ada casts yang nggak bisa hadir dan lain sebagainya. I’m so pesimistic and realistic. I’m so sorry to OpClos film team, but you’re so great in D-Day. Walaupun juga ada beberapa pertimbangan pribadi yang menyebabkan gue melepaskan diri dari entertainment. Anak-anak OpClos pasti tahu lah!

Setelah Tim Terbentuk
Mulailah kita membuat semua materi yang jadi tanggung jawab tim. Tim yang baru bener-bener luar biasa. Bergerak dengan kecepatan penuh, di tengah-tengah kesibukan gue dengan pra produksi proyek Starvision, mereka bekerja tanpa komando full dari gue. Untuk hal ini gue harus memberikan pujian luarbiasa kepada Yunus yang sangat lincah (anak fasilkom paling lincah yang pernah gue lihat), karena inisiatif dan gerakan lincahnya, dia berhasil mengkomandoi .XML menyelesaikan film OpClos dan feature kantin tepat waktu. Salute to him!

Menjelang D-Day
Menjelang D-Day, tim disibukkan dengan pekerjaan produksi documentary feature kantin yang walaupun tidak terlalu berat, namun baru jadi jam 2 pagi tanggal 23 februari, alias D-Day. Yep, saat gladiresik, feature kantin belum jadi, testi artis juga belum diedit. Tapi lagi-lagi gue harus berterima kasih kepada Yunus yang telah nginep di kosan gue untuk bantuin gue ngedit, tapi gue malah ditinggal tidur. :p

D-Day
Gue memulai D-Day hari pertama dengan kondisi gue yang baru tidur selama satu jam. Kamera belum dateng. Setting screening jadi terhambat. Pak Mulya yang mukanya agak jutek (sorry :p) nyalahin gue karena nggak disetting dari kemaren. Hal ini menjadi salah satu faktor ngaretnya acara hari pertama. Hari pertama bikin gue bener-bener gugup sepanjang hari. Karena belum terbiasa dengan medan, terus handycam yang sering ditinggal-tinggal sama anak dokumentasi, jadi gue mondar-mandir deh ngurusin handycam kalo ada masalah. But it is not problem at all. Overall, tanggung jawab tim atas screening bisa dikatakan sangat baik. Thanks for the team, especially for Nico yang sudah full seharian ngoperetorin laptop sampe pantatnya jamuran kali ya, duduk mulu! Nico bertekad, hari kedua dia mau lebih santai. I’d dispense it to you, Nick. Hehehe.

Hari kedua ditandai dengan kekesalan gue karena anggota tim yang bertugas ngoperatorin laptop (ngegantiin Nico) baru bangun jam setengah sepuluh. Ow My God! Untung ada Yunus yang okeh! Jai Nico tetep bisa santai (Tapi kenapa dia duduk mulu ya tadi? Katanya mau ngiter nyari cewek, Nick?). Namun Akhirnya, si operator datang juga, pukul setengah dua. Sebenernya gue pengen marah-marah tuh. Tapi gue introspeksi diri secara mendadak. Gue nyadar, gue juga nggak jauh beda kok. Terus gue akhirnya bisa merasakan perasaan Anggoro, bos gue, headwriter di Starvision, yang sering kesel sama gue gara-gara gue selalu nggak pernah bisa nepatin waktu dan jadwal pengiriman naskah. I’m sorry Mas Ang… :( Satu omelan Anggoro yang terngiang di kepala gue saat itu, “Nang, dalam pekerjaan, omongan tuh harus bisa lu pegang. Kalo lu nggak sanggup, bilang dari awal, kan gue nggak akan minta tolong sama lu kalo gitu. Bukan di kerjaan doang, di semua kehidupan lu” Emailnya masih saya simpen kok Mas… :p Tapi beliau selalu memberikan gue kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengembangkan kemampuan gue sampai detik ini. Jadi hal itu yang gue pegang saat itu. Marah-marah dan ngomel-ngomel nggak akan nyelesein masalah. Selalu memberikan kesempatan kedua, ketiga, keempat, sampai tak terhingga adalah jawaban yang paling tepat.

Intinya di hari kedua masalah utama adalah kamera. Bukan teknis multimedia sih, tapi berhubung kamera itu nyambungnya ke layar, terus batere cuma dua, ditambah anak dokumentasi yang sering ngiter dan secara teknis nggak terlalu bisa mengatasi masalah handycam, gue deh yang turun naik gunung bolak-balik ngoperasiin handycam yang sering bermasalah tersebut. Terus apalagi yah, semua lancar kok. Tapi gue pribadi lebih menyukai acara hari pertama, hihihi.

Overally, selama 2 hari pelaksanaan D-Day gue memberikan standing aplause dan salute to Nico dan dedikasinya yang tulus ditambah kemampuan teknisnya (switcher operation, laptop operation) serta logistiknya (laptop, mouse, sampe keyboard fancy-nya). Serta satu-satunya anak yang bener-bener merhatiin rundown dengan serius dan detail (sampe distabilo-in bo!). He is Multimedia MVP along D-Days.

The Best Thanks
All the best thanks for the members of my team. Hendrik for the loyalty and his care to me :p, Yunus for his best coordination preparing the material, Adi for his appearance in video, I know, it makes you tired and darker :p, Nico, my D-Days MVP, and Tege, to the support and web. Gue bener-bener appreciate temen-temen semua. Semoga kepanitiaan ini bisa membuat kita menjadi lebih baik dalam segala hal karena pelajaran yang kita telah kita dapetin selama perjalanan. Kita bisa lebih saling menghargai sesama temen, waktu, saat-saat kebersamaan, kerja keras, tanggung jawab, kerja sama, kekurangan dan kelebihan masing-masing, semuanya lah yang kita dapetin. Bagi yang bener-bener menyelami itu, pasti elo semua ngerasa banget pelajaran apa yang kita dapetin. Semoga bisa menjadi pelajaran dan guru yang berharga bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amien! I’m glad to work with you, guys! Dan kepada seluruh teman-teman panitia BKUI 2008, para BPH, dan operator Balairung, nggak lupa gue juga ngucapin terima kasih banyak. Buat Ana yang ngebantu tim untuk ngedatengin WUlandra, gue juga terima kasih banget. Inget Na, lu cuma bisa kelihatan keren kalo fotonya di samping gue, secara gue model gitu loh, hehehe. Buat Hagai dan Filipus yang sangat, sangat sabar kepada gue, Thanks alot. Congratz for u both, acaranya sukses bangeddd!!! Seperti biasa, semua kegiatan kepanitiaan yang pernah gue ikutin, pasti selalu berakhir dengan kesedihan. Tanya kenapa!!!

Posted in Curhat, Jurnal Hari Ini | Leave a Comment »

Next Show: Bedah Kampus UI 2008

Posted by Danang Pramudya on February 22, 2008

bedahkampusui08da0.jpg

Posted in News | Tagged: , , | Leave a Comment »

Love is About

Posted by Danang Pramudya on February 21, 2008

(The journal of 03 January 2008)

I just realized something. It is about love. Love is cinta, yeah, gue tahu banget. Nggak perlu penjelasan panjang dari Hanny Saputra in his latest corny movie, gue udah tahu kalo love itu bahasa inggrisnya “cinta”. Tapi hal apa yang baru gue sadari tentang cinta?

I realized that Love is about one thing.

Love is about disowning.

broken-heart-pictures-d1.jpg

Tahu nggak apa yang gue maksud? Semua orang tentu pernah denger a cliche clause bahwa cinta tidak harus memiliki. Ada juga yang pernah ngomong ke gue bahwa that clause is BULLSHIT. Kata dia, kalo kita mencintai seseorang atau sesuatu, we have to pay so much effort to get and have it. But what i realized is not about the contradiction of that clause. It’s only about disowning. Mutlak! Cinta adalah tentang melepaskan apa yang kita miliki. CInta itu tidak memiliki.

Mengapa?

This is about what true love means. Sepanjang yang gue amati dan gue dapati dari cerita-cerita orang yang deket sama gue, dan juga pengalaman gue sendiri, gue dan juga orang-orang itu menyatakan bahwa mereka tidak memiliki cinta mereka yang paling dalam. Orang-orang yang deket sama gue itu adalah orang-orang yang saat ini sudah berumah tangga, atau orang yang ditinggalkan kekasih mereka, baik itu putus atau takdir ilahi. Include me. I have loved this person is about 3 years evenly, dan bagi gue itu waktu yang sangat panjang. Dia cinta paling dalem gue. Belum pernah gue mencintai orang sedalem ini. Tapi apa yang terjadi sama hubungan kami? Gue memutuskan untuk melepas dia. Bersama dengannya hanya menyiksa perasaan gue dan dia. Gue menutup mata hati gue untuk yang lain, mengorbankan apa yang seharusnya baik bagi gue dan dia, dan membuat dirinya menjadi bukan dirinya. Gue nggak mau menjadi orang yang membawa pengaruh yang nggak baik buat dia, karena cuma satu yang gue harapin, dia bahagia dengan kehidupannya dengan atau tanpa gue di sisinya. Tapi yang terbaik adalah dia bahagia tanpa gue.

Sometimes i just wonder, apa dia juga ngerasain apa yang gue rasain? Cinta sedalam ini? Sehingga sejuta mawar indah yang ada di depan gue, yang menghamburkan aroma memikat, menjadi hambar dan nggak mampu membuat gue excited. Karena buat gue, dia yang paling sempurna. Menyakiti perasaan dia walau cuma sedikit menorehkan luka menganga di hati gue. Buat dia down walau cuma sedikit, mengantarkan sebuah hantaman yang menyakitkan di ulu hati gue. I am wondering now, apa gue akan menemukan rasa lain yang sedalam atau bahkan lebih dalam daripada ini di kemudian hari? It is still question in my deepest heart.

I am not a perfect guy. Bohong besar kalau gue bilang, gue nggak mengharapkan apapun darinya, bullshit kalau gue bilang, gue nggak mau melihat dirinya berubah. But it is such an impossible thing i wish. Kepala gue cuma berisi wishful thinking yang nggak pernah ada habisnya tentang dia. Gue sadar, gue nggak akan pernah melihat dia memberikan apa yang gue harapin darinya, dan gue juga nggak akan pernah mampu merubah dirinya.

Hey, that is not actually my point.

Sebelumnya saat sebelum gue pengen nulis ini, pikiran gue tentang cinta adalah bukan hanya tidak memiliki, namun melepas apa yang kita miliki. Bukan tentang orang-orang yang tidak memiliki orang yang mereka sangat cintai, melainkan hal-hal lain yang harus mereka lepas untuk memiliki atau tidak memiliki orang yang mereka cintai. They have their love indeed, those feelings, that taste, perasaan gelisah, senang, sedih, dan sakitnya mencintai orang yang mereka cintai. Tetapi kalau berbicara tentang bagaimana harus memiliki ORANG yang mereka cintai, menjadi hal lain yang esensinya ada pada pikiran yang hendak gue tuangkan di tulisan ini.

They own their love feeling indeed, but they should disown anything, include the one they love. Kayaknya gue makin ngelantur. Yah tapi hal ini semua yang ada di dalam otak dan hati gue sekarang. Ketika kita mencintai seseorang dengan dalam, ada bagian dalam diri kita yang ingin memiliki orang yang kita cintai itu sepenuhnya. Tapi kalau kita berpikiran demikian, secara nggak kita sadari, hanya ego yang bermain di sini. Ketika kita mencintai orang lain, kita harus siap melepas apa yang kita miliki. Karena itu yang terbaik untuk kita. We just GIVE our best to love the one we love without ask anything in return. We just DISOWN ours to get the best of us. About apakah kita pada akhirnya akan memiliki orang yang kita cintai atau tidak, trust me, it is the best for us. At least, we have disowned anything should be disowned. And it proves that our love is true.

Posted in Curhat | 4 Comments »

Screamfestindo Experience

Posted by Danang Pramudya on February 21, 2008

(The Journal of 5 December 2007)

header.png

It is tasted like coca cola…

Telah berlalu masa-masa itu. Salah satu masa terbaik dalam hidup gue. Yup, menjadi Festival Volunteer. Screamfestindo 2007 menurut gue adalah sebuah festival film yang pelaksanaannya cukup sukses. Karena gue gitu loh volunteernya, hehehe.. Ngga deng. Emang sebenernya penyelenggaraan festival ini idenya brilian banged.

Nih ya, Screamfestindo adalah festival film bergenre (katanya). Genrenya adalah Fantastic Film. Nah apa aja yang termasuk genre film fantastic? Ya itu dia, sesuai namanya, genre yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah Horror, Thriller, Fantasy, Sci-Fi, dan Animation (tapi sayang film animasinya cuma atu!). Lebih condong ke film horror dan thriller or suspense lah. Secara orang Indonesia demen banged yang namanya film horror dan thriller gitu. Makanya produser-produser sekelas Shankar RS dan teman-temannya nggak bosen-bosen bikin film horror bobrok.

But in this festival, film-filmnya lumayan terseleksi kok. Buktinya mereke bisa mendapatkan film El Orfanato (Bahasa Om Beckham-nya “The Orphanage”) , trus film fantasi paling cool yang pernah gue tonton, “The Fall”, sama film-film bagus dari mancanegara lainnya seperti The House (Thailand), Malefique (French), Cold Prey (Norway), Vexille (Japan), etc. Terutama Vexille, film ini keren banged. Film animasi paling keren yang pernah gue tonton. Cinta mati deh gue sama Screamfest tahun ini (bukan karena gue dibayar lho, :p)

Anyway, gue berharap tahun depan festival ini muncul lagi. Dan kalo nanti gue diminta jadi volunteer lagi, gue akan sangat senang menerimanya. Hahahaha…! Missing my team so much.. T_T

Posted in Jurnal Hari Ini | Leave a Comment »